Roblox: Mencerdaskan atau Menjerumuskan?
Oleh: D’ Safira
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Anak-anak masa kini banyak yang kecanduan bermain gim. Data menunjukkan bahwa pada 2024 Indonesia tercatat sebagai negara dengan pasar gim daring terbesar ketiga di dunia. Berdasarkan penelitian Data.ai, jumlah unduhan gim daring di Indonesia mencapai 3,45 miliar (SindoNews.com, 8 Juni 2024). Fakta ini menegaskan betapa besar pengaruh industri gim terhadap kehidupan generasi muda. Salah satu gim yang viral dan digemari saat ini adalah Roblox.
Roblox merupakan platform permainan daring sekaligus sistem pembuatan gim global yang memungkinkan pengguna memainkan jutaan permainan 3D imersif buatan komunitas serta menciptakan gim mereka sendiri menggunakan Roblox Studio. Gim ini sering dianggap edukatif karena memberi ruang kreativitas bagi anak-anak untuk berimajinasi dan berkreasi. Namun, di balik citra edukatif tersebut, Roblox dinilai memiliki sisi yang perlu diwaspadai. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, bahkan melarang anak-anak memainkannya. Gim ini disebut memuat adegan kekerasan, konten berbau pornografi, sadisme, horor, pergaulan bebas, hingga inses (Dinas Kominfo Jatim, 11 Agustus 2025). Fakta ini menunjukkan bahwa Roblox tidak sepenuhnya aman bagi anak-anak dan berpotensi memengaruhi pola pikir serta perilaku mereka.
Lebih mengejutkan lagi adalah jawaban CEO sekaligus pendiri Roblox, David Baszucki, ketika ditanya mengenai hal tersebut, “Jika orang tua tidak nyaman, jangan izinkan anak-anak bermain gim” (cnnindonesia.com, 10 Februari 2026). Pernyataan ini terkesan lepas tangan, seolah tidak ada tanggung jawab moral terhadap dampak buruk yang mungkin dialami jutaan anak pengguna Roblox. Sistem tetap dijalankan meski rawan disusupi konten berbahaya selama masih menghasilkan keuntungan.
Hal ini dinilai mencerminkan sistem kapitalisme yang menjadikan kebebasan sebagai nilai tertinggi. Perlindungan terhadap anak bukan prioritas utama karena prinsipnya, selama pasar masih menikmati dan keuntungan tetap mengalir, konten apa pun akan terus eksis. Negara kapitalis diposisikan sebagai fasilitator pasar, sementara moral dan pendidikan anak dikesampingkan. Sanksi yang diterapkan pun kerap lemah, sering kali hanya berupa teguran, denda, atau pemblokiran sementara, dan jarang menyentuh perusahaan besar atau platform global. Akibatnya, paparan konten dewasa dan kekerasan dinilai masih dapat diakses, sementara pendidikan yang benar tidak diberikan secara optimal.
Berbeda dengan Islam. Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya, termasuk melindungi generasi dari berbagai bentuk penyimpangan dan kemaksiatan. Pemerintah akan memfilter secara ketat konten berbau pornografi dan kekerasan agar tidak tayang di platform mana pun. Sanksi yang diterapkan juga tegas karena pornografi termasuk fahisyah atau perbuatan keji, dengan hukuman berupa ta’zir yang disesuaikan dengan tingkat kerusakannya. Semua ini diyakini hanya dapat terwujud dalam negara yang berlandaskan akidah Islam, yakni Khilafah Islamiyah, yang menjadikan pendidikan berbasis iman sebagai fondasi utama, bukan kebebasan tanpa batas.
Dengan demikian, Roblox hanyalah salah satu contoh bagaimana sistem kapitalisme dipandang membiarkan generasi muda terpapar konten berisiko demi keuntungan pasar. Islam menawarkan solusi yang dinilai lebih manusiawi dan beradab: negara hadir sebagai pelindung, memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang bersih dari pornografi, kekerasan, dan kerusakan moral. Pendidikan berbasis akidah Islam diyakini mampu mencerdaskan generasi, bukan menjerumuskan mereka. [My/En]
Baca juga:
0 Comments: