Oleh: Indri Wulan Pertiwi
(Aktivis Muslimah Semarang)
SSCQMedia.Com—Setahun bukan sekadar angka di kalender. Bagi saya, 365 hari terakhir adalah sebuah sunyi yang memaksa. Sebagai seorang yang terbiasa merangkai kata untuk menyuarakan keresahan, melewati waktu yang begitu lama tanpa menyentuh pena merupakan luka tersendiri. Bukan karena ide-ide itu menguap, melainkan karena raga saya terpaksa menyerah oleh sakit, sehingga memaksa saya masuk ke dalam masa hiatus yang tidak pernah saya rencanakan. Di titik terendah itu, saya menyadari betapa ringkihnya manusia di hadapan ketetapan-Nya.
Ada rasa sedih yang menyayat saat melihat berbagai isu besar dunia dan umat berlalu di depan mata tanpa sempat saya ulas. Ada pula rasa sesak setiap kali menyaksikan ketidakadilan, namun jemari ini hanya mampu diam karena keterbatasan fisik. Dunia seolah terus berputar dengan riuh, sementara saya tertahan dalam hening yang panjang. Di tengah kondisi fisik yang payah itu, saya mencoba menarik kekuatan dari hadis Rasulullah ï·º yang menyebutkan bahwa setiap keletihan atau penyakit yang menimpa seorang Muslim akan menjadi jalan bagi Allah untuk menghapuskan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daun keringnya (HR. Bukhari dan Muslim).
Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa sakit hanyalah cara Allah mengistirahatkan saya dari riuh dunia yang sering kali melalaikan. Ia menjadi madrasah yang sangat sunyi, tempat saya belajar kembali tentang hakikat pengabdian. Allah mengajarkan bahwa setiap kata yang kelak saya tuliskan adalah nikmat kesehatan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Hiatus selama setahun terakhir bukanlah waktu yang terbuang sia-sia. Ia adalah proses pengendapan jiwa agar lebih murni. Dalam masa istirahat itu, saya memiliki waktu untuk mengevaluasi niat, menumbuhkan empati yang lebih dalam, serta membangun perspektif yang lebih jernih dalam memandang setiap penderitaan yang terjadi di luar sana.
Kini, saat raga mulai pulih, muncul bisikan keraguan yang lumrah dialami oleh setiap penulis yang lama menepi. “Masihkah tulisanku setajam dulu? Masihkah ada ruh dalam setiap kalimatku setelah sekian lama membisu?” Jujur saja, jemari ini terasa kaku saat kembali menekan papan tik. Ternyata, jeda yang terlalu lama tidak hanya melemahkan fisik, tetapi juga membuat mental kepenulisan saya perlu dipantik ulang agar tidak terasa canggung.
Membangkitkan semangat menulis pasca-sakit memang tidak semudah membalik telapak tangan. Namun, saya teringat akan firman Allah, “Nuun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan” (QS. Al-Qalam: 1). Ayat ini seolah menegur saya bahwa pena adalah amanah besar yang tidak boleh dibiarkan tumpul oleh keraguan. Ada tanggung jawab besar di balik setiap goresan tinta yang dihasilkan. Tulisan bukan sekadar rangkaian alfabet, melainkan perpanjangan tangan dari keyakinan dan prinsip hidup.
Dari semua yang terjadi, saya juga menyadari bahwa menyuarakan kebenaran merupakan salah satu terapi terbaik bagi jiwa. Hal itu terbukti ketika satu paragraf yang selesai saya ketik hari ini terasa seperti kemenangan besar atas rasa sakit yang sempat membelenggu. Oleh karena itu, selama hukum Allah belum diterapkan, selama ketidakadilan masih nyata, selama kaum lemah masih membutuhkan pembelaan, dan selama umat masih memerlukan pencerahan, maka alasan saya untuk menulis akan selalu ada. Semangat itu tidak pernah mati. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali berkobar.
Bukankah Rasulullah ï·º pernah berpesan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Melalui tulisan, saya ingin kembali mencoba mengambil peran kebermanfaatan itu, meskipun sekecil apa pun dampaknya.
Untuk teman-teman yang mungkin masih berjuang dalam jeda panjang, entah karena sakit, lelah, atau beban hidup lainnya, pesan saya hanya satu: jangan pernah biarkan pena kalian patah. Simpanlah ia sejenak jika memang harus, tetapi jangan pernah membuangnya. Masa jeda adalah waktu bagi busur panah untuk ditarik ke belakang sejauh mungkin agar saat dilepaskan nanti, ia dapat melesat lebih kuat dan lebih jauh. Yakinilah janji-Nya dalam Surah Al-Insyirah bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Hari ini, dengan bismillah, saya mencoba mengetik lagi. Bukan karena saya merasa sudah sangat kuat, melainkan karena saya rindu pada perjuangan ini. Saya kembali bukan untuk membuktikan siapa yang paling hebat, tetapi untuk menunaikan janji. Selama napas masih ada, pena ini akan tetap bicara, meskipun harus dimulai dengan langkah yang tertatih. Bukankah sejarah tidak ditulis oleh mereka yang berhenti, melainkan oleh mereka yang terus berjalan meski dalam kepayahan?
Selamat datang kembali, wahai jemari. Mari kita mulai lagi.
Wallahu a’lam bish-shawab. [Rn/Iwp]
Baca juga:
0 Comments: