Headlines
Loading...

Oleh: Ary 
(Aktivis Dakwah Muslimah) 

SSCQMedia.Com—Seorang guru Bahasa Inggris SMK Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra dikeroyok siswanya. Aksi ini viral di medsos dengan durasi 58 detik. Ia mengalami memar di wajah dan bagian tubuh lainnya. Kejadian itu terjadi pada hari Selasa, 13 Januari 2026 pagi, saat kegiatan belajar berlangsung.

Kejadian berawal dari teguran siswa di kelas saat proses belajar berlangsung. Di mana seorang siswa menegur Agus dengan tidak hormat dan tidak sopan. Tetapi teguran itu memantik emosinya. Suasana kelas memanas, sang guru tersungkur dikeroyok muridnya (detiksumbagsel, 14/1/2026).

Namun berbeda ceritanya dengan siswa yang mengungkapkan keresahan yang selama ini dia pendam bahwa sang guru kerap berbicara kasar. Menghina siswa dan orang tua dengan kata-kata miskin dan bodoh. Keresahan itu akhirnya meledak dengan luapan kekerasan.

Kasus guru yang dikeroyok ini tidak bisa dilihat sebagai persoalan emosi semata, tapi ini mencerminkan kegagalan sistem pendidikan yang terlalu sibuk mengejar angka, nilai, dan peringkat. Prestasi akademi dijadikan keberhasilan utama. Sementara adab, akhlak, dan kepribadian menjadi pelengkap saja. Akibatnya relasi guru dan murid kehilangan makna. Di mana teguran dianggap menghina dan menjadikan emosi.

Inilah hasil dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik, di mana pendidikan dijadikan alat untuk mencetak tenaga kerja demi kebutuhan pasar. Dan ketika agama disingkirkan, pendidikan menjadi kehilangan arah tujuan dan kehilangan batas. Selama pendidikan masih dibangun di atas sistem kapitalisme yang miskin adab dan moral, maka konflik yang sama akan terus berulang.

Butuh perubahan mendasar secara sistem agar pendidikan kita berubah. Indonesia perlu menengok pendidikan yang dicontohkan oleh suri teladan umat, yaitu Rasulullah saw.. Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tapi bagaimana menjadikan manusia beradab. 

Rasulullah saw. menegaskan misi utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Hal tersebut menjadi fondasi pendidikan Islam. Ilmu tidak berdiri sendiri, tapi dibimbing dengan iman dan adab. Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid diajarkan memuliakan guru sebagai bentuk ketaatan pada Allah. Sementara guru diposisikan sebagai pendidik dengan kasih sayang, bukan dengan hinaan dan kekerasan verbal. Relasi guru dan murid dibangun di atas cinta terhadap ilmu, bukan ketakutan. Guru bukan hanya pelaksana kurikulum, tapi figur yang harus dihormati.

Negara bertanggung jawab memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Kurikulum disusun bukan untuk memenuhi keinginan pasar tenaga kerja, tapi membentuk kepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap islami. Setiap mata pelajaran diarahkan bagaimana memahami hidup, tujuan penciptaan, dan tanggung jawab sebagai hamba Allah Swt..

Sistem pendidikan berbasis Islam perlu untuk segera diwujudkan. Mengingat semakin hari output pendidikan kita semakin rusak. Baik guru maupun murid perlu segera dibenahi. Negara harus segera mengambil peran untuk menerapkan sistem Islam. Karena sebaik apa pun manusia, dalam hal ini guru, ia tetap tersandera dalam sistem aturan. [Ni/UF]

Baca juga:

0 Comments: