Headlines
Loading...

Oleh: Ummu Fahhala, S.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

SSCQMedia.ComLangkah strategis pemerintah Korea Selatan melalui Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan bersama Korea Agro-Fisheries & Food Trade Corporation dalam ajang Bandung International Food & HoReCa Expo 2026 menunjukkan satu pesan kuat, yaitu pasar muslim Jawa Barat telah menjadi magnet ekonomi global. Kehadiran mereka bukan sekadar memamerkan produk, tetapi membaca peluang, membawa agenda ekspansi, serta menargetkan konsumen muslim yang besar dan loyal. Fakta ini menegaskan bahwa kekuatan umat kini diakui dunia sebagai potensi ekonomi yang signifikan (jakarta.suaramerdeka.com, 14 Februari 2026).

Pengakuan global tersebut tentu membanggakan karena pasar muslim tidak lagi dipandang kecil atau berada di pinggiran ekonomi. Namun, kebanggaan itu harus diiringi kesadaran kritis bahwa pasar yang besar selalu menarik kekuatan modal. Konsumen yang loyal mengundang strategi penetrasi, sedangkan label halal yang dipercaya dapat memicu eksploitasi industri. Di titik inilah umat perlu bersikap waspada agar tidak sekadar menjadi objek perhitungan keuntungan.

Para pakar ekonomi syariah mengingatkan bahwa modal besar kerap menjadikan identitas umat sebagai pintu masuk meraih laba. Pasar muslim dibaca sebagai potensi finansial, bukan sebagai komunitas yang memiliki nilai spiritual. Akibatnya, orientasi bisnis lebih menekankan keuntungan dibandingkan keberkahan. Kondisi ini menuntut refleksi agar pertumbuhan pasar tidak menggerus makna nilai yang seharusnya dijaga.

Dalam sistem kapitalisme sekular, laba menjadi tujuan utama sehingga populasi dipandang sebagai angka dan iman dibaca sebagai peluang pasar. Industri halal berkembang dengan orientasi keuntungan melalui sertifikasi sebagai strategi bisnis dan label sebagai alat promosi. Dampaknya, nilai ketaatan perlahan bergeser menjadi instrumen perdagangan. Semakin religius pasar, semakin agresif industri membidik konsumen.

Kapitalisasi halal melahirkan paradoks karena halal yang semestinya menjaga kesucian konsumsi dipersempit menjadi standar teknis produksi. Ruh keberkahan memudar, etika ekonomi melemah, dan kemandirian umat terancam. Pasar memang tumbuh pesat, tetapi pertumbuhan itu tidak otomatis memperkuat posisi umat sebagai pelaku utama ekonomi. Tanpa kesadaran nilai, umat berisiko hanya menjadi pasar yang empuk bagi kepentingan modal.

Islam sejatinya memuliakan aktivitas ekonomi yang bersih dan bermartabat, bukan sekadar berorientasi keuntungan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 172 agar kaum beriman mengonsumsi rezeki yang baik, yang menunjukkan bahwa konsumsi tidak hanya halal secara formal, tetapi juga baik dan membawa keberkahan. Rasulullah saw. pun menegaskan bahwa Allah itu baik dan menyukai kebaikan, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim. Prinsip ini menempatkan moralitas sebagai fondasi ekonomi.

Pada masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin, pasar berfungsi sebagai ruang keadilan sosial karena negara mengawasi kecurangan, umat menjaga kejujuran, dan pedagang mengutamakan amanah. Tidak ada eksploitasi identitas maupun komersialisasi nilai iman. Halal hadir sebagai penjaga syariat yang memastikan keadilan dan keberkahan dalam transaksi. Teladan sejarah ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan penjagaan nilai.

Karena itu, solusi Islam bukan menutup diri dari arus global, melainkan menata ulang orientasi ekonomi agar berpijak pada nilai. Negara perlu menguatkan industri halal lokal supaya tidak menjadi penonton di pasar sendiri. Umat harus diedukasi agar memilih produk berdasarkan nilai, bukan hanya label. Selain itu, kebijakan ekonomi hendaknya diarahkan pada kemandirian dan keberkahan, bukan semata pertumbuhan konsumsi.

Ketertarikan dunia terhadap pasar muslim Jawa Barat merupakan fakta zaman yang tidak dapat diabaikan. Namun, umat tidak boleh berhenti sebagai objek penjualan dan target strategi bisnis. Umat harus bangkit sebagai pelaku ekonomi bernilai yang memimpin pasar dengan etika. Dengan demikian, pasar umat tidak hanya ramai oleh transaksi, tetapi juga subur oleh nilai dan keadilan. [My/WA]

Baca juga:

0 Comments: