Headlines
Loading...
Murid SD Bunuh Diri, Sinyal Kerusakan Sistem

Murid SD Bunuh Diri, Sinyal Kerusakan Sistem

Oleh: Nurul Lailiya
(Aktivis Muslimah)

SSCQMedia.Com—YRB, siswa sekolah dasar berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia di sebuah pohon cengkih pada Kamis, 29 Januari 2026. Ia merupakan siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Tirto.id edisi 4 Februari 2026 menyebutkan bahwa dugaan penyebab peristiwa tragis ini berkaitan dengan ketidakmampuan membeli pena dan buku untuk sekolah.

Fakta tersebut menyisakan kepedihan mendalam. Buku dan pena, yang semestinya menjadi kebutuhan dasar pendidikan, ternyata masih terasa berat bagi sebagian masyarakat. Hal ini menunjukkan masih adanya keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas hingga kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan anak.

Pada usia 10 tahun, kondisi emosional anak masih rentan. Perasaan berbeda atau tertinggal dari teman sebaya dapat menjadi beban psikologis. Informasi yang beredar juga menyebutkan adanya tunggakan biaya sekolah sekitar Rp720.000 yang belum terbayar. Pihak sekolah dikabarkan beberapa kali mengingatkan agar tunggakan tersebut segera dilunasi.

Beban itu tentu sangat berat bagi seorang anak seusia sekolah dasar. Dalam usia yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain, ia justru dihadapkan pada persoalan ekonomi dan tanggungan biaya. Tragedi ini menjadi peringatan bahwa anak-anak membutuhkan perlindungan dan pendampingan yang kuat dari keluarga, sekolah, dan negara.

Anak adalah tanggung jawab orang tua. Ia membutuhkan keluarga yang dibangun di atas akidah yang kokoh, komunikasi yang hangat, dan dukungan emosional yang memadai. Ibu diharapkan menjadi sosok yang mampu menghadirkan rasa aman sehingga anak tidak ragu menceritakan kesulitan yang dihadapi. Ayah sebagai kepala keluarga berkewajiban memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan anggota keluarganya.

Agar keluarga mampu menjalankan fungsi tersebut, diperlukan dukungan sistemik, termasuk ketersediaan lapangan kerja dengan upah yang layak. Negara memiliki peran strategis dalam mengelola sumber daya alam serta membuka kesempatan kerja bagi rakyatnya. Dengan pengelolaan yang tepat dan berkeadilan, kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan sehingga kebutuhan dasar, termasuk pendidikan, tidak menjadi beban berat.

Sebagian kalangan menilai bahwa persoalan ini tidak lepas dari tata kelola negara yang berlandaskan sistem kapitalisme sekuler. Sistem tersebut dipandang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik serta berorientasi pada asas manfaat ekonomi. Dalam praktiknya, kebijakan dinilai sering kali lebih menitikberatkan pada keuntungan dan efisiensi daripada perlindungan menyeluruh terhadap rakyat.

Dalam pandangan Islam, aturan Allah Swt. dijadikan pedoman dalam mengatur kehidupan. Pemerintah diposisikan sebagai raa’in atau pengurus dan junnah atau pelindung rakyat. Karena itu, kesejahteraan, kesehatan, dan keselamatan warga menjadi tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Konsep pemerintahan Islam atau khilafah diyakini sebagian kalangan sebagai sistem yang mampu mengelola kekayaan alam secara optimal untuk kepentingan rakyat. Dengan wilayah yang luas dan sumber daya melimpah, negara dinilai dapat menyediakan layanan pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara memadai. Pengelolaan tersebut diutamakan oleh warga sendiri agar kesempatan kerja terbuka luas dan pengangguran dapat ditekan.

Apabila kepala keluarga memiliki penghasilan yang layak, ibu dapat fokus menjalankan peran sebagai pendidik pertama dan utama di rumah. Penanaman akidah sejak dini akan membentuk pemahaman bahwa setiap manusia adalah hamba Allah Swt. yang terikat pada aturan-Nya dan kelak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Tragedi ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas. Diperlukan sinergi keluarga, masyarakat, dan negara untuk memastikan tidak ada lagi anak yang memikul beban di luar kemampuannya. Sebab, generasi yang sehat secara lahir dan batin adalah fondasi masa depan yang lebih baik. [US/Wa]

Baca juga:

0 Comments: