Headlines
Loading...
Alam Kembali Berguncang, Alarm bagi Manusia

Alam Kembali Berguncang, Alarm bagi Manusia

Oleh: Hana Salsabila A.R.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Sejak awal tahun, negeri ini terus dilanda musibah dan bencana. Setelah bencana besar melanda Pulau Sumatera, bencana serupa terjadi di pulau-pulau lainnya. Ironisnya, dampak musibah di Sumatera pun belum sepenuhnya pulih. Masih banyak wilayah terdampak serta fasilitas publik yang rusak dan belum diperbaiki secara menyeluruh, meskipun bantuan diklaim telah digelontorkan.

Selain Sumatera, sejumlah daerah lain juga berstatus siaga bencana banjir dan longsor, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, dan Sulawesi. Bahkan, beberapa wilayah telah terdampak secara langsung. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama periode 1 hingga 25 Januari 2026 tercatat 128 kejadian banjir dan 15 kejadian tanah longsor di Indonesia. Sebanyak 53 orang dilaporkan meninggal dunia, 2 orang hilang, dan 1.510 orang mengalami luka-luka (Databooks.katadata.com, 26/01/2026).

Banjir dan longsor yang kian masif dan merata menunjukkan dampak dari aktivitas manusia, meskipun faktor alam seperti tingginya curah hujan turut berpengaruh. Pembalakan hutan, alih fungsi lahan, penumpukan sampah, hingga penambangan liar menjadi faktor yang memperparah risiko bencana.

Salah satu contoh terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Aktivitas penambangan di sekitar Gunung Slamet, seperti tambang batu granit di Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, serta galian pasir di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, disebut telah berlangsung selama hampir empat tahun menurut keterangan warga setempat. Kondisi tersebut dinilai memperbesar risiko terjadinya banjir bandang dan longsor.

Kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia kerap dikaitkan dengan dorongan kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Sistem kapitalisme dinilai memberi ruang luas bagi eksploitasi sumber daya alam dengan dalih kepentingan bisnis tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Peristiwa serupa juga terlihat saat banjir di Sumatera menyeret gelondongan kayu yang diduga berasal dari aktivitas penebangan. Hal ini memunculkan kritik terhadap lemahnya pengawasan dan penindakan terhadap perusakan lingkungan.

Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kerusakan yang terjadi tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Allah tidak melarang manusia memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, tanpa aturan dan batasan yang jelas, manusia cenderung terjerumus pada sikap serakah. Dalam sistem yang berorientasi pada keuntungan sebesar-besarnya, eksploitasi kerap dianggap wajar selama mendatangkan manfaat ekonomi.

Allah Swt. juga berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ۝٧٧

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu pahala negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77).

Islam mengatur kehidupan manusia agar selaras dengan penjagaan terhadap alam. Islam dipahami sebagai junnah, yakni pelindung, yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Dengan penerapan nilai-nilai Islam, diharapkan alam tetap terjaga dan manusia terlindungi dari dampak kerusakan yang ditimbulkannya sendiri.

Dengan demikian, bencana yang terus berulang seharusnya menjadi alarm bagi manusia untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap cara mengelola alam. Tanpa perubahan paradigma dalam memandang lingkungan, kerusakan akan terus terjadi dan dampaknya akan kembali dirasakan oleh manusia itu sendiri. Wallahu a’lam. [US/Wa]

Baca juga:

0 Comments: