Oleh: Naila Dhofarina Noor
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Di awal tahun ini, dunia pendidikan masih diselimuti berbagai persoalan. Salah satunya terjadi di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Sampang, Madura. Sebagaimana diberitakan oleh sejumlah media daring, seperti detik.com dan detik.news pada 20 Januari 2026, sekolah yang terdata dalam Dapodik tersebut menjadi sasaran pengantaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemberian smart panel sebagaimana sekolah lainnya.
Namun, saat sekolah itu dikunjungi Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Moh. Yusuf, ditemukan fakta mengejutkan. Tidak ada satu pun siswa yang hadir dan tidak terdapat kegiatan belajar mengajar, padahal secara administrasi sekolah tersebut tercatat memiliki 33 siswa.
Persoalan tidak berhenti di situ. Hal lain yang turut memantik keprihatinan publik adalah adanya oknum di sekolah tersebut yang memanfaatkan fasilitas smart panel untuk kepentingan di luar pembelajaran. Fasilitas itu digunakan untuk menonton hiburan sambil merokok. Video kejadian tersebut kemudian viral di media sosial dan menuai kecaman masyarakat.
Program Pendidikan yang Minim Visi Pendidikan
Kasus salah sasaran MBG ini menambah daftar panjang persoalan dalam pelaksanaan program tersebut. Sejak awal, banyak pemerhati dan pakar pendidikan yang mempertanyakan program MBG, terutama karena pendanaannya diambil dalam jumlah besar dari alokasi dana pendidikan.
Dalam praktiknya, program ini justru tampak lebih menguntungkan para pemasok bahan MBG, tenaga kerja MBG, dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Sekilas, program ini terlihat sebagai solusi penyediaan lapangan kerja di tengah sulitnya kondisi ekonomi. Namun, di sisi lain, banyak kebutuhan utama pendidikan yang justru terpinggirkan demi menjalankan program tersebut.
Pertanyaannya, apakah program ini benar-benar menopang visi pendidikan untuk membentuk generasi unggul dan calon pemimpin peradaban? Hingga kini, belum ada laporan yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan akademik siswa akibat pemberian MBG. Yang terlihat justru peningkatan kesejahteraan dan jenjang karier tenaga MBG, sementara kesejahteraan guru masih stagnan dengan jalur yang tidak jelas.
Tidak tepatnya sasaran MBG menunjukkan lemahnya ketelitian dalam pendataan sekolah dan jumlah siswa. Hal ini diperparah dengan minimnya visi dalam pelaksanaan program, sehingga terkesan asal pengantaran selesai. Di sisi lain, pihak sekolah yang tidak jujur dalam memberikan data juga turut memperburuk keadaan. Kurangnya komunikasi antara dapur MBG dan pihak sekolah semakin menunjukkan rapuhnya tata kelola program ini.
Pemanfaatan smart panel yang tidak semestinya pun merupakan persoalan serius. Tindakan tersebut mencerminkan ketidakamanahan oknum pendidik. Hal ini bisa bersumber dari ketidaktahuan aturan, sikap abai terhadap amanah, ketiadaan visi sebagai pendidik, atau lemahnya ketakwaan kepada Allah atas tanggung jawab yang diemban.
Tiga Peran Vital Menyelesaikan Masalah Pendidikan
Sistem pendidikan kita sedang sakit dan membutuhkan muhasabah besar-besaran. Ada tiga komponen vital yang harus berperan bersama untuk menyelesaikan persoalan pendidikan. Ketiganya saling terkait dan saling menguatkan.
Pertama, individu yang bertakwa.
Ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi fondasi utama yang mencegah seseorang dari praktik keburukan yang dapat menjerumuskan dirinya, keluarganya, masyarakat, bahkan negaranya ke dalam kehinaan dan dosa. Individu bertakwa akan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, bukan karena dorongan materi, melainkan karena kesadaran kepada Allah. Inilah integritas sejati yang sangat mahal nilainya.
Kedua, masyarakat yang bertakwa.
Budaya amar makruf dan nahi mungkar akan menciptakan iklim kebaikan di tengah masyarakat. Segala bentuk kemungkaran tidak dinormalisasi. Praktik korupsi, kecurangan, dan penyimpangan lainnya akan teredam oleh kuatnya sanksi sosial. Sayangnya, budaya buruk hari ini telah mengakar kuat dalam sistem kehidupan, sehingga bahkan orang baik pun bisa terjerumus. Karena itu, diperlukan komunitas-komunitas bertakwa yang bersama-sama menjaga masyarakat dari budaya rusak, sebagaimana perintah Allah dalam QS Ali Imran ayat 104.
Ketiga, sistem negara yang bertakwa.
Individu dan masyarakat bertakwa saja tidak cukup. Banyak orang baik yang berjuang membantu sesama, termasuk para relawan bencana, tetapi tetap terhambat karena negara menjadi pusat pengaturan urusan rakyat. Sistem negara hari ini berpijak pada kapitalisme sekuler, yang melahirkan sistem ekonomi liberal dan sistem pendidikan tanpa visi hakiki. Segalanya diarahkan pada keuntungan dunia yang semu.
Sebaliknya, Islam menawarkan sistem negara berlandaskan akidah dan syariat, yakni Khilafah. Sistem ini melahirkan pejabat yang bertakwa dan kebijakan yang sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sistem tersebut pernah diterapkan selama lebih dari 14 abad, sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga tahun 1924.
Khatimah
Sebagai penutup, persoalan salah sasaran MBG dan penyalahgunaan smart panel bukanlah kasus yang berdiri sendiri, melainkan problem sistemik yang sangat mungkin terjadi dalam sistem kapitalisme sekuler. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif akan urgensi mengembalikan pengaturan kehidupan, termasuk pendidikan, ke dalam sistem Islam yang menyeluruh dan berkeadilan. Wallahu a’lam. [MA/UF]
Baca juga:
0 Comments: