Headlines
Loading...
Kedamaian Palsu di Atas Puing Gaza

Kedamaian Palsu di Atas Puing Gaza

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQMedia.Com—Gencatan senjata kerap terdengar seperti jeda kemanusiaan, seolah menjadi helaan napas di tengah deru bom. Namun di Gaza, jeda itu berulang kali berubah menjadi ilusi. Ketika dunia disuguhi narasi “perdamaian” ala Amerika Serikat dan Israel melalui skema gencatan senjata dan Board of Peace (BoP), yang terjadi justru rentetan pelanggaran. Bom kembali jatuh, sekolah-sekolah pengungsian dihantam, dan korban sipil terus berjatuhan. Damai dipromosikan, perang dilanjutkan (Kompas.com, 05/02/2026).

Di sinilah letak kenaifan global. Dunia, termasuk sebagian pemimpin negeri Muslim, terlalu mudah percaya pada janji-janji yang sejak awal rapuh. Padahal sejarah konflik Palestina dipenuhi pengkhianatan perjanjian oleh Zionis Israel. Gencatan senjata kerap bukan jalan menuju keadilan, melainkan instrumen politik untuk meredam tekanan internasional sembari melanggengkan penjajahan. Ia menjadi sandiwara diplomatik, tampak menenangkan di permukaan, tetapi menyembunyikan kekerasan struktural yang terus berjalan (CNNIndonesia.com, 05/02/2026).

Al-Qur’an telah mengingatkan agar umat tidak mudah terbuai oleh muslihat musuh. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Anfal ayat 61–62:

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sungguh Allah cukup bagimu.”

Ayat ini bukan sekadar seruan menerima perdamaian, tetapi juga peringatan agar tetap waspada. Perdamaian yang ditawarkan oleh pihak yang berulang kali berkhianat patut dicermati secara kritis, agar tidak menjadi jebakan politik yang merugikan umat.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian penguasa negeri Muslim memilih sikap aman dengan berlindung di balik jargon stabilitas kawasan dan pencegahan eskalasi perang. Mereka rela bergabung dalam skema BoP, seakan lupa bahwa penjajahan tidak pernah runtuh oleh kompromi kosong.

Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat Sahih Muslim, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.”

Diamnya para pemimpin terhadap agresi terang-terangan bukanlah netralitas. Ia berpotensi menjadi bentuk pembiaran terhadap kezaliman.

Umat Islam tidak boleh terus terjebak dalam narasi damai palsu. Menolak sandiwara gencatan senjata yang hanya menguntungkan penjajah merupakan sikap politik yang bermartabat. Palestina tidak membutuhkan jeda bom sementara, melainkan penghentian penjajahan secara menyeluruh.

Tragedi Gaza juga menelanjangi problem besar umat, yaitu tercerai-berai dalam kepemimpinan dan kekuatan politik. Tanpa kesatuan, dunia Islam akan selalu berada pada posisi tawar terendah. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur'an, Surah Ash-Shaff ayat 4:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.”

Ayat ini menegaskan pentingnya kekuatan kolektif, umat yang bersatu dalam arah, kepemimpinan, dan tujuan.

Karena itu, perjuangan Palestina tidak cukup hanya dengan doa dan kecaman simbolik. Ia menuntut kesadaran politik umat, keberanian menghadapi hegemoni penjajahan, serta upaya serius menyatukan negeri-negeri Muslim dalam kepemimpinan yang mampu melindungi darah kaum tertindas. Dalam khazanah politik Islam, persatuan itu terwujud melalui kepemimpinan yang menjaga agama dan melindungi jiwa kaum Muslimin.

Gencatan senjata ala Israel dan Amerika Serikat kerap menjadi tirai asap di atas panggung penjajahan. Selama akar kezaliman tidak dicabut, “perdamaian” itu hanya menjadi jeda sebelum kekerasan berikutnya terjadi. Gaza mengajarkan satu hal yang pahit, damai tanpa keadilan adalah kebohongan yang menyakitkan.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah dunia akan terus percaya pada sandiwara itu, melainkan apakah umat Islam akan tetap tertidur dalam ilusi, atau bangkit sebagai satu tubuh untuk menghentikan penjajahan hingga ke akarnya. [An/UF]

Baca juga:

0 Comments: