Headlines
Loading...
Keadilan Pangan dan Keseimbangan Ekonomi dalam Menyongsong Ramadan

Keadilan Pangan dan Keseimbangan Ekonomi dalam Menyongsong Ramadan


Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQMedia.Com—Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, Jawa Barat menjadi sorotan publik. Perhatian tidak hanya tertuju pada kecukupan pasokan pangan, tetapi juga pada arah pembangunan ekonomi yang terus bergerak dinamis. Dua fenomena besar ini, yakni ketahanan pangan dan pertumbuhan sektor pariwisata, membuka ruang refleksi dalam bingkai maslahat, adil, dan keberlanjutan sesuai nilai Islam.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa pasokan pangan di Jawa Barat diprediksi cukup, bahkan surplus, untuk memenuhi kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri 2026. Komoditas pokok seperti beras, jagung, daging sapi atau kerbau, daging ayam, serta cabai rawit diperkirakan aman untuk tiga bulan ke depan, yakni Februari sampai April 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menggelar Gerakan Pangan Murah di sejumlah daerah guna membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok.

Kabar ini tentu menggembirakan bagi umat Islam yang akan menunaikan ibadah puasa dan merayakan hari kemenangan. Namun, pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah kecukupan stok tersebut juga menjamin distribusi yang adil, harga yang terjangkau, serta akses merata bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi?

Islam tidak hanya berbicara tentang ketersediaan, tetapi juga keadilan. Allah Swt. berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa.” QS Al-Maidah ayat 2.

Rasulullah saw. juga bersabda, “Seorang Mukmin adalah saudara bagi Mukmin lainnya.” HR Bukhari dan Muslim.

Prinsip ini membimbing agar setiap kebijakan ekonomi, termasuk distribusi pangan, tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga adil dan inklusif. Gerakan Pangan Murah merupakan langkah positif. Namun, implementasinya perlu dipastikan benar-benar menyentuh masyarakat kecil, baik di pelosok desa maupun di wilayah perkotaan, bukan sekadar menjadi rutinitas administratif.

Di sisi lain, sektor pariwisata di Jawa Barat menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Data statistik mencatat jutaan perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2025 yang menjadikan Jawa Barat sebagai salah satu tujuan utama. Hal ini menandakan bahwa pariwisata semakin menjadi penopang penting ekonomi regional.

Pertumbuhan ini tentu membawa dampak positif, seperti terbukanya lapangan kerja, meningkatnya perputaran modal, serta berkembangnya usaha mikro dan kecil. Namun, dinamika alokasi sumber daya juga perlu dicermati. Ketika pariwisata tumbuh pesat, investasi dan perhatian publik kerap mengalir ke sektor yang menjanjikan keuntungan cepat. Sementara itu, sektor agrikultur sebagai basis ketahanan pangan berisiko kurang mendapat dukungan jangka panjang.

Pandangan Islam

Islam menekankan pentingnya keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” QS Al-Araf ayat 56.

Ayat ini menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi harus berlandaskan keadilan, keberlanjutan, serta kemaslahatan umat, bukan semata mengejar pertumbuhan angka.

Refleksi ini bukan berarti menolak pariwisata atau perkembangan sektor ekonomi lainnya. Justru, Islam mendorong integrasi antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab moral untuk memastikan hak dasar manusia terpenuhi, yakni pangan yang cukup, harga yang terjangkau, dan akses yang merata.

Jika kebijakan publik mampu berjalan pada dua dimensi tersebut secara bersamaan, itulah wujud keseimbangan yang diajarkan Islam.

Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, semoga yang dirayakan bukan sekadar kecukupan dalam data statistik, tetapi juga keadilan ekonomi yang benar-benar dirasakan setiap warga, dari kota hingga desa. Semoga setiap kebijakan yang diambil berakar pada etika sosial dan ajaran Islam yang menegaskan bahwa kesejahteraan adalah milik bersama, bukan hanya segelintir pihak. [MA/Des]

Baca juga:

0 Comments: