Guru Hilang Wibawa, Murid Hilang Rasa Hormat
Oleh. Ummu Riri
(Aktivis Muslimah)
SSCQMedia.Com—Seorang guru SMKN 3 Barbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi bernama Agus Saputra dikeroyok beberapa siswa. Di dalam video yang beredar terlihat Agus terlibat aksi saling dorong dan saling pukul dengan beberapa siswa. Menurut pernyataan Agus, ia tak sengaja menampar seorang murid yang mengejek dirinya dengan kata-kata yang tidak pantas. Sementara itu menurut pengakuan siswa berinisial MUF, Agus kerap kali bersikap kasar dan keras kepada siswa, ia juga ingin dipanggil prince yang berarti pangeran (kompas.com, 16/1/2026).
Dunia pendidikan terus menampakkan kebobrokannya, kasus ini bukan sekadar konflik emosi semata. Ini adalah permasalahan serius pada dunia pendidikan yang jelas tidak sedang baik-baik saja. Hubungan guru dengan murid seharusnya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru menjadi hubungan yang penuh dengan ketegangan hingga kekerasan.
Murid bertindak tidak sopan, kasar, dan juga kehilangan batas adab. Tak dimungkiri ada juga guru yang merendahkan, menghina hingga memberikan julukan kepada siswa dengan kata yang melukai psikologis. Sampai kepada kedua belah pihak, yakni guru dan murid berakhir pada konflik yang berujung pada kekerasan. Guru tidak lagi digugu dan ditiru, murid tidak lagi menjunjung tinggi adab dan menjadi berprestasi. Bobroknya dunia pendidikan butuh perhatian dan solusi yang serius.
Pendidikan Ala Sekuler
Sistem yang diterapkan saat ini adalah sistem sekularisme, begitu juga dengan dunia pendidikan. Dunia pendidikan saat ini memisahkan agama dari kurikulum pembelajaran dan pembelajaran difokuskan kepada ilmu pengetahuan umum, nilai-nilai duniawi dan rasionalitas. Pendidikan ala sekuler bertujuan mencetak generasi berpengetahuan, tetapi tidak menanamkan ajaran agama sebagai dasar dalam berilmu.
Siswa dibentuk menjadi pribadi yang mampu menghasilkan materi, laki-laki maupun perempuan disiapkan untuk menjadi seorang pekerja. Dengan tuntutan ini siswa tidak dibekali adab yang berasal dari ajaran agama, sehingga ilmu tidak menjadikan dirinya berkah.
Di sisi lain, guru yang seharusnya fokus mendidik dan mencetak karakter baik pada diri siswa, malah disibukkan dengan urusan administratif. Guru tidak diberikan kemudahan dalam mengajar, dengan kurikulum yang terus berganti membuat guru harus terus mengubah metode mengajar yang sesuai dengan kurikulum. Sehingga guru fokusnya terbagi, sedangkan siswa membutuhkan perhatian penuh dalam proses belajar mengajar.
Persoalan gaji guru yang jauh dari kata layak, menjadi persoalan panjang tak pernah usai. Guru adalah profesi mulia, dengannya generasi menjadi cerdas dan berakhlak, tetapi sayang, gajinya tidak lebih besar dari buruh pabrik. Jika terus begini apakah ada generasi baru yang lahir dan ingin menjadi guru? Dengan gaji yang tidak mencukupi kebutuhan hidup memaksa mereka untuk mencari pekerjaan sampingan, sehingga proses mengajar pun menjadi terganggu.
Maka, tak heran dalam sistem sekuler ini siswa kehilangan adab dan guru kehilangan wibawa. Jika menarik waktu ke belakang, ada masa di mana dunia pendidikan mencetak generasi cemerlang. Di masa itu lahir para ilmuwan hebat yang penemuannya digunakan hingga masa sekarang. Sistem Islam adalah sistem yang mencemerlangkan dunia pendidikan, pada masa Abbasiyah contohnya, lahir banyak ilmuwan hebat.
Pendidikan dalam Kacamata Islam
Dalam Islam pendidikan bukan hanya mencetak orang-orang pintar dan hebat, tetapi membangun manusia beradab. Rasulullah diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia, sehingga akhlak atau adab sangat didahulukan dalam Islam. Murid akan lebih dulu diajarkan tentang adab, tentunya guru akan memberikan contoh adab yang baik terhadap muridnya sehingga tumbuh rasa hormat dalam diri murid. Barulah ketika telah tumbuh rasa hormat, ilmu akan mudah ia terima.
Tindakan murid mengeroyok guru dan guru mengolok murid adalah cerminan sistem sekularisme. Sistem yang memisahkan agama dengan kehidupan tidak lagi menjadikan agama sebagai rujukan dalam setiap perilaku. Standar benar dan salah pun menjadi relatif ditentukan berdasarkan emosi, kepentingan maupun tekanan sosial. Di tengah kondisi seperti inilah kekerasan menjadi puncak dari kerusakan.
Sekularisme tidak hanya mengubah bentuk generasi muslim yang hilang adab, tetapi juga, kehilangan penghormatan dan otoritas moral. Maka, Islam hadir bukan sebagai agama ritual saja, Islam membawa kepada kesempurnaan yang tidak ada tandingannya.
Landasan berpikir dalam Islam adalah akidah, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan bahwa setiap perubahan perilaku hanya terjadi jika terjadi perubahan mafahim secara mendasar. Sehingga, pendidikan Islam haruslah dibangun di atas dasar akidah Islam. Dunia pendidikan harus diubah secara menyeluruh, kembalikan niat dan tujuan dalam pembangunan dunia pendidikan sebagai media untuk membangun generasi beriman, berilmu serta berakhlak mulia, bukan sebaliknya sebagai akomodasi pencapaian materi.
Kemudian dunia pendidikan harus didasari oleh akidah Islam, bukan akidah lain. Ilmu agama harus diajarkan di setiap jenjang pendidikannya dari dasar hingga perguruan tinggi. Islam sebagai tolok ukur dalam penggunaan ilmu pengetahuan, maka ilmu akan digunakan dengan sebaik-baiknya sehingga manfaatnya akan dapat dirasakan oleh umat.
Pengajar yaitu guru perlu untuk disejahterakan hidupnya, mereka adalah pendidik penerus bangsa. Guru harus diberikan perlindungan kelonggaran dalam mendidik, bukan diberikan beban dokumen administrasi yang tak kunjung usai. Sehingga guru bisa dengan fokus mengajar murid, dengan begitu lahirlah guru yang layak untuk digugu dan ditiru.
Maka, problematika atas kekacauan yang ada di dunia pendidikan adalah masalah sistemik. Sistem pendidikan tidak bisa diubah begitu saja sedangkan sistem negaranya tetap sama, perubahan menyeluruh adalah tugas kita bersama. Sudah saatnya umat Islam berani mengambil keputusan besar yaitu perubahan hakiki, yakni kembali kepada penerapan sistem Islam secara menyeluruh. Wallahualam bissawab. [Ni/HEM]
Baca juga:
0 Comments: