Dua Generasi Satu Amanah untuk Islam Kafah
Oleh: Shafna A. Y.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Ahad pagi itu suasana sebuah rumah makan di sudut desa tampak berbeda dari biasanya. Jika hari-hari lain riuh oleh suara pengunjung yang memesan hidangan, pagi itu lantai dua rumah makan justru dipenuhi keanggunan para ibu yang datang dengan niat thalabul ilmi. Puluhan muslimah duduk rapi, menciptakan suasana yang tenang, khusyuk, dan penuh semangat.
Kajian Islam bertajuk “Menyatukan Generasi, Satu Amanah dalam Islam Kafah” dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema lembut. Bacaan tersebut menyentuh relung hati para hadirin sekaligus mengondisikan jiwa untuk menyerap ilmu dengan penuh kesadaran.
Usai pembukaan, suasana hangat semakin terasa saat dua narasumber utama, Ustazah Endang dan Ustazah Husnul, menyampaikan materi. Tema yang diangkat terasa sangat dekat dengan kegelisahan para orang tua masa kini, yakni generation gap atau kesenjangan generasi dan communication gap atau kesenjangan komunikasi.
Ustazah Endang mengawali pemaparan dengan membedah fenomena yang menimpa generasi hari ini. Beliau menegaskan bahwa setiap bangsa mendambakan lahirnya generasi terbaik. Namun, realitas yang dihadapi justru sebaliknya. Pergaulan bebas, narkoba, hingga penyimpangan L8B7 kini mengepung anak-anak kaum muslim.
“Kondisi ini diperparah dengan pengotak-kotakan generasi, seperti Gen X, Y, Z, hingga Alfa,” tutur beliau. Istilah generation gap yang muncul di Barat pasca Perang Dunia II tersebut, menurutnya, kini digunakan secara masif oleh sistem kapitalisme global untuk memutus hubungan emosional dan nilai antara orang tua dan anak.
Beliau menjelaskan bahwa generation gap merupakan perbedaan cara pandang dan gaya hidup akibat perbedaan pengalaman sejarah dan perkembangan teknologi. Namun, di bawah sistem kapitalisme, perbedaan ini sengaja dipertajam hingga melahirkan anggapan bahwa nilai-nilai orang tua dianggap usang dan tidak relevan. Akibatnya, muncul communication gap, yakni kondisi ketika pesan orang tua tidak lagi sampai ke hati anak karena perbedaan media, bahasa, dan emosi yang dipicu oleh digitalisasi.
“Jika kondisi ini dibiarkan, otoritas moral orang tua dan ulama akan bergeser kepada influencer dan algoritma media sosial,” tegas Ustazah Endang.
Melanjutkan pemaparan tersebut, Ustazah Husnul menyoroti bahaya besar di balik narasi kesenjangan generasi. Jika kaum muslim menerima narasi ini secara mentah, maka kesinambungan tsaqafah dan peradaban Islam akan terputus.
“Islam menekankan kesinambungan nilai, bukan pemisahan. Hubungan antargenerasi adalah amanah, bukan arena kompetisi,” ujarnya. Beliau mengingatkan bahwa kemajuan teknologi merupakan keniscayaan. Namun, di bawah sistem kapitalisme, teknologi berubah menjadi pisau bermata dua yang dipenuhi konten destruktif seperti judi daring dan gaya hidup liberal yang menggerus akidah.
Ustazah Husnul kemudian mengajak para ibu untuk kembali pada fitrah penciptaan manusia. Beliau mengutip QS Az-Zariyat ayat 56:
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْاِÙ†ْسَ اِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُÙˆْÙ†ِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
Beliau menegaskan bahwa anak diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, orang tua memikul amanah besar untuk menanamkan akidah sejak dini agar anak memiliki kepribadian Islam yang lurus, sebagaimana ditegaskan dalam QS Ar-Rum ayat 30. Beliau juga mengingatkan agar orang tua takut meninggalkan generasi yang lemah iman dan fisiknya, seraya menyitir QS An-Nisa ayat 9.
Generasi muda, lanjut beliau, bukan sekadar penikmat gawai, melainkan pengemban risalah Islam, pengubah peradaban, dan calon pemimpin kebangkitan umat.
Sebagai solusi praktis untuk mengatasi communication gap, kedua ustazah merumuskan strategi komunikasi islami. Mereka menekankan pentingnya menerapkan prinsip qaulan sadida (perkataan yang benar), qaulan ma’rufa (baik), qaulan layyina (lembut), qaulan baligha (menyentuh hati), dan qaulan karima (mulia). Sebaliknya, pola komunikasi yang merendahkan, mencela, atau dipenuhi gibah harus dijauhkan dari lingkungan keluarga.
Menjelang akhir kajian, suasana yang semula serius berubah menjadi haru saat sesi pembacaan puisi dimulai. Bu Sugiarti berdiri dengan anggun membacakan puisi berjudul “Di Ujung Jarimu, Ada Surga atau Fatamorgana”. Suaranya bergetar penuh kasih ketika menyampaikan pesan kepada sang anak,
“Nak, jangan biarkan algoritma mendikte jiwamu. Dunia maya hanyalah segmen, bukan realitas tempatmu berpijak. Bangunlah benteng ketakwaan, jadikan Allah satu-satunya tujuan, agar engkau tidak hanyut dalam gelombang sekuler yang merusak budi.”
Tak lama berselang, Mbak Anjani, mewakili generasi muda, membalas dengan puisi yang tak kalah menyentuh berjudul “Di Sini Aku Berpijak, Menuju Cahaya Hakiki”. Puisinya seolah menjawab kerinduan setiap ibu yang hadir,
“Ibu, kudengar lembut suaramu menembus bisingnya notifikasi. Maafkan aku jika sempat terbuai pelukan algoritma. Engkau adalah madrasahku, tempatku mengenal jati diri sejati. Doakan aku menjadi generasi tangguh, yang menjadikan gawai sebagai sarana dakwah, bukan tempat menyembah hamba.”
Dialog puitis antara ibu dan anak tersebut membuat banyak hadirin tak kuasa menahan air mata. Kajian pun ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam bagi setiap muslimah yang hadir.
Para ibu pulang membawa kesadaran baru bahwa menyelamatkan generasi dari jurang kerusakan peradaban membutuhkan sinergi kasih sayang, keteladanan Rasulullah, serta tekad kuat untuk kembali pada aturan Islam secara kafah. Matahari kian tinggi, namun cahaya ilmu yang didapat pagi itu tetap bersinar di hati para ibu, siap dibawa pulang sebagai pelita bagi anak-anak mereka. [Ni/En]
Baca juga:
0 Comments: