Headlines
Loading...
Darurat Bencana: Alam Rusak, Harapan Rakyat Hanyut

Darurat Bencana: Alam Rusak, Harapan Rakyat Hanyut

Oleh: Mrs. Emer
(Pemerhati Lingkungan)

SSCQMedia.Com — Memasuki awal 2026, Indonesia kembali dirundung duka akibat bencana hidrometeorologi yang masif. Berdasarkan laporan Databoks Katadata dan BNPB per 25 Januari 2026, tercatat 128 kejadian banjir dan 15 bencana tanah longsor di berbagai provinsi.

Salah satu potret memilukan diberitakan iNews Jawa Barat pada Januari 2026, yakni korban longsor di Cisarua yang mencapai 70 orang meninggal dunia dan 10 lainnya masih dalam pencarian. Kondisi darurat ini juga terjadi di berbagai daerah lain, sebagaimana dilaporkan Antara News di OKU, JPNN di Pati, dan Kompas.id di Kudus.

Rentetan bencana di ratusan titik dalam waktu singkat ini merupakan alarm keras bagi kita semua. Fenomena ini bukan sekadar dampak cuaca ekstrem, melainkan indikasi kuat kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Kita perlu jujur mengakui bahwa buruknya tata kelola ruang hidup serta eksploitasi alam yang tidak terkendali telah menggerus harapan rakyat akan rasa aman dan kesejahteraan.

Selama ini, kebijakan pengelolaan alam cenderung terjebak dalam paradigma kapitalisme sekuler yang menitikberatkan keuntungan materi jangka pendek. Akibatnya, sungai, bukit, dan hutan yang seharusnya menjadi pelindung justru beralih fungsi menjadi komoditas ekonomi yang pada akhirnya memicu bencana.

Sebagai manusia yang diamanahkan sebagai khalifah fil ardh, kita memikul tanggung jawab besar untuk mengelola alam sesuai tuntunan syariat. Alam diciptakan Allah Swt. untuk kemaslahatan hidup, bukan untuk dirusak. Sudah saatnya pemerintah melakukan perubahan mendasar dalam paradigma pengelolaan ruang hidup. Kebijakan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan dan menyimpang dari aturan-Nya terbukti hanya melahirkan bencana yang berulang.

Kini saatnya beralih kepada paradigma syariat Islam yang memandang alam sebagai amanah yang wajib dijaga keberlangsungannya demi keselamatan rakyat. Jangan menunggu lebih banyak korban berjatuhan sebelum perubahan sistemik benar-benar diwujudkan. [My/Iwp]

Baca juga:

0 Comments: