Opini
Dampak Sekularisme: Guru Menghina Siswa, Siswa Mengeroyok Guru
Oleh: Dhevi Firdausi, ST.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Dunia pendidikan sedang digemparkan dengan berita pengeroyokan beberapa siswa kepada gurunya. Insiden tersebut terjadi di sekolah SMK Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Tampak di video yang viral, banyak siswa laki-laki SMK memukul dan menendang salah satu guru mereka (Tribatanews, 26/1/2026).
Secara kronologis, kejadian tersebut dimulai dari seorang guru yang lewat di depan salah satu kelas, saat kegiatan belajar mengajar. Melihat gurunya melintas, siswa bukannya bersikap hormat, justru menegur dengan ucapan yang tidak sopan. Guru tersebut menyatakan bahwa para siswa sempat meneriakkan kata-kata yang tidak pantas didengar.
Itu dari sudut pandang sang guru, sementara dari sudut pandang siswa, berbeda ceritanya. Para murid menjelaskan bahwa guru tersebut memiliki kebiasaan yang kurang baik, tidak seperti guru-guru lainnya. Di depan murid, dia sering berbicara kasar dan menghina wali murid.
Undang-Undang Perlindungan Anak menegaskan bahwa anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan terbebas dari rasa takut. Peristiwa di Jambi tersebut merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap hak anak. Terlebih, kecemasan siswa justru dipicu oleh sikap dan tindakan guru mereka sendiri. Kondisi ini sungguh memprihatinkan.
Hubungan Guru dan Siswa dalam Sistem Sekularisme
Hubungan siswa dengan gurunya seharusnya dibangun atas dasar sikap penghormatan dan keteladanan. Kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah merupakan problem serius dalam dunia pendidikan. Bagaimana bisa, seorang guru yang seharusnya dihormati oleh para siswanya, justru dikeroyok ramai-ramai.
Pada satu sisi, ada oknum guru yang menghina murid, bahkan menghina wali muridnya. Pada sisi lainnya, ada siswa yang bertindak tidak sopan pada gurunya. Inilah salah satu fakta di dunia pendidikan, kedua belah pihak, antara guru dan murid, terjebak dalam sebuah konflik kekerasan.
Konflik tersebut terjadi sebagai akibat diterapkannya sistem sekuler kapitalisme di dunia pendidikan. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, sehingga nilai-nilai agama juga harus dijauhkan dari bidang pendidikan. Sistem yang fasad ini berasal dari negara Barat, yakni Amerika, yang kemudian disebarkan ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Hubungan Guru dan Siswa dalam Sistem Islam
Sistem sekularisme jelas bertentangan dengan Islam. Syariat Islam yang sempurna memandang pendidikan bukan sekadar sarana mencerdaskan akal, tetapi juga untuk membentuk akhlak mulia. Rasulullah saw. adalah teladan terbaik dalam kecerdasan, akhlak, dan keteladanan sikap.
Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual semata, namun juga mengatur kehidupan sosial masyarakat. Rasulullah saw. dan para sahabatnya, telah memberikan contoh yang nyata, bahwa syariat IsIam juga mengatur bidang politik, ekonomi, pendidikan, dll.. Dalam sistem pendidikan IsIam, adab lebih didahulukan daripada ilmu.
Suasana belajar mengajar dalam sistem pendidikan IsIam dipenuhi keberkahan. Guru mendidik para siswanya diliputi dengan rasa kasih sayang. Di sisi lain, siswa dicetak untuk memiliki sikap memuliakan guru mereka.
Dalam IsIam, ilmu diajarkan untuk dilaksanakan, bukan hanya untuk kepintaran otak. Guru merupakan sosok teladan atas penerapan ilmu tersebut. Dimulai dari guru yang cerdas dan berakhlak mulia, akan terwujud karakter siswa yang berbudi luhur dan menguasai teknologi.
Peran negara sangat vital dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan penuh keberkahan. Negara wajib memastikan kurikulum pendidikan berlandaskan akidah Islam. Setiap materi pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam. Demikianlah kesempurnaan aturan Islam. Lantas, mengapa masih banyak yang meragukannya? [Ni/UF]
Baca juga:
0 Comments: