Dakwah Ideologis: Mencetak Pelopor Perubahan
Oleh: Ella
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Sekularisasi kian menguat di kalangan pemuda. Baik di ruang nyata maupun digital, generasi dijauhkan dari jati dirinya sebagai muslim sekaligus dari peran historisnya sebagai pelopor perubahan. Arus konten, gaya hidup, dan standar kesuksesan yang dibentuk dunia digital saat ini lebih banyak menanamkan nilai individualisme, hedonisme, dan relativisme moral. Akibatnya, Islam kerap direduksi menjadi identitas simbolik semata.
Pada saat yang sama, kondisi kaum ibu tidak kalah memprihatinkan. Peran mereka sebagai ummun wa rabbatul bait, yakni ibu dan pengatur rumah tangga sekaligus pendidik generasi, mengalami degradasi serius. Hal ini bukan disebabkan ketidakmampuan personal, melainkan akibat sistem yang meminggirkan fungsi strategis ibu dalam peradaban. Kapitalisme mendorong perempuan, termasuk para ibu, masuk dalam pusaran produktivitas materi dan komersialisasi. Mereka dijadikan objek pasar sekaligus korban sistem yang mengabaikan fitrah dan peran mendasarnya.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari fakta bahwa digitalisasi global berada dalam hegemoni kapitalisme. Digitalisasi tidak lagi menjadi instrumen teknologi yang netral, melainkan sarana efektif penyebaran ideologi batil yang membentuk cara pandang, selera, dan orientasi hidup umat, khususnya generasi muda dan kaum ibu. Negara sekuler yang mengadopsi paradigma kapitalistik memandang keduanya sebagai objek komersial: pemuda sebagai pasar gaya hidup dan tenaga produktif masa depan, sementara ibu sebagai konsumen sekaligus pekerja penopang roda ekonomi.
Dalam kerangka tersebut, pembekalan Islam kafah tidak dianggap penting, bahkan cenderung dijauhkan karena Islam ideologis dipandang mengancam status quo. Akar persoalan sejatinya terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara yang membatasi peran agama hanya pada ranah privat dan spiritual, sementara pengaturan kehidupan berdasarkan Islam disingkirkan secara menyeluruh.
Di tengah penerapan sistem kapitalisme yang dinilai merusak ini, kehadiran jemaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen. Jemaah semacam ini tidak sekadar menyeru pada perbaikan moral individual, melainkan membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam atau syakhsiyyah Islamiah serta kesadaran politik ideologis sebagai muslim. Melalui pembinaan terarah, umat disiapkan untuk memahami Islam sebagai ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan dan sebagai solusi atas persoalan sistemik yang dihadapi.
Landasan kewajiban ini ditegaskan dalam QS Ali Imran ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat ini menegaskan adanya kewajiban kolektif dan terorganisasi dalam aktivitas dakwah. Seruan kepada kebaikan tidak cukup dilakukan secara sporadis dan individual, melainkan membutuhkan jamaah yang terstruktur dan memiliki visi ideologis yang jelas.
Sejarah dakwah Rasulullah saw. menunjukkan bahwa perubahan peradaban tidak lahir dari kompromi dengan sistem yang rusak, tetapi dari pembinaan ideologis yang kokoh. Pada fase Makkah, Rasulullah saw. melakukan tatsqif, yakni pembinaan pemikiran dan keimanan, hingga terbentuk individu-individu berkepribadian Islam, termasuk perempuan dan generasi muda, yang kemudian menjadi pilar perubahan.
Tahapan ini dilanjutkan dengan interaksi intensif dengan masyarakat dan perjuangan pemikiran untuk meruntuhkan ideologi jahiliah, hingga berujung pada istilamul hukmi, yaitu penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan. Dengan meneladani metode tersebut, jemaah dakwah Islam ideologis saat ini memiliki peran strategis dalam membina ibu dan generasi muda agar bangkit sebagai pelopor perubahan, pembela Islam kafah, dan pengemban misi kebangkitan peradaban Islam di tengah dominasi sistem kapitalisme yang rapuh dan menyesatkan. [Ni/Iwp]
Baca juga:
0 Comments: