Oleh: Verawati, S.Pd.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Wacana perdamaian di Palestina selalu muncul berulang kali dalam sejarah konflik Timur Tengah. Setiap kali kata peace digaungkan, harapan dunia ikut tumbuh, tetapi tidak jarang harapan itu kembali runtuh. Pertanyaan kritis pun muncul: apakah perdamaian benar-benar menjadi tujuan, atau sekadar strategi politik yang dibungkus narasi kemanusiaan? Adakah kata tobat dalam kamus Amerika Serikat dan Israel?
Fakta berbicara bahwa keduanya dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan sikap. Beberapa waktu lalu, laporan dari Kompas.com pada 7 Februari 2026 menyebutkan bahwa Israel kembali melancarkan serangan udara ke bangunan di wilayah Gaza pada Februari 2026. Bangunan yang berada dekat pemakaman di Zeitoun itu hancur akibat rudal, meskipun warga telah dievakuasi sebelumnya. Fakta ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin narasi perdamaian berjalan bersamaan dengan aksi militer?
Tidak mengherankan apabila gagasan Board of Peace dipandang dengan kecurigaan. Bahkan, perdamaian dianggap sebagai tipu muslihat untuk membius umat Islam agar tidak lagi bersuara dalam membela saudaranya.
Antara Perdamaian dan Realitas Politik
Sejarah konflik Palestina menunjukkan bahwa perjanjian damai sering kali tidak menghentikan ketegangan. Setiap gencatan senjata yang diumumkan kerap disusul peristiwa kekerasan baru. Maka, Board of Peace sejatinya dinilai bukan dimaksudkan untuk mengakhiri konflik, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang lebih kompleks.
Dalam sudut pandang kritis, perdamaian dapat dilihat sebagai cara untuk mengubah pendekatan, bukan lagi melalui kekuatan militer semata, tetapi melalui pembangunan, ekonomi, dan rekonstruksi wilayah. Program pembangunan di Gaza, misalnya, kerap dipromosikan sebagai solusi kemanusiaan. Namun, terdapat kekhawatiran bahwa pembangunan kawasan elite justru berpotensi menciptakan ketimpangan baru yang tidak dapat diakses masyarakat lokal.
Narasi ini memunculkan istilah penjajahan gaya baru, yaitu ketika kontrol tidak lagi berbentuk militer secara langsung, melainkan melalui pengaruh ekonomi dan pembangunan.
Keteguhan Warga Gaza
Di tengah konflik berkepanjangan, warga Gaza sering digambarkan sebagai simbol keteguhan. Kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan tidak selalu mematahkan semangat mereka untuk bertahan di tanah kelahiran. Keteguhan ini menjadi sorotan dunia bahwa konflik bukan sekadar persoalan wilayah, tetapi juga identitas, keyakinan, dan harapan.
Bagi sebagian pengamat, jika penderitaan tidak mampu mematahkan keteguhan masyarakat, pendekatan lain akan digunakan, yakni pendekatan kesejahteraan dan pembangunan. Pertanyaannya, apakah pembangunan tersebut benar-benar untuk kesejahteraan rakyat, atau memiliki agenda politik di baliknya?
Pendekatan semacam ini dinilai kerap digunakan oleh Amerika Serikat dalam menghadapi lawannya. Warga Gaza telah teruji keteguhan keimanannya melalui ujian yang pahit. Maka, pendekatan yang ditawarkan dinilai berupa ujian yang tampak manis melalui pembangunan dan iming-iming ekonomi. Namun, warga Gaza diyakini akan tetap istikamah.
Justru yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana dengan umat Islam lainnya, khususnya para pemimpinnya. Mengapa penyelesaian persoalan ini diserahkan kepada pihak yang dianggap sebagai musuh? Bukankah hal ini dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap warga Gaza?
Wahai Para Pemimpin, Jadilah Seperti Umar bin Khattab
Umar bin Khattab adalah khalifah kaum muslimin yang berhasil menaklukkan Yerusalem. Bahkan, kunci kota itu diserahkan langsung oleh Uskup Patriark Sophronius. Peristiwa ini dikenang sebagai salah satu penaklukan paling damai dalam sejarah. Pada masa itu, umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan di bawah pemerintahan Islam.
Kemudian, ketika Palestina dikuasai kembali oleh bangsa Eropa, umat Islam membebaskannya melalui perjuangan panjang yang dipimpin oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Kemenangan kembali berada di tangan umat Islam.
Peran Kepemimpinan Dunia Muslim
Belajar dari sejarah, Palestina diyakini hanya dapat dibebaskan melalui perjuangan bersenjata, bukan semata-mata dengan perjanjian. Untuk mewujudkannya, diperlukan seorang pemimpin dalam bingkai kepemimpinan Islam yang mampu menyatukan umat sekaligus menjadi komandan militer.
Hal ini sering diibaratkan dengan sabda Nabi saw., “Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim).
Inilah yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai kewajiban besar umat Islam saat ini, yaitu mewujudkan kepemimpinan global bagi seluruh umat Islam di dunia.
Perdebatan besar dalam isu Palestina selalu berkisar pada dua pendekatan: perjanjian damai atau perjuangan. Sebagian pihak meyakini konflik hanya dapat diselesaikan melalui diplomasi dan negosiasi. Namun, bagi kalangan lain, pendekatan tersebut dinilai belum menjadi solusi nyata dan justru melanggengkan penjajahan.
Maka, solusi yang dianggap hakiki adalah melalui kekuatan politik dan militer Islam, sebagaimana diyakini pernah terjadi dalam sejarah. Penyelesaian dengan cara ini dipandang sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah Swt. untuk mengusir penjajah dari tanah Palestina.
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dari kalangan Ahli Kitab hingga mereka membayar jizyah dengan patuh.” (QS. At-Taubah: 29).
Wallahu a‘lam bi al-shawab. [An/AA]
Baca juga:
0 Comments: