Bencana Serempak Akibat Sistem Rusak, Islam Selamatkan Negeri
Oleh: Wilda Nusva Lilasari, S.M.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Jika Generasi Z kerap mengisi waktu dengan menjelajahi berbagai destinasi, realitas akhir tahun hingga awal 2026 justru memperlihatkan wajah Indonesia yang berbeda. Negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dalam kurun 1 hingga 25 Januari 2026 terjadi 128 kejadian banjir dan 15 tanah longsor yang berlangsung hampir serempak di berbagai wilayah Indonesia. Ini bukan sekadar deretan angka, melainkan alarm keras bagi seluruh rakyat. Bencana alam datang bertubi-tubi.
Tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sebagaimana dilansir iNews Bandung (1 Februari 2026), menelan puluhan korban. Di Sumatera Selatan, tepatnya Kabupaten Ogan Komering Ulu, status siaga darurat banjir dan longsor diperpanjang setelah banjir kedua melanda pada 13 Januari 2026. Di Jawa Tengah, Kabupaten Pati menetapkan status siaga bencana sejak 9 hingga 23 Januari 2026, lalu kembali diperpanjang sampai 6 Februari 2026.
Tak berhenti di situ, Pegunungan Muria di Kudus mengalami banjir bandang dan longsor pada 10 Januari 2026 yang berdampak pada lima kecamatan. Kabupaten Jember menetapkan status darurat bencana dengan 16 lokasi banjir dan 2 titik longsor pada 29 Januari 2026. Status Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor juga diberlakukan di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Bencana seolah datang tanpa jeda.
Banjir dan longsor yang terjadi di ratusan daerah dalam waktu singkat menjadi peringatan keras bahwa kerusakan alam akibat ulah manusia semakin tak terkendali. Dampaknya merusak sendi kehidupan: ekonomi lumpuh, tempat tinggal hancur, dan korban jiwa terus berjatuhan.
Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab negara dalam menata dan mengelola alam serta ruang hidup masyarakat. Tata kelola yang buruk, eksploitasi sumber daya alam secara serampangan, serta kebijakan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan menjadi faktor utama bencana yang terus berulang.
Sistem kapitalisme yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama dinilai telah mendorong eksploitasi alam tanpa batas. Ironisnya, sistem ini masih terus dipertahankan.
Gen Z, Inilah Saatnya Merenung dan Berpikir
Allah Swt. menciptakan manusia dengan akal agar digunakan untuk berpikir dan merenungkan kehidupan. Allah juga memerintahkan manusia mentadabburi alam sebagai tanda kebesaran-Nya.
Allah Swt. berfirman:
“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu mengalirkannya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu Dia menumbuhkan tanaman yang bermacam-macam warnanya…”
(QS. Az-Zumar: 21)
Ayat ini mengajak manusia untuk berpikir dan mengambil pelajaran dari fenomena alam.
Sungai, bukit, lembah, hutan, tambang, dan seluruh sumber daya alam diciptakan untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk mencelakakan mereka. Namun, alam juga dapat menjadi sebab datangnya musibah ketika manusia menyimpang dari aturan Allah.
Allah Swt. mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan alam bukan sekadar musibah alamiah, melainkan konsekuensi dari pelanggaran manusia terhadap aturan Allah. Berbagai bentuk kemaksiatan dan kezaliman menunjukkan diabaikannya hukum Allah demi kepentingan hawa nafsu.
Akar persoalan ini dinilai bersumber dari sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem tersebut, manusia merasa bebas menentukan standar benar dan salah menurut akalnya sendiri, seolah hukum Allah dapat dikesampingkan.
Islam memandang manusia sebagai khalifah fil ardh, pemimpin di bumi yang bertanggung jawab mengelola alam sesuai syariat. Kebijakan yang melanggar aturan Allah akan berujung pada kerusakan. Karena itu, paradigma sekuler perlu diganti dengan paradigma syariat Islam yang menjadikan keadilan, keseimbangan, dan keberkahan sebagai landasan.
Penerapan Islam dalam sistem negara bukan berarti bencana hilang sepenuhnya. Namun, sejarah mencatat bahwa ketika Islam diterapkan berabad-abad lamanya, dampak bencana dapat diminimalkan dan ditangani dengan cepat. Negara hadir melindungi rakyat dan memastikan pemulihan berjalan menyeluruh.
Dalam pandangan Islam, bencana adalah ujian bagi orang beriman dan peringatan bagi pelaku maksiat. Karena itu, amar ma’ruf nahi munkar menjadi kunci agar kerusakan tidak meluas.
Rasulullah ď·ş bersabda:
“Apabila zina dan riba telah merajalela pada suatu kaum, maka sungguh mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka.”
(HR. Al-Hakim)
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?
Islam menawarkan solusi menyeluruh, di antaranya:
Mitigasi bencana berbasis negara melalui pemetaan wilayah rawan dan pencegahan kerusakan lingkungan.
Pembentukan tim siaga khusus yang dilengkapi alat komunikasi, alat berat, dan sarana evakuasi yang siap diterjunkan kapan pun.
Pemulihan menyeluruh, baik fisik maupun psikologis, dengan pendanaan dari Baitul Mal serta dorongan taubat kolektif sebagai penjaga ruhiah umat.
Dengan penerapan Islam secara kaffah, solusi tersebut bukan sekadar wacana, melainkan keniscayaan.
Saatnya memilih solusi Islam untuk mengurai berbagai persoalan kehidupan.
Wallahu a’lam bissawab. [Hz/AA]
Baca juga:
0 Comments: