Headlines
Loading...

Oleh: Ummu Fahhala, S.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

SSCQMedia.ComJawa Barat tengah menghadapi persoalan serius dalam kesehatan mental anak dan remaja. Dalam beberapa bulan terakhir, muncul lima kasus dugaan bunuh diri di berbagai wilayah. Peristiwa ini bukan sekadar angka statistik, melainkan kisah sunyi tentang tekanan, kesepian, dan harapan yang runtuh. Fakta ini menjadi peringatan keras bahwa sebagian generasi muda sedang memikul beban yang terlalu berat untuk usia mereka.

Rangkaian peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan kolektif dalam menjaga jiwa anak-anak. Para pakar kesehatan mental menjelaskan bahwa rasa terisolasi, tekanan prestasi, serta minimnya dukungan emosional kerap mendorong remaja pada keputusasaan. Artinya, persoalan ini bukan insiden terpisah, melainkan tumbuh dari sistem kehidupan yang belum menyediakan ruang aman bagi jiwa muda untuk bertumbuh secara sehat.

Kekosongan Makna dalam Dunia Sekuler

Realitas ini tidak dapat dilepaskan dari tatanan kehidupan yang semakin menjauh dari nilai spiritual. Sekularisme membentuk generasi yang akrab dengan standar sukses materi, tetapi asing dengan makna hidup. Anak-anak didorong mengejar capaian akademik dan pengakuan sosial, namun kurang dibimbing memahami tujuan keberadaan mereka. Ketika kegagalan datang, mereka kehilangan pegangan karena jiwa yang kosong lebih mudah rapuh.

Berbagai kebijakan yang lahir sering bersifat reaktif. Negara menambah layanan konseling, sekolah menggelar seminar motivasi, dan masyarakat menyebarkan kampanye kepedulian. Langkah-langkah ini patut diapresiasi, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Pendekatan pragmatis cenderung meredam gejala tanpa membangun ketahanan jiwa yang mendasar. Tanpa perubahan paradigma, tragedi serupa berisiko terus berulang.

Islam dan Makna Kehidupan

Islam memandang hidup sebagai amanah yang suci dan berharga. Al-Qur’an melarang manusia mencelakakan diri serta menegaskan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan. Nilai ini menanamkan harapan sekaligus tanggung jawab dalam menghadapi ujian kehidupan.

Rasulullah saw. membangun masyarakat dengan kasih sayang, perhatian, dan ikatan iman yang kokoh. Tidak ada individu yang dibiarkan merasa sendirian dalam menghadapi masalah. Nilai kebersamaan ini melahirkan generasi yang tangguh secara mental dan tenang secara spiritual.

Dalam peradaban Islam, pendidikan tidak berhenti pada pencapaian intelektual, tetapi menanamkan makna hidup. Keluarga menjadi pusat kasih sayang dan pembinaan iman. Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat. Masyarakat membangun budaya saling menguatkan. Semua berjalan dalam satu sistem yang memuliakan manusia sebagai makhluk berjiwa, bukan sekadar objek kebijakan.

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dan berkelanjutan. Pertama, pendidikan berbasis akidah perlu ditanamkan sejak dini agar anak memahami tujuan hidup sebagai ibadah dan amanah, bukan sekadar perlombaan prestasi. Kedua, keluarga harus diperkuat sebagai ruang aman emosional melalui pola asuh penuh kasih, dialog terbuka, dan keteladanan iman. Ketiga, negara wajib memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi, meliputi pangan, pendidikan, dan kesehatan, agar tekanan hidup tidak membebani jiwa generasi muda. Keempat, masyarakat perlu dibangun dengan budaya saling peduli, bukan saling menghakimi, sehingga nilai amar makruf dijalankan dengan kelembutan dan perlindungan terhadap yang lemah.

Ketika nilai-nilai tersebut hidup dalam sistem sosial, anak-anak akan tumbuh dengan rasa aman, harapan, dan keberanian menghadapi tantangan. Inilah benteng mental yang kokoh menghadapi tekanan zaman.

Penutup

Refleksi ini menuntut keberanian untuk mengakui bahwa pendekatan hari ini belum memadai. Kita memerlukan kebijakan yang menyentuh jiwa, bukan hanya statistik, serta sistem yang membangun makna, bukan sekadar fasilitas.

Jika generasi muda terus tumbuh dalam kekosongan spiritual, angka duka akan bertambah. Sebaliknya, jika kehidupan dibangun di atas nilai ilahiah yang utuh, anak-anak akan memiliki harapan, kekuatan, dan alasan untuk bertahan dalam setiap ujian. Dari sanalah masa depan yang lebih manusiawi dapat diwujudkan. [My/WA]

Baca juga:

0 Comments: