Headlines
Loading...

Oleh: Q. Rosa
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.ComKasus bunuh diri yang dilakukan seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerabuu, Kabupaten Ngada, NTT, menambah daftar panjang meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan anak-anak. Masa kecil yang semestinya dipenuhi keceriaan dan kepolosan seharusnya mewarnai kehidupan mereka tanpa beban persoalan yang berat. 


Namun, peristiwa yang menimpa siswi sekolah dasar tersebut menunjukkan adanya persoalan yang sangat krusial, terutama dari sisi ekonomi dan kemiskinan. Seorang anak bisa merasa begitu putus asa hanya karena tidak mampu membeli alat tulis, kebutuhan dasar bagi seorang pelajar. Sungguh kondisi yang sangat miris dan memprihatinkan.

Dari sisi pendidikan, jika dikaji lebih mendalam, anak usia sekitar 10 tahun seharusnya masih berada dalam fase kepolosan—hidup penuh semangat dan keceriaan tanpa beban berat. Apabila pada usia tersebut seorang anak memilih mengakhiri hidupnya, maka hal itu menunjukkan adanya persoalan serius dalam dunia pendidikan yang perlu ditelaah secara mendalam. Pertanyaannya, sejauh mana sistem pendidikan di negeri ini mampu membentuk mental yang tangguh pada generasi muda?

Dari sisi kehidupan sosial, sistem kapitalis yang berorientasi pada materi dan uang menjadikan masyarakat hidup dalam konsep individualis, kurang peduli pada tetangga atau bahkan pada siswanya. Sejauh mana perhatian keluarga, para guru, para tetangga, dan juga negara? Hingga tak mampu mendeteksi si kecil yang berada dalam kesunyian, terdiam, merasa putus asa tanpa seorang pun yang mampu menguatkannya.

Demikianlah sistem demokrasi kapitalis ini menunjukkan ketidakmampuannya dalam menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas, serta menjamin keamanan dan kenyamanan hidup bagi generasi.

Angka Bunuh Diri Anak Tertinggi di Asia Tenggara

Komisi Perlindungan Anak Indonesia menilai bahwa kasus bunuh diri anak di Indonesia termasuk yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara (CNBC Indonesia, 14 Februari 2026).


Mestinya hal ini menjadi alarm bahaya bagi negara untuk semakin serius menjalankan program kerja yang bertumpu pada kesejahteraan rakyat. Program yang memastikan setiap anak memiliki hak hidup bahagia dalam pengasuhan orang tua atau keluarganya, terpenuhi pendidikan dasar beserta peralatan dan seluruh fasilitas yang menunjang kebutuhan sekolah mereka, serta lingkungan hidup yang aman bagi kesehatan fisik dan mentalnya.

Fakta angka bunuh diri anak yang terus meningkat menunjukkan bahwa negara harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap individu, yakni sandang, pangan, dan papan. Selain itu, kebutuhan masyarakat seperti infrastruktur, keamanan, kesehatan, dan pendidikan juga harus dijamin secara memadai.

Negara semestinya menjalankan peran utamanya, yaitu mengurus kebutuhan rakyat berupa kesejahteraan, keadilan, dan keamanan yang dapat dirasakan secara nyata. Bukan sekadar menjadi kepentingan para elite politik, kaum oligarki, ataupun segelintir pejabat negara.

Islam Memenuhi Kebutuhan Anak

Dalam Islam, kebutuhan utama anak meliputi pengasuhan, rasa aman, nyaman, dan bahagia. Ibu memiliki peran utama dalam aspek pengasuhan, sedangkan pemenuhan kebutuhan materi menjadi tanggung jawab ayah sebagai pencari nafkah. Mekanisme ini merupakan bagian dari pelaksanaan syariat.


Mekanisme berikutnya, apabila ayah tidak mampu atau telah meninggal dunia, maka kewajiban nafkah anak beralih kepada walinya dari jalur ayah. Dalam Islam, negara berkewajiban memastikan mekanisme ini berjalan sebagaimana mestinya, sehingga kebutuhan nafkah anak tetap terpenuhi dengan baik.

Selanjutnya, apabila tidak ada wali dari jalur ayah atau mereka tidak mampu, maka kewajiban nafkah anak menjadi tanggung jawab negara. Negara wajib memberikan jaminan sandang, pangan, dan papan demi keberlangsungan hidup serta kesejahteraan anak.

Pendidikan Islam untuk Anak

Islam mewajibkan negara menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh rakyat tanpa diskriminasi dan tanpa biaya. Fasilitas pendidikan harus merata, baik di kota maupun di pelosok desa, dengan sarana yang nyaman dan aman.


Kurikulum pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk syaksiyah Islamiyah, yaitu pribadi bertakwa yang tangguh secara mental serta memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan. Karena itu, selain pembenahan kurikulum, negara juga berkewajiban menjaga ruang publik, termasuk media elektronik dan media sosial, agar dipenuhi tayangan yang positif dan tidak merusak mental generasi.

Lingkungan Sosial yang Aman dan Nyaman

Kehidupan masyarakat dalam Islam akan dipenuhi suasana keimanan. Amar makruf nahi mungkar menjadi budaya untuk saling mengingatkan dan mengontrol dalam ketaatan terhadap syariat Islam. Nuansa ukhuwah yang kuat menjadikan masyarakat saling mencintai, saling menjaga, saling peduli, dan saling menghormati. Kondisi ini akan menjamin anak-anak memperoleh kebahagiaan dan rasa nyaman hidup di tengah masyarakat, karena adanya kepedulian yang tinggi terhadap pertumbuhan mental dan fisik generasi.

Sementara itu, negara akan menerapkan sistem sanksi yang memberikan efek jera bagi para pelaku kriminal yang membahayakan kehidupan masyarakat. Termasuk menertibkan dan menghukum pihak-pihak yang menayangkan konten negatif yang merusak serta membahayakan mental anak.

Untuk menyelenggarakan seluruh mekanisme tersebut tentu dibutuhkan pembiayaan yang besar. Dalam hal ini, Islam memiliki sistem pendapatan negara yang tidak bertumpu pada pajak sebagai sumber utama. Baitulmal sebagai lembaga keuangan negara memiliki tiga sumber pemasukan. 

Pertama, harta negara seperti fai’m, jizyah, kharaj, serta harta sitaan dari kasus ghulul dan lainnya. Kedua, harta dari kepemilikan umum, yaitu hasil pengelolaan sumber daya alam oleh negara. Ketiga, zakat yang dipungut dan disalurkan sesuai ketentuan syariat.

Dengan sumber pendapatan yang beragam tersebut, negara memiliki kemampuan untuk menopang penyelenggaraan seluruh mekanisme pelayanan, baik bagi anak-anak maupun masyarakat secara umum.

Demikianlah, Islam memiliki mekanisme yang komprehensif untuk menjamin kehidupan yang bahagia dan nyaman bagi anak, serta menyediakan pendidikan gratis tanpa membebani orang tua, apalagi anak. [Ni/Des]

Baca juga:

0 Comments: