Judul: Wonderful Moms
Penulis: Nur Sillaturohmah H., Lc.
Tebal: 228 halaman
Cetakan pertama: Oktober 2022
Penerbit: Qaaf Kreasi Media
ISBN: 978-623-99954-3-0
Peresensi: Naila Dhofarina Noor
SSCQMedia.Com—Menjadi ibu bukanlah hal yang mudah. Tidak jarang muncul rasa tidak berharga bahkan tidak berdaya dalam menjalani peran yang sejatinya sangat istimewa. Hadirnya buku Wonderful Moms seolah memberikan pelukan dan penguatan agar para ibu kembali merasa hebat, bersemangat, dan senantiasa taat.
Bab pertama buku ini menggambarkan kedudukan ibu yang begitu luar biasa dalam Islam. Di antaranya, ibu adalah pintu surga, doanya mustajabah, serta rida Allah bergantung pada rida ibu. Amanah mulia yang berpahala besar seperti melayani suami, mengandung, melahirkan, menyusui, hingga mendidik buah hati, Allah khususkan kepada seorang ibu. Bahkan, kondisi haid, nifas, dan kelelahan dalam menjalankan aktivitas rumah tangga dapat menjadi penggugur dosa bagi ibu.
Bab kedua membahas kiat-kiat menjadi ibu tangguh yang tidak mudah rapuh. Dimulai dari menghiasi lisan dengan zikir dan membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, serta terus berupaya bersabar dalam menjalani amanah sebagai ummun wa rabbatul bait. Keikhlasan harus senantiasa dijaga agar setiap amal tidak menjadi sia-sia. Selain itu, ibu juga diingatkan untuk menjaga pola hidup sehat dan membiasakan diri bersyukur sebagai kunci menjadi ibu yang bahagia.
Pada bab ketiga, para pembaca, khususnya para ibu, diajak untuk lebih mendalami perannya sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anak. Salah satu pembahasannya adalah tahapan membiasakan anak dalam beribadah. Penulis menjelaskan tiga tahapan pendidikan ibadah pada halaman 124 sampai 130, yang diringkas sebagai berikut:
Pertama, tahapan ta’rif, dimulai sejak anak dalam kandungan hingga usia tujuh tahun. Pada usia dua tahun, anak dikenalkan ibadah melalui pembiasaan bahasa sehari-hari, seperti mengucapkan basmalah dan hamdalah, serta melalui visual dengan memperlihatkan gerakan salat. Usia tiga hingga enam tahun, anak diajak ikut beribadah dan difasilitasi dengan cara yang menyenangkan, bukan dengan ancaman. Di akhir tahapan ini, anak dapat mulai diajak menghafal doa-doa, bacaan salat, serta belajar membaca Al-Qur’an.
Kedua, tahapan ta’wîd pada usia tujuh hingga sepuluh tahun, yaitu sebelum anak mencapai akil balig atau mukalaf. Pada tahap ini, anak mulai diperintahkan untuk menjalankan ibadah secara rutin dan dikenalkan dengan lima hukum syariat, yaitu wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Ibadah anak dievaluasi, seperti wudu, salat, bacaan Al-Qur’an, dan menutup aurat. Jika belum benar, orang tua perlu mendampingi hingga anak mampu melakukannya dengan baik tanpa hukuman fisik. Anak usia sembilan hingga sepuluh tahun juga mulai diberikan pemahaman tentang pubertas dan taklif.
Ketiga, tahapan takwîn dan tanfîdz pada usia sepuluh tahun atau setelah akil balig. Pada tahap ini, anak dievaluasi secara lebih tegas dan diharapkan telah terbiasa beribadah. Apabila anak enggan salat, hukuman fisik diperbolehkan sesuai syariat. Ibu juga dituntut lebih banyak berdiskusi layaknya sahabat agar dapat masuk ke dunia anak yang sedang berada pada masa pubertas. Pola komunikasi tidak lagi sebatas instruksi sebagaimana tahap sebelumnya. Dengan pendekatan ini, anak diharapkan memiliki pemahaman keimanan yang mendalam serta kemandirian dalam beribadah.
Bab keempat dan kelima menyajikan inspirasi berupa jadwal harian dan kisah sembilan wonderful moms. Jadwal harian tersebut merujuk pada manajemen waktu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Adapun kisah para ibu inspiratif yang diangkat antara lain sebagai berikut.
Ibunda Ismail, ibu tegar meski harus berjauhan dengan suami
Maryam, ibu yang tetap taat meski menghadapi fitnah berat
Khadijah, ibu yang setia dan rela berkorban
Ummu Sulaim, ibu yang memiliki visi besar
Asma’, ibu pemberani dan periwayat hadis
Aisyah, ummul mukminin yang cerdas
Fathimah binti Ubaidillah, ibunda Imam Syafi’i yang meski seorang ibu tunggal, sangat memperhatikan pendidikan putranya hingga menjadi ulama besar
Shafiyyah binti Maimunah, ibunda Imam Ahmad bin Hanbal yang juga seorang ibu tunggal dengan peran besar dalam mendidik putranya
Ibunda Imam Bukhari, ibu yang tak pernah lepas mendoakan putranya hingga menjadi maestro ilmu hadis
Sebagai penutup, buku ini dilengkapi dengan enam belas doa yang dapat menjadi bekal para ibu dalam menjalani peran sehari-hari.
Salah satu kutipan menarik dalam buku ini terdapat pada halaman 88 yang membahas tentang keikhlasan,
“Sebagai seorang ibu dengan seabrek tanggung jawab, jangan terlalu memaksakan diri hingga kelelahan. Jika lelah, beristirahatlah untuk mengumpulkan kembali tenaga dan energi, sehingga semua akan baik-baik saja. Kelelahan sering kali menghilangkan keikhlasan, bahkan dapat menghilangkan sabar dan syukur sekaligus. Na’udzubillahi min dzalik.”
MasyaAllah, buku ini sangat bermanfaat bagi para ibu dalam berbagai kondisi untuk menguatkan diri dan menjadi Wonderful Moms. [My/EKD]
Baca juga:
0 Comments: