Oleh: Dela
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Pertama-tama, adakah di antara kita yang sudah pernah menonton film Netflix berjudul The Social Dilemma? Film ini merupakan perpaduan antara dokumenter dan drama yang menampilkan bahaya media sosial bagi manusia, disampaikan langsung oleh para ahli teknologi yang terlibat dalam pengembangannya (Kompasiana.com, 10 Juli 2025). Meskipun film tersebut dirilis pada tahun 2020, realitas yang digambarkan di dalamnya terasa semakin nyata pada hari ini.
Secara singkat, film tersebut menjelaskan bahwa media sosial memang mampu menghubungkan manusia di seluruh dunia, sebuah hal yang tampak sangat positif. Namun, tanpa disadari, telah terjadi perubahan sistematis dalam kehidupan global hanya karena keberadaan sebuah platform digital. Beragam persoalan muncul, dengan kesimpulan utama berupa terkikisnya struktur sosial masyarakat.
Era digital adalah keniscayaan. Di dalamnya terdapat banyak kemudahan, tetapi juga menyimpan pengaruh buruk. Facebook, X, Threads, Instagram, TikTok, YouTube, Pinterest, dan berbagai platform lainnya membuat generasi Z terpaku dan menghabiskan banyak waktu di dalamnya. Perubahan yang terjadi berlangsung perlahan, kecil, dan nyaris tak terlihat, namun secara signifikan memengaruhi perilaku dan cara pandang. Sedikit demi sedikit, media sosial mengubah apa yang kita lakukan, bagaimana kita berpikir, dan bahkan siapa diri kita.
Perubahan inilah yang kemudian mengarah pada penguatan kapitalisme. Perhatian manusia diolah, data dikumpulkan, algoritma diatur, dan iklan dimunculkan demi keuntungan pemilik modal. Media sosial tidak hanya mengendalikan perhatian, tetapi juga menyusup ke dalam ranah psikologis, bahkan hingga memengaruhi bagian terdalam otak manusia. Akibatnya, harga diri dan identitas generasi, khususnya generasi Z, perlahan diambil alih oleh sistem tersebut.
Generasi Z kerap dipandang sebagai generasi yang lemah. Namun di sisi lain, mereka memiliki potensi kritis dan kemampuan untuk menginisiasi perubahan sosial melalui media digital. Generasi ini sangat mahir memanfaatkan platform digital dalam konteks penguatan pemikiran dan gerakan sosial. Aktivisme digital menjadi salah satu ciri kuat generasi ini. Namun perlu disadari bahwa ruang digital bukanlah ruang yang netral, karena didominasi oleh nilai-nilai sekuler kapitalistik yang menjunjung kebebasan individu tanpa batas dalam berpendapat, mengekspresikan emosi, dan menyebarkan ide. Semua itu bergerak di bawah sistem rekomendasi yang bertujuan mengejar popularitas dan keuntungan materi.
Di tangan generasi Z, media sosial memang memiliki nilai positif. Ia membuka ruang bagi aktivisme lokal, memudahkan akses pembelajaran dan informasi, serta memperluas jaringan pertemanan. Namun, sisi negatifnya juga tidak dapat diabaikan. Banyak generasi muda mengalami gangguan mental, merasa lebih cemas, rapuh, dan tertekan. Dilansir dari DetikNews, Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan menunjukkan bahwa 5,5 persen remaja usia 10 hingga 17 tahun mengalami gangguan mental. Rinciannya, 1 persen mengalami depresi, 3,7 persen mengalami kecemasan, 0,9 persen mengalami gangguan stres pascatrauma, dan 0,5 persen mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Selain itu, survei di 26 negara, termasuk Indonesia, juga menemukan bahwa penggunaan media sosial meningkatkan tingkat kecemasan generasi Z lebih besar dibanding generasi sebelumnya.
Lebih jauh, muncul pula arus pemikiran yang berseberangan dengan ajaran Islam. Agama mulai dipertanyakan bukan melalui proses pencarian kebenaran yang otentik, melainkan akibat perdebatan teologis di media sosial. Akibatnya, generasi ini seolah memiliki nilai yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Cara pandang dan sikap mereka tampak kontras. Pergerakan generasi Z cenderung pragmatis, haus validasi, dan sangat terikat dengan dunia digital sebagai karakter digital native. Jumlah tanda suka, komentar, dan pengikut kerap dianggap sebagai puncak perjuangan.
Padahal, menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, perubahan hakiki tidak cukup dilakukan melalui gerakan emosional atau spontan, melainkan harus bertumpu pada pemikiran ideologis Islam. Tanpa itu, gerakan hanya akan menjadi fenomena musiman yang bergantung pada apa yang sedang tren di media sosial.
Oleh karena itu, penting untuk menyelamatkan generasi dari hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik. Bukan dengan menghindari kemajuan teknologi, melainkan dengan membangun kesadaran untuk menggunakan teknologi secara bijak. Salah satu langkah utama adalah mengubah paradigma berpikir sekuler menjadi paradigma berpikir Islam. Teknologi, termasuk media sosial, bukanlah tujuan hidup, melainkan sarana. Kerangka berpikir Islam harus kembali ditanamkan dengan menjadikan syariat Allah sebagai pusat orientasi pemikiran dan perilaku.
Pergerakan generasi Z perlu diarahkan agar mampu memberikan solusi sistemis dan ideologis berdasarkan Islam. Jika paradigma Islam benar-benar digenggam, media sosial tidak akan mampu mengubah jati diri mereka, justru menjadi sarana penyebaran nilai-nilai Islam. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara.
Pertama, keluarga. Keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan moral anak sesuai nilai-nilai Islam. Tidak hanya sebatas pengawasan teknis penggunaan gawai, tetapi juga penguatan pendidikan akidah dan pemahaman Islam.
Kedua, masyarakat. Dalam Islam, perubahan masyarakat bukanlah proyek instan, melainkan menyangkut iman, akhlak, dan sistem kehidupan. Masyarakat berperan membangun lingkungan yang mendorong interaksi sehat dan produktif.
Ketiga, negara. Menurut pandangan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, negara memiliki fungsi strategis dalam mencetak generasi berkepribadian Islam melalui sistem pendidikan, kebijakan media dan teknologi informasi, ekonomi, hingga politik luar negeri.
Apabila ketiga unsur ini berjalan selaras, era digital tidak akan menjadi ancaman, melainkan sarana pembentuk generasi pelopor perubahan yang sahih. Perubahan yang tidak sekadar mengejar viralitas, tetapi bernilai, bermakna, dan diridai Allah. [My/Ekd]
Baca juga:
0 Comments: