Headlines
Loading...

 

Oleh: Aqilah Azimatturrahmah
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com – Apakah kalian gemar menonton drama Korea atau membaca manhwa bergenre aksi fantasi? Jika iya, tentu kalian tidak asing dengan sosok yang disebut “pahlawan”, yaitu seseorang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Atau sosok pejuang yang gagah berani. Siapakah tokoh favorit kalian? Cha Eun Woo, Song Kang, atau mungkin para pahlawan dari Avengers seperti Spider-Man, Iron Man, dan tokoh lainnya.

Namun, pernahkah terlintas di benak kalian tentang sosok pahlawan nyata yang benar-benar menegakkan kebenaran di tanah suci umat Islam, sekaligus kiblat pertama kaum muslimin? Kalian sudah menebak siapa beliau? Ya, beliau adalah Shalahuddin Al-Ayyubi, seorang tokoh muslim terkemuka yang sangat dihormati karena berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan tentara Salib pada tahun 1187 M, setelah hampir 90 tahun berada dalam pendudukan.

Shalahuddin Al-Ayyubi juga dikenal sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, dan sangat peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya. Di samping itu, beliau memiliki strategi militer yang cerdik dan efektif. Lantas, pernahkah kita berpikir bagaimana Shalahuddin Al-Ayyubi tumbuh menjadi sosok yang pemberani, tegas, serta memiliki visi dan misi yang mulia?

Jawabannya tidak lepas dari peran orang tua beliau. Ayah dan ibunda Shalahuddin Al-Ayyubi merupakan pribadi yang saleh dan salehah, dengan tujuan yang sama, yakni menginginkan masa depan terbaik bagi Baitul Maqdis. Mereka mendidik generasi penerus dengan sungguh-sungguh hingga Shalahuddin tumbuh menjadi seorang pemuda dan ksatria yang mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Ayah beliau bernama Najmuddin Ayyubi, seorang pemimpin kastil yang tinggal di Tikrit, Irak, sedangkan ibundanya bernama Sit Khatun. Shalahuddin Al-Ayyubi menghabiskan masa kecilnya di Baalbek pada tahun 534 H atau 1140 M.

Sebagaimana kebiasaan anak-anak pada masa itu, Shalahuddin senantiasa menghadiri majelis ilmu untuk belajar membaca, menulis, dan menghafal Al-Qur’an. Pada usia 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikan ke Damaskus selama kurang lebih sepuluh tahun. Di kota tersebut, Shalahuddin Al-Ayyubi mempelajari berbagai ilmu agama sekaligus ilmu kemiliteran. Dari sinilah terbentuk pribadi yang kokoh secara spiritual dan tangguh dalam perjuangan.

Oleh karena itu, sebagai pemuda muslim, sudah sepatutnya kita meneladani semangat juang Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Baitul Maqdis.

Jika kita melihat kondisi saat ini, Palestina masih berada dalam penjajahan. Selama lebih dari dua tahun, rakyat Palestina mengalami genosida oleh Israel. Mereka menderita kelaparan, kehilangan tempat tinggal, dan lebih dari 67 ribu warga Palestina menjadi korban kebiadaban Zionis Israel (bbc.com, 23/08/2025). Sudah seharusnya umat Islam menyerukan pembebasan Palestina dan tidak membiarkannya berjuang sendirian.

Palestina adalah bagian dari umat Islam. Umat Islam bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian terluka, maka bagian lainnya turut merasakan sakit. Pemuda muslim hendaknya berani menyerukan pembebasan Palestina dan mengusir Zionis Israel dari tanah Palestina.

Inilah yang dahulu dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau menyeru seluruh wilayah Islam pada masanya ketika Baitul Maqdis berada di bawah kekuasaan tentara Salib. Wahai kawan, sebagai pemuda Islam, kita pun harus berjuang menyerukan pembebasan Palestina.

Perjuangan itu tidak harus menunggu kita menjadi tentara atau penguasa. Pembelaan terhadap Palestina dapat dilakukan melalui goresan tinta, menuangkan gagasan, serta menyebarkan informasi dan kepedulian melalui media sosial tentang kondisi Palestina terkini. Siapakah lagi yang akan menyerukan pembebasan Palestina jika bukan kita?

Pemuda muslim tidak boleh diam saat melihat kemungkaran. Beranilah menyerukan Free Palestine, karena kitalah generasi penerus perjuangan itu, the next Shalahuddin. [Hz/HEM]


Baca juga:

0 Comments: