Oleh: Ida Yani
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Presiden Prabowo Subianto mengatakan timbunan lumpur pada bencana banjir di Aceh yang lalu ternyata menarik perhatian beberapa pengusaha untuk diberdayakan. Ia tidak menolak niat baik pihak tersebut, untuk menambah pendapatan wilayah tersebut. Menurut Gubernur Aceh, lumpur bisa diambil di berbagai tempat mulai dari sungai, sawah, dan beberapa tempat yang lain. Prabowo mempersilakan pihak yang berkepentingan untuk mengkaji dan menindaklanjuti, mengingat baiknya pemanfaatan lumpur banjir ini (daerah.sindonews.com, 1/1/2026).
Menurut Presiden Prabowo, pengambilan lumpur dapat menyegerakan pemulihan fungsi sungai yang dangkal akibat endapan yang menumpuk. Terkait hal itu, Menteri Sjafrie mengungkapkan rencana koordinasinya dengan TNI. Dalam rencana normalisasi kuala ini telah terbagi menjadi beberapa pos terperinci, dan segera beroperasi dua minggu kedepan (tempo.com, 1/1/2026).
Waktu mengalir dengan cepat, akan tetapi kehidupan korban bencana berubah sangat lambat. Mereka masih menghadapi berbagai masalah seputar dampak bencana. Semuanya masih berulang pada kalimat pemulihan. Dari pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, hingga pemulihan infrastruktur, langkah rehabilitasinya terasa sangat lamban.
Hingga ke penjuru belahan bumi lain pun ikut merasakan kesedihan para korban. Meski telah terdengar betapa riuhnya jerit permintaan tolong dari mereka, namun terasa langkah kemanusiaan itu seolah ikut tenggelam bersama endapan lumpur yang menggunung, melekat kuat pada pemikiran berlandaskan kapitalis materialistis.
Dan ketika kaum pengusaha swasta mulai melirik eksploitasi gunungan lumpur berstandar kapital yang menguntungkan, mulailah para pejabat bergerak dengan harapan keuntungan materi. Penderitaan warga tak jadi landasan kebijakan tindakan. Biarlah rakyat berupaya sendiri mengatasi kesulitan pemenuhan kebutuhan yang lebih mendesak untuk dipenuhi. Penguasa yang menjadi harapan rakyat tak lagi memiliki rasa tanggung jawab terhadap penderitaan umat. Berlepas tangan tanpa beban.
Sistem pemerintahan negeri ini telah menjadikan segala kebijakan harus memberikan keuntungan materi. Maka langkah penyelamatan korban bencana pun juga tidak sesuai kelayakan langkah prosedur pertolongan korban. Harusnya standar kemanusiaan yang tampil, akan tetapi di sini yang muncul adalah jiwa bisnis pengeruk materi. Memang terasa sadis untuk rakyat yang sedang menangis meregang penderitaan. Tapi mental kapital telah kebal dengan rasa welas asih.
Dalam kondisi miris ini, terasa hanya Islam yang mampu memberi naungan. Tergambar betapa welas asihnya para khalifah pada masa pemerintahannya. Umar bin Khattab yang gagah berani di medan perang, begitu mencintai rakyat yang kekurangan bahan makanan. Dengan rasa tanggung jawabnya sebagai pengurus umat, beliau rela bersusah payah berjalan mengelilingi negeri. Demi melihat sendiri bagaimana keadaan umat yang menjadi tanggung jawabnya per individu. Dan ketika Umar menemukan ada rakyat yang kelaparan, dengan rasa tanggung jawab beliau mengangkat sendiri bahan makanan, hingga menyuapkan langsung makanan tersebut pada rakyatnya.
Pada masa pemerintahan Umar juga pernah terjadi bencana paceklik di Madinah. Beliau segera menyiapkan tempat pengungsian. Lalu memerintahkan Gubernur Syam dan Mesir mengirim bantuan. Jadi ketika seorang pemimpin memiliki tanggung jawab sebagai pengurus umat tidak akan terjadi bencana yang begitu memprihatinkan seperti saat ini. Pemerintah tidak akan berlama-lama membiarkan rakyat dalam penderitaan akibat bencana. Seluruh sumber daya negara untuk kesejahteraan umat. Tentu saja pada kondisi bencana yang diutamakan adalah tindakan penyelamatan jiwa, kemudian pemulihan dan perlindungan.
Dengan demikian para korban bencana akan segera pulih secara mental, ekonomi, dan kehidupan sosial. Seorang khalifah tidak akan mencari keuntungan materi untuk diri sendiri ataupun kelompok. Apalagi dalam kondisi bencana alam. Seorang khalifah dengan landasan kepribadian Islam, memandang seluruh negeri beserta isinya sebagai amanah yang harus dijaga dan dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Khalifah wajib menjamin terpenuhinya semua kebutuhan rakyat, terutama kebutuhan dasar. Tak ada kata eksploitasi pada rakyat. Dengan ini maka akan hadir rasa kepedulian, keadilan, dan perlindungan. Terhadap alam ada rasa tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya. Seorang pemimpin berkarakter Islam mampu menghadirkan kehidupan negara yang harmonis dan selaras dalam segala lini kehidupan. Wallahualam. [Ni/Wa]
Baca juga:
0 Comments: