Ketika Kerusakan Dinormalisasi di Dunia Digital
Oleh: Gesti Ghassani
(Aktivis Muslimah)
SSCQMedia.com—Di tengah derasnya arus konten digital hari ini, keheningan justru menjadi sikap yang paling berbahaya. Kita mengetahui bahwa ruang digital dipenuhi berbagai konten merusak, seperti pornografi, judi daring, kekerasan verbal, hingga narasi yang mengaburkan ajaran Islam.
Terbaru, pemerintah Indonesia pada 10 Januari 2026 untuk sementara memblokir akses ke chatbot berbasis kecerdasan buatan Grok karena risiko konten pornografi dan citra seksual yang bersifat eksploitatif, termasuk yang melibatkan anak-anak (Kompas.com, 10 Januari 2026).
Lebih jauh, data resmi pemerintah mencatat bahwa lebih dari 3 juta konten negatif telah ditangani sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2025. Konten tersebut mencakup lebih dari 600 ribu konten pornografi, ribuan konten pornografi anak, serta jutaan konten judi daring yang mudah diakses publik (Antaranews.com, 24 Oktober 2025). Fakta ini menegaskan bahwa kerusakan di ruang digital bukanlah insiden sporadis, melainkan persoalan yang meluas dan sistemik.
Namun, persoalannya, pemblokiran semata tidak pernah menyentuh akar masalah. Situs dapat diblokir hari ini, tetapi esok hari akan muncul kembali dengan nama, platform, dan teknologi yang baru. Tanpa edukasi ideologis yang kuat serta penguatan akidah sejak dini, generasi hanya dipindahkan dari satu celah ke celah lain. Negara seolah sibuk menutup pintu, tetapi membiarkan rumah tanpa fondasi iman yang kokoh.
Inilah sebabnya banyak dari kita masih terjebak dalam sikap abai. Kerusakan digital dianggap sebagai konsekuensi zaman, lalu ditenangkan dengan ungkapan, “yang penting iman di hati.” Padahal, hidup ini hanya sementara. Segala bentuk pembiaran terhadap kerusakan di dunia yang sementara ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat yang kekal.
Allah Swt. mengingatkan, “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau…” (QS. al-Hadid: 20). Ayat ini bukan sekadar larangan mencintai dunia, melainkan peringatan agar manusia tidak tertipu oleh kenyamanan semu yang menjauhkan dari tujuan hidup yang hakiki.
Kerusakan hari ini tidak lagi hadir melalui kekerasan fisik, melainkan lewat proses normalisasi. Konten yang merusak akal dan iman dikemas secara lucu, ringan, dan terasa wajar. Akibatnya, lahir generasi muslim yang terbelah. Mereka rajin beribadah secara personal, tetapi menolak Islam mengatur kehidupan. Mengaku beriman, namun standar berpikir dan bertindaknya sekuler.
Masalah ini jelas bukan sekadar kegagalan individu. Ini adalah kegagalan sistem. Ruang digital tumbuh tanpa visi penjagaan akidah dan akhlak. Negara dalam sistem sekuler gagal hadir sebagai pelindung generasi. Regulasi bersifat reaktif, edukasi minim arah ideologis, sementara arus kerusakan terus diproduksi dan dikonsumsi secara massal.
Rasulullah saw. bersabda, “Imam atau pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa melindungi generasi dari kerusakan bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan kewajiban negara.
Lebih dari itu, kita harus jujur mengakui bahwa yang sedang terjadi adalah perang pemikiran. Dalam perang ini tidak ada posisi netral. Diam berarti membiarkan kebatilan menang. Sementara itu, Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem hidup yang mengatur dan melindungi manusia secara menyeluruh.
Karena itu, solusi parsial seperti pemblokiran konten tanpa arah pembinaan iman tidak akan pernah cukup. Islam membutuhkan institusi yang menerapkannya secara kaffah. Khilafah sebagai institusi politik Islam berfungsi sebagai ra‘in atau pengurus dan junnah atau perisai yang menjaga rakyat, termasuk di ruang digital, dengan memastikan kebaikan ditumbuhkan dan keburukan dicegah sejak dari akarnya.
Hidup ini singkat dan dunia ini sementara. Jangan sampai kita terlalu sibuk beradaptasi dengan kerusakan hingga lupa bahwa kita akan kembali kepada Allah. Sudah saatnya berhenti abai, berhenti netral, dan mulai berpihak pada kebenaran. Sebab, pada akhirnya, bukan hanya apa yang kita lakukan yang akan ditanya, tetapi juga mengapa kita memilih diam ketika Islam dilemahkan dan generasi dibiarkan rusak.
Wallahualam bissawab.
[Hz/EKD]
Baca juga:
0 Comments: