Headlines
Loading...
Sinergi Umat Menyiapkan Generasi Tangguh

Sinergi Umat Menyiapkan Generasi Tangguh

 

Oleh: Ummu Fahhala
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

SSCQMedia.Com—Generasi muda hari ini hidup di tengah arus informasi digital yang nyaris tak terbendung. Media sosial, platform video, gim daring, dan berbagai aplikasi digital telah menjadi ruang hidup kedua bagi mereka.

Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan akses pengetahuan. Namun, di sisi lain, ia menghadirkan tantangan besar yang berpotensi melalaikan generasi muda dari peran riil dalam kehidupan. Tingginya durasi layar bukan sekadar persoalan teknis, melainkan masalah peradaban yang menyentuh cara berpikir, orientasi hidup, serta arah perjuangan generasi.

Algoritma dunia maya bekerja secara sistematis membentuk preferensi, emosi, bahkan keberpihakan pengguna. Generasi muda yang belum memiliki benteng pemikiran yang kokoh mudah terjebak dalam pusaran konten yang tampak kritis, progresif, dan membela keadilan, tetapi sejatinya diarahkan pada solusi-solusi parsial.

Kritik terhadap kezaliman penguasa memang menjadi indikasi kesadaran yang baik. Namun, tanpa arah ideologis yang sahih, kritik tersebut berisiko berhenti pada aktivisme emosional yang mudah dikompromikan oleh kepentingan kekuasaan.

Secara faktual, generasi muda merupakan pasar potensial bagi industri digital global. Produk, konten, dan narasi yang beredar bukanlah sesuatu yang netral. Seluruh jejak digital mereka menjadi tabungan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan selera, pola pikir, hingga pandangan hidup.

Di sinilah ide-ide sekuler dan liberal menemukan ruang yang subur. Narasi kebebasan individual, relativisme moral, serta pemisahan agama dari kehidupan publik disebarkan secara masif dan berulang hingga dianggap sebagai kebenaran yang wajar.

Kondisi ini menuntut adanya benteng yang kuat. Benteng pertama dan utama adalah cara pandang hidup yang sahih, yakni yang bersumber dari Sang Khalik, bukan dari akal manusia yang terbatas atau kepentingan kapitalisme global. Allah Swt. berfirman, “Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. An-Nisa: 59).

Ayat ini menegaskan bahwa standar berpikir dan bersikap seorang Muslim harus dikembalikan kepada wahyu. Tanpa fondasi tersebut, generasi muda akan terus berada dalam kebingungan arah. Mereka merindukan perubahan, tetapi masih mengambil solusi-solusi parsial. Akibatnya, lahirlah aktivis-aktivis prematur yang lantang di awal, tetapi mudah tergiur jabatan, popularitas, atau kompromi politik.

Islam tidak menghendaki kaum muda sekadar menjadi peniru aktivis liberal, meskipun berlabel Muslim. Aktivisme semacam ini pada hakikatnya hanya menjadi bemper bagi sistem kapitalisme, bukan kekuatan perubahan yang hakiki. Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang suatu masa kepada manusia, di mana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini menggambarkan beratnya istiqamah di tengah arus pemikiran menyimpang, sekaligus menegaskan bahwa keteguhan ideologis merupakan keniscayaan bagi generasi beriman.

Dalam konstruksi Islam, generasi muda memiliki potensi besar sebagai makhluk Allah. Mereka dibekali gharizah, hajatul ‘udhawiyah, dan akal. Potensi ini dapat mengantarkan pada ketakwaan dan ketangguhan, atau sebaliknya, pada kerusakan dan penyimpangan, bergantung pada lingkungan yang membentuknya. Oleh karena itu, mereka membutuhkan suasana kondusif yang sarat dengan jawwul iman yang hidup dan membumi.

Lingkungan tersebut tidak mungkin terwujud secara parsial. Diperlukan sinergi seluruh elemen umat, meliputi keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, partai politik Islam ideologis, dan negara. Keluarga menjadi fondasi awal penanaman akidah dan akhlak. Masyarakat berperan menjaga atmosfer sosial yang sehat. Sementara itu, partai politik Islam ideologis berfungsi sebagai tulang punggung pembinaan umat secara menyeluruh.

Peran partai politik Islam ideologis bukan sekadar kontestasi kekuasaan, melainkan melakukan muhasabah lil hukam, membuka ruang bagi suara kritis generasi muda, serta mencerdaskan umat dengan pemikiran Islam yang sahih. Allah Swt. berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104).

Ayat ini menegaskan pentingnya kerja kolektif dan terorganisasi dalam menjaga arah umat. Tanpa sinergi sistemis, potensi besar generasi muda akan terbuang sia-sia atau bahkan dimanfaatkan oleh kepentingan yang merusak.

Dengan demikian, mewujudkan generasi bertakwa dan tangguh bukanlah tugas satu pihak semata. Ia merupakan proyek peradaban yang menuntut kesadaran kolektif dan sinergi seluruh elemen umat. Ketika keluarga, masyarakat, kekuatan politik ideologis, dan negara berjalan dalam satu arah ideologis yang sahih, generasi muda tidak hanya kritis terhadap kezaliman, tetapi juga matang secara pemikiran, teguh secara iman, serta siap menjadi pemimpin peradaban Islam di masa depan. [Rn/En]

Baca juga:

0 Comments: