Bencana Bertubi-tubi, Saatnya Evaluasi
Oleh: Annis Ummu Alisha
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Bencana longsor hingga banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh. Beberapa daerah lain di Indonesia pun mengalami bencana serupa. Terbaru, banjir bandang melanda Balangan, Kalimantan Selatan.
Bencana alam tersebut telah memakan ribuan korban jiwa. Rumah serta harta benda warga sirna, sebagian besar terkubur lumpur. Para korban selamat pun tidak lepas dari penderitaan. Mereka harus bertahan dalam kondisi minim makanan dan air bersih, terbatasnya fasilitas kesehatan, serta ancaman berbagai penyakit yang mulai merebak.
Tidak hanya manusia, beragam satwa turut merasakan pilunya banjir bandang. Gajah yang berjalan terseok-seok, harimau Sumatra yang tak berdaya terseret arus, hingga puluhan satwa lain yang akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Kepiluan ini tidak semata disebabkan oleh perubahan iklim. Para ahli menyebutkan bahwa kerusakan ekologis menjadi salah satu biang utama bencana. Hutan Sumatra yang dahulu hijau dan rimbun kini kehilangan fungsinya. Pohon-pohon besar telah ditebang, akar-akar kuat yang dahulu menahan air kini tak lagi ada. Akibatnya, saat hujan lebat turun, banjir pun tak terelakkan.
Gundulnya hutan merupakan gambaran sesat pola pikir kapitalisme. Mentalitas mengejar keuntungan semata mengabaikan dampak lingkungan. Keuntungan dinikmati segelintir pengusaha yang mendapat restu pemerintah, sementara kerugian harus ditanggung rakyat. Tidak hanya kerugian materi, rakyat juga kehilangan orang-orang tercinta.
Dalam Islam, sumber daya alam adalah milik umum. Artinya, tidak seorang pun boleh menguasainya secara pribadi. Negara wajib mengelola kepemilikan umum tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan seluruh masyarakat.
Pemimpin dalam Islam akan senantiasa memperhatikan perintah dan larangan Allah, termasuk perintah untuk menjaga alam semesta. Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, setiap aturan yang lahir harus sejalan dengan upaya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Negara dalam sistem Islam siap mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pencegahan bencana. Penguasa hanya akan mengangkat pejabat yang memiliki ketakwaan dan keilmuan yang mumpuni, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak menyusahkan rakyat.
Bencana ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk segera keluar dari sistem sekuler kapitalisme yang sesat dan merugikan. Bencana juga memanggil kita untuk berhijrah menuju sistem yang mendatangkan rida Allah, yakni sistem Islam.
Wallahualam bissawab. [Rn/En]
Baca juga:
0 Comments: