Oleh: HN Izzati
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com — Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar ungkapan seperti berikut:
“Kita mayoritas muslim, tapi kayaknya Jepang jauh lebih islami daripada Indonesia.”
“Singapura jauh lebih islami karena tertata lebih rapi.”
Dan ungkapan serupa lainnya.
Sekilas, pernyataan-pernyataan tersebut terdengar masuk akal. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, apa sebenarnya makna ‘islami’ yang dimaksud?
Sebagian orang menilai Jepang atau Singapura yang penduduknya mayoritas bukan muslim lebih islami daripada Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Penilaian ini biasanya didasarkan pada hal-hal seperti kejujuran, ketertiban, adab yang dijunjung tinggi, serta tutur kata yang sopan. Memang benar, Islam sangat menekankan akhlak dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pertanyaannya, apakah cukup hanya dengan berakhlak baik, sebuah masyarakat dapat disebut islami?
Lalu, apa sebenarnya makna ‘islami’ itu?
Untuk memahaminya, mari kita gunakan sebuah analogi. Bayangkan beberapa orang ditutup matanya, lalu sebuah mobil diletakkan di hadapan mereka. Mereka belum pernah mengenal mobil sebelumnya. Kemudian dikatakan bahwa benda di depan mereka adalah mobil, dan mereka dipersilakan menyentuhnya dengan satu syarat, masing-masing hanya boleh memegang satu bagian saja.
Anggaplah ada tiga orang. Yang pertama memegang ban, yang kedua memegang kaca mobil, dan yang ketiga memegang spion. Karena tidak melihat bentuk mobil secara utuh, maka masing-masing menyimpulkan sendiri ciri mobil berdasarkan bagian yang ia sentuh.
Tak heran jika suatu hari orang pertama menyebut bajaj sebagai mobil karena sama-sama memiliki ban. Orang kedua menyebut truk sebagai mobil karena memiliki kaca jendela. Orang ketiga menyebut bus sebagai mobil karena terdapat spion. Tidak ada satu pun yang benar-benar memahami apa itu mobil secara utuh, karena gambaran mereka terbentuk dari pemahaman yang parsial.
Analogi ini menggambarkan bagaimana pemahaman yang sepotong-sepotong dapat membentuk cara pandang yang keliru. Hal yang sama juga terjadi dalam memahami Islam, agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Meski berstatus mayoritas, sebuah survei di 25 provinsi menunjukkan bahwa 72,25 persen muslim di Indonesia masih buta huruf Al-Qur’an, sebagaimana dilansir Republika (5/12/2024). Artinya, hanya sekitar satu dari empat muslim yang mampu membaca Al-Qur’an.
Itu baru pada tahap membaca. Lalu bagaimana dengan pemahaman terhadap isinya? Tentu menjadi persoalan yang lebih besar. Bagaimana mungkin seseorang memahami petunjuk hidup, sementara ia jarang bersentuhan dengan Al-Qur’an karena tidak mampu membacanya? Padahal Allah Swt. menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil, sebagaimana firman-Nya:
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Keterbatasan dalam mengenal Islam secara utuh, yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah, akan melahirkan cara pandang yang cacat terhadap agama dan kehidupan. Ketika Islam hanya dipahami sebatas akhlak, maka wajar jika ada yang berkata bahwa warga Jepang lebih islami daripada muslim di Indonesia. Ada pula yang menilai seseorang berakhlak baik meski tidak menutup aurat lebih baik daripada yang menutup aurat tetapi memiliki akhlak buruk. Padahal, dalam Islam, menutup aurat dan berakhlak mulia sama-sama merupakan perintah syariat.
Begitu pula ketika pacaran dinormalisasi hanya karena pelakunya rajin salat, terlihat saleh, dan dianggap bisa membawa ke arah yang lebih baik. Padahal salat dan menjauhi zina sama-sama kewajiban yang tidak boleh dipilih salah satunya saja. Semua penyimpangan ini sering bersembunyi di balik label ‘islami’ atau ‘berbau Islam’. Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
“Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 42)
Sudah saatnya kita berintrospeksi. Sudahkah kita memahami agama ini secara komprehensif, sehingga penilaian kita tentang benar dan salah, terpuji dan tercela, baik dan buruk, benar-benar selaras dengan identitas kita sebagai seorang muslim?
Ataukah kita masih memahami Islam secara parsial, hanya mengambil ajaran yang terasa ringan, mudah, dan menguntungkan, sembari menutup mata terhadap ajaran lain yang menuntut komitmen dan pengorbanan? Allah Swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Ketika Islam dipahami secara menyeluruh, kita akan menemukan bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan secara berkesinambungan. Islam tidak hanya tampak dalam ibadah mahdah, tetapi juga dalam perilaku, sistem sosial, hukum, hingga tata kehidupan bernegara. Syariat Islam yang diterapkan secara kaffah bukanlah ancaman, melainkan rahmat, tidak hanya bagi kaum muslim, tetapi juga bagi seluruh manusia dan alam semesta.
Wallahualam bissawab. [Rn/En]
Baca juga:
0 Comments: