Resolusi Dakwah 2026: Menata Niat, Merapikan Langkah
Oleh: Maya Rohmah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com - Bagi saya, dakwah bukan sekadar aktivitas rutin atau agenda pekanan. Dakwah adalah ikhtiar mengajak manusia menuju jalan Allah dengan kesadaran, kesungguhan, dan tanggung jawab.
Allah Swt. berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104). Ayat ini senantiasa mengingatkan saya bahwa dakwah adalah amanah, bukan pilihan sampingan.
Resolusi, bagi saya, adalah tekad sadar untuk berubah menjadi lebih baik. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR Tirmidzi). Karena itu, saya merasa perlu menyusun Resolusi Dakwah 2026 yang diawali dengan evaluasi dakwah yang telah saya jalani sepanjang tahun 2025.
Pertama, halqah pekanan. Salah satu hal penting yang perlu saya benahi adalah pelaksanaan halqah pekanan. Mengisi halqah tidak boleh dilakukan sekadar hadir. Saya perlu mengisinya dengan tertib, terencana, dan penuh persiapan.
Allah Swt. mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS Al-Hasyr: 18). Ayat ini mendorong saya untuk tidak datang ke majelis ilmu tanpa persiapan dan kesungguhan.
Begitu pula saat mengikuti halqah pekanan. Saya harus mengikutinya dengan serius. Dirasah fardiyah sebelum halqah seharusnya menjadi kebiasaan, bukan sekadar formalitas. Rasulullah saw. bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR Ibnu Majah). Kewajiban ini menuntut kesungguhan, bukan hanya kehadiran fisik.
Kedua, keterlibatan. Saya juga perlu mengevaluasi keterlibatan saya dan tim dalam agenda publik di tingkat mahaly.
Akhwati fillah, kewajiban kita bukan hanya halqah, tetapi juga hadir dan berperan dalam agenda-agenda dakwah yang ada. Tugas kita tidak berhenti pada pembinaan internal, melainkan juga menghadirkan dakwah di tengah umat. Dakwah tidak boleh terkungkung dalam ruang internal, sebab umat membutuhkan kehadiran nyata yang menyentuh problem mereka secara langsung.
Agenda publik mahaly sejatinya merupakan pintu dakwah yang sangat strategis. Di sanalah umat dengan berbagai latar belakang, pemahaman, dan persoalan hidup berkumpul. Jika saya absen dari ruang ini, dakwah berisiko terasing dari realitas umat. Rasulullah saw. tidak hanya membina sahabat di majelis terbatas, tetapi juga hadir di pasar, di jalan, dan di tengah masyarakat. Kehadiran beliau menjadi teladan bahwa dakwah harus hidup di ruang publik.
Kita perlu bertanya pada diri sendiri, sejauh mana peran yang telah kita ambil dalam agenda-agenda dakwah mahaly. Apakah kita hanya menjadi penonton, atau benar-benar ikut berkontribusi sesuai kemampuan. Evaluasi ini penting agar kita tidak merasa cukup dengan aktivitas internal lalu melupakan amanah yang lebih luas. Allah Swt. berfirman, “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa.” (QS Al-Ma’idah: 2). Ayat ini menegaskan bahwa keterlibatan dalam agenda publik merupakan bagian dari kerja kolektif dakwah.
Ke depan, kita harus berkomitmen untuk lebih siap hadir dalam agenda-agenda publik mahaly, baik sebagai panitia, pengisi, pendukung teknis, maupun peserta aktif. Jangan memilih-milih peran, karena setiap peran dalam dakwah bernilai jika diniatkan karena Allah. Terkadang, peran kecil justru menjadi penopang utama keberhasilan agenda dakwah.
Kita juga perlu memperbaiki sikap mental ketika terlibat dalam agenda publik. Hadir tepat waktu, siap membantu, dan tidak mudah mengeluh merupakan bagian dari akhlak dakwah. Dakwah publik sering menuntut tenaga, waktu, dan kesabaran ekstra. Namun, di sanalah kita dilatih untuk lebih ikhlas, lapang dada, dan dewasa dalam beramal jama’i.
Dengan memperkuat keterlibatan di agenda publik mahaly, kita berharap dakwah yang dijalani tidak bersifat elitis, melainkan benar-benar menyatu dengan umat. Halqah tetap penting sebagai ruang penguatan internal, tetapi agenda publik adalah wajah dakwah yang dilihat langsung oleh masyarakat. Keduanya harus berjalan beriringan agar dakwah tetap hidup, relevan, dan membawa manfaat nyata bagi umat.
Dalam Resolusi Dakwah 2026 ini, saya berkomitmen untuk melanjutkan program-program yang selama ini telah berjalan dengan baik. Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS Al-‘Ankabut: 69). Ayat ini meneguhkan saya untuk menjaga konsistensi pada kebaikan yang telah dirintis.
Namun, saya juga harus jujur mengakui adanya program yang belum berjalan optimal, salah satunya mutabaah. Mutabaah belum dilakukan secara rutin, padahal ia sangat penting sebagai alat evaluasi amal. Perubahan dakwah harus dimulai dari perbaikan diri.
Ke depan, saya perlu menyusun program baru yang sesuai dengan kondisi umat. Pelatihan media sosial bagi pengemban dakwah menjadi kebutuhan yang mendesak.
Selain itu, saya juga perlu meningkatkan kemampuan teknis. Hal-hal sederhana seperti menghidupkan laptop, menyambungkan ke LCD, dan mengatur sistem suara harus dikuasai agar dakwah berjalan lancar. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan.” (HR Thabrani).
Penutup
Resolusi Dakwah 2026 bagi saya adalah komitmen untuk terus meningkatkan kualitas diri. Saya perlu mematangkan diri secara keilmuan, spiritual, dan sikap dalam menghadapi umat.
Saya menyadari bahwa jalan dakwah ke depan tidak semakin ringan, melainkan semakin menantang. Namun, dengan niat yang lurus, evaluasi yang jujur, dan resolusi yang jelas, saya berharap dakwah yang saya jalani pada tahun 2026 lebih tertata, lebih berdampak, dan semakin mendekatkan diri kepada rida Allah Swt. Insyaallah. [Rn/WA]
Baca juga:
0 Comments: