Rajab, Isra Mikraj, dan Urgensi Membumikan Hukum Langit
Oleh. Yanti Fariidah
(Founder Rumah Pintar ZR Magelang)
SSCQMedia.Com—Bulan Rajab selalu hadir membawa memori agung tentang perjalanan spiritual lintas ruang dan waktu, Isra dan Mikraj. Namun, di tengah gegap gempita peringatan tahunan ini, maknanya kerap tereduksi sebatas ritualitas semata.
Berdasarkan laporan Liputan6 (18 Januari 2026) dalam artikel berjudul Hikmah Isra’ Mikraj 2026: Pelajaran Berharga untuk Kehidupan Modern dan Spiritual, masyarakat diajak menjadikan peristiwa ini sebagai momentum perbaikan diri. Pada saat yang sama, Detik.com (18 Januari 2026) menyoroti berbagai kegiatan syiar seperti lomba dan ceramah untuk memperingati peristiwa turunnya perintah salat. Fakta ini menunjukkan bahwa bagi mayoritas umat, Isra Mikraj masih dipahami sebatas perjalanan Nabi Muhammad saw. dalam menjemput kewajiban ibadah mahdhah.
Padahal, jika ditelaah secara ideologis dan historis, peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan vertikal spiritual. Tidak lama setelah peristiwa tersebut, Rasulullah saw. melakukan Baiat Aqabah II, sebuah langkah politik strategis yang menjadi pintu terbentuknya entitas politik Islam di Madinah. Dengan demikian, Isra Mikraj merupakan titik balik penting dari fase dakwah menuju fase kepemimpinan umat.
Memahami Salat sebagai Simbol Kedaulatan Hukum
Terdapat kerancuan sistemik dalam memaknai hikmah Isra Mikraj saat ini. Salat kerap dipandang hanya sebagai hubungan privat antara hamba dan Pencipta. Padahal, dalam khazanah tsaqafah Islam, salat sering menjadi kinayah atau simbol bagi penegakan hukum Allah secara menyeluruh.
Hal ini merujuk pada hadis yang melarang memerangi penguasa selama mereka masih mendirikan salat. Mendirikan salat dalam konteks kepemimpinan bukan sekadar ritual individual, melainkan penerapan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan.
Realitas hari ini menunjukkan kontras yang sangat tajam. Umat Islam telah melewati lebih dari satu abad sejak runtuhnya Khilafah tanpa naungan hukum Allah secara kaffah. Sistem sekuler demokrasi yang diadopsi secara global sejatinya merupakan bentuk pengingkaran terhadap kedaulatan hukum Allah. Ketika kedaulatan berpindah ke tangan manusia melalui legislasi sekuler, hukum langit pun tersingkirkan.
Dampak Pengabaian Syariat
Pengabaian terhadap syariat Islam bukan tanpa konsekuensi. Dunia hari ini menderita di bawah dominasi kapitalisme global yang melahirkan berbagai bencana struktural. Ketimpangan ekonomi, krisis sosial, dan degradasi moral merupakan buah pahit dari sistem yang menomorduakan aturan Sang Pencipta.
Runtuhnya Khilafah satu abad silam bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bencana besar atau ummul jara’im yang melahirkan penderitaan panjang bagi umat manusia.
Lihatlah Palestina, tempat dimulainya perjalanan Isra dan Mikraj. Tanah para nabi itu kini terbelenggu oleh entitas Zionis. Demikian pula penderitaan umat Islam di Rohingya, Uighur, India, hingga Rusia. Tanpa institusi politik yang kuat dan mandiri, umat Islam tercerai-berai dan menjadi sasaran empuk kezaliman penguasa kafir.
Menuju Perubahan Ideologis
Peringatan Rajab dan Isra Mikraj 2026 seharusnya menjadi momentum untuk membumikan kembali hukum Allah. Hal ini hanya dapat terwujud jika umat berani meninggalkan sistem sekuler kapitalisme yang terbukti gagal mewujudkan kesejahteraan hakiki.
Menegakkan kembali kepemimpinan Islam dalam bentuk Khilafah Rasyidah bukanlah romantisme sejarah, melainkan kebutuhan mendesak sekaligus kewajiban syar’i yang vital.
Seruan ini ditujukan kepada seluruh elemen umat, khususnya para pemilik kekuatan atau ahlun nushrah serta tentara Muslim di seluruh dunia. Mereka memiliki peran strategis untuk membebaskan Palestina dan menyatukan negeri-negeri Muslim yang terpecah di bawah satu kepemimpinan.
Mengembalikan Kemuliaan
Umat Islam adalah pewaris para pahlawan besar. Kita adalah keturunan Al-Mu’tasim yang membela kehormatan wanita Muslimah, Sholahuddin Al-Ayyubi yang membebaskan Al-Quds, serta Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel. Semangat kepemimpinan dan kemuliaan itu masih mengalir dalam darah umat ini.
Hari ini, partai Islam ideologis terus berjuang tanpa lelah untuk membimbing umat menuju kesadaran politik Islam. Perjuangan menegakkan kembali kehidupan Islam melalui Khilafah merupakan perjuangan paling agung dan mendasar. Sudah saatnya umat menyambut seruan ini dengan kesungguhan, demi kembalinya rahmat bagi seluruh alam dan tegaknya keadilan di muka bumi sesuai hukum yang diturunkan dari langit. [MA/IWP]
Baca juga:
0 Comments: