Headlines
Loading...

Oleh. Mak Ayu
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Acapkali aku bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku yang tidak pernah puas dengan ilmu-ilmu dan jawaban dari orang yang kuhormati dari kajian yang kuikuti?” Aku hanya diam menerima semua ilmu mereka dan menganggap itu karamah Allah, dan masuk ke pintu-pintu kajian yang kuketahui. Ada cahaya di situ, ada keberkahan di sana, dan banyak kebaikan yang bisa kurasakan. Tapi entah mengapa, ada yang masih menganjal dalam benak yang seakan butuh terurai secara gamblang, sesuai dengan pikiranku yang kosong ilmu agama.

***

Sahabat, lahir di tengah-tengah keluarga yang awam tentang agama yang dipeluknya sendiri adalah diriku sendiri. Saat aku di usia taman kanak-kanak, aku masih melihat kedua orang tuaku belajar salat. Jujur aku belajar keesaan Allah dari majalah yang terbit tiap bulan sekali dari Paguyuban Ngestu Tunggal [Pangestu) yang menjadi media rutin para anggotanya. Aku rajin membacanya hingga tuntas, banyak nilai-nilai kerohanian dan akhlak yang diajarkan, bahkan aku sering diajak ikut pertemuan rutinnya karena bapak ibu tak mungkin meninggalkanku sendirian di rumah. Semua agama bisa masuk ke dalamnya. Sekarang aku tahu itu namanya keberagaman beragama. Tapi berawal dari buku Pangestu itu aku belajar memiliki akhlak yang baik dan perlunya ibadah pada Sang Pencipta.

Jadilah aku mulai belajar salat semampunya, puasa Ramadan sekuatnya, karena pemahaman ilmu yang terbatas dari guru agama sekolah. Belajar alif ba ta jika ada guru di musala depan rumah, jadi tidak pernah tuntas juga dan menjalankan aktivitas akidah sebisanya tanpa bimbingan.  Dulu tinggalku di desa Banjarbanggi/Banjarejo, Kedunggalar, di komplek perumahan Perhutani, desa kecil namun dilewati jalur Trans Jatim-Jateng, namun dikelilingi hutan jati. 

Begitu terus hingga lulus sekolah dasar. Akhirnya keluarga bisa pindah ke Ngawi kota. Masuklah ke sekolah menengah pertama, karena saingannya berat aku tidak diterima di SMP Negeri favorit di Ngawi ini. Itu menjadi pilihan karena dekat dengan rumah dan tidak dipilihkan ke SMP Negeri lainnya karena jauh. Sementara aku belum bisa membuat pilihan sendiri, akhirnya bapak ibu memilihkan sekolah swasta favorit di kotaku, karena dekat rumah, yaitu SMP Katolik Santo Yosep. 

Itulah awal ujian akidah pertamaku, Sahabat. Risiko di sekolah Katolik, maka pelajaran agama harus pelajaran agama Katolik, tidak ada pilihan lain! Meski hampir 100% muridnya beragama Islam. Kitab Injil Perjanjan Baru dibagikan secara gratis, seminggu sekali harus ibadah ke gereja. Enam bulan sekali retret kalau dalam Islam disebut mabit (malam bina Islam dan takwa). Dalam acara ini senantiasa ada murtadin baru, karena kemasannya luar biasa menguras perasaan dan air mata, pembimbing yang mendampingi per kelompok kecil biasanya para murtadin, hingga menjadi jalan mulus lepasnya akidah. Aku marah tapi membisu karena masih bego, “Kok jadi begini ya acaranya, sengaja mendesain untuk memurtadkan akidah.” Setelah itu aku tak pernah ikut lagi. Tapi itulah proses aku mulai berpikir tentang agamaku, Islam. 

Jika bukan karena Allah Swt. sayang padaku dan ingin aku menjadi saksi kenyataan yang kualami sendiri, mungkin aku juga akan ikut terbawa arus, tenggelam lebih dalam mengikuti derasnya arus di sekolah. Allah benar-benar sayang padaku, menunjukkan secercah cahaya yang tetap harus kupegang meski di tengah jurang nan gelap gulita. 

Aku tak menyalahkan siapa-siapa, itu adalah bagian proses hidup yang harus kujalani. Qada. Saat masa sekolah menengah atas pun biasa-biasa, aku masih menjalani seputar salat dan puasa saja, hanya mulai berpikir, kenapa jumlah murid yang salat lebih sedikit dibandingkan yang tidak salat. Kenapa ada teman yang telah menutup aurat di rumah, melepasnya ketika sekolah. Itu terjadi tidak hanya di sekolah tapi juga di lingkungan. Semua masih berupa tanda tanya yang belum menemukan jawabnya. Terpendam, karena tidak ada yang menjelaskan.

Mulailah masa kuliah di STKIP PGRI Ngawi (pilih yang dekat rumah juga), aku lakukan sambil bekerja. Banyak pertanyaan yang tak terjawab itu mulai kucari jawabannya dengan mengikuti kajian-kajian yang ada. Setiap ada yang mengajak kajian, aku ikuti. Banyak juga ilmu yang kudapat, kadang juga dengan tanya jawab, tapi karena kebodohanku, aku belum menemukan jawaban yang memuaskan jiwa dan akalku. Aku pun membeli buku untuk belajar sendiri, tapi kegelisahan itu masih tetap ada. Aku juga mulai menutup aurat ala kadarnya dan masih bongkar pasang.

Hingga aku menikah, punya anak, pindah-pindah kontrakan, kembali lagi ke Ngawi, tinggal di gubuk bambu tapi rumah sendiri. Ada seorang kenalan mengajak ikut kajian di rumah bu Watik Sakim, Ngantru, kuiyakan juga. Kucari ciri rumahnya, ketemu, dan mulailah kajian rutin mingguan, bersama ibu-ibu yang ramah dan sebagan besar telah memakai pakaian syar'i dengan jilbab dan kerudung lebar. Hanya ada dua orang yang belum syar'i, salah satunya adalah aku. Meski sudah menutup aurat, tapi masih sering berupa celana panjang dan baju sedengkul. Cuek saja, karena memang belum satu pun memiliki jilbab syar'i. Yang penting nimbrung dulu secara rutin. Nanti bisa disambung atau kalau ada rezeki beli.

Materi demi materi kuserap dan kucatat, tentang uqdatul kubra, makna hidup, penerapan perintah dan larangan Allah, dan kewajiban mematuhinya, pakaian, riba, sistem aturan hidup, dll. Pembahasan ini lebih mendalam dan runtut di tiap waktunya disertai hujah dalil yang menjadi sandarannya. Tiap pertanyaanku mendapatkan jawaban yang memuaskan, tapi belum tuntas juga, karena permasalahan umat dalam kehidupan terus berganti. Makin rutin kajian makin membuka wawasan dan mampu menentramkan jiwaku yang haus tsaqafah Islam. Mungkin ini ilmu dan tempat pelabuhan yang kucari.

Apalagi aku melihat sosok guru yang memberikan materinya, masih muda, energik, tepat waktu, tak mengeluh meski panas menyengat atau hujan deras pun, beliau tetap datang dengan pakaian bagian bawah basah, tak menjadi masalah. Wow ... keren. Ini sosok yang kucari dan idam-idamkan. Tepat waktu, membawa Islam yang hak tanpa tedeng aling-aling, tak gentar oleh tekanan, dan lembut pada saudara-saudaranya. Sosok yang berjalan tak kenal lelah semata untuk kebangkitan pemikiran umat. Dan hampir semua muslimah yang mereguk ilmu di dalamnya begitu. Mengemban dakwah menolong agama Allah. Allah berfirman dalam TQS Muhammad ayat 7;

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Perlahan, Islam mampu mengubah diriku yang awam, keras kepala, dan tidak peduli masalah orang lain. Setelah merenung dan berpikir, maka saya yakinkan diri akan terus bersama memperjuangkan Islam kafah. Inilah hijrahku yang sesungguhnya, aku bisa merasakan perubahan secara hakiki dengan berlandaskan akidah Islam dan solusinya harus berlandaskan Islam. 

Perjalanan hijrah yang memakan waktu lama untuk sampai pada keyakinan yang tak luntur oleh hempasan angin. Islam agamaku sejak lahir karena dipilihkan orang tuaku. Alhamdulillah. Tapi setelah memahami ilmunya, Islam adalah pilihan hidupku. Meski terlahir di tengah ketidaktahuan akan Islam itu sendiri, kita tetap wajib untuk mencari dan mempelajari Islam. Lebih baik terlambat daripada tidak berubah sama sekali. 

Sahabat, jangan sampai terlambat untuk taat pada Sang Pemilik Hidup. Yuk ngaji Islam kafah. Wallahualam bissawab. [Ni]

Ngawi, 26 Desember 2025

Baca juga:

0 Comments: