Headlines
Loading...
Pat Gulipat Gencatan Senjata, Gaza Masih Terjajah

Pat Gulipat Gencatan Senjata, Gaza Masih Terjajah

Oleh: Dwi Nesa
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kepada apa yang telah diturunkan Allah (Al-Qur’an),’ mereka menjawab, ‘Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.’ Namun, mereka ingkar terhadap apa yang diturunkan setelahnya, padahal Al-Qur’an itu adalah kebenaran yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad), ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?’”
(TQS Al-Baqarah: 91)

Sifat ingkar Bani Israil telah termaktub secara gamblang dalam Al-Qur’an. Hingga hari ini, karakter tersebut masih nyata pada Zionis Israel yang berulang kali mengkhianati perjanjian. Fakta menunjukkan bahwa Zionis kerap melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan Gaza. Sejak gencatan senjata Oktober 2025, Zionis terus melakukan agresi militer. Sejumlah rumah dan infrastruktur di Gaza Utara rusak parah. Serangan bom juga menyasar Gaza Timur dan menewaskan lima warga sipil, termasuk seorang anak.

Tidak hanya melalui agresi militer, para pemukim ilegal Zionis juga melakukan penyerangan terhadap aset ekonomi warga Palestina di Tepi Barat. Mereka menganiaya para pekerja Palestina dan mencuri sedikitnya 150 ekor domba milik warga.

Realitas ini seharusnya menyadarkan kaum muslim agar tidak serta-merta percaya pada setiap gencatan senjata yang disepakati Zionis. Terlebih lagi wacana gencatan senjata permanen atau hidup berdampingan. Narasi solusi dua negara yang digagas Barat dan sejumlah negeri muslim, termasuk rencana perdamaian Trump, bukanlah solusi hakiki. Justru hal tersebut merupakan bentuk pengakuan atas penjajahan Palestina sekaligus legitimasi perampasan wilayahnya.

Sejarah mencatat bahwa perjanjian demi perjanjian telah berulang kali dilanggar oleh Zionis. Pada 1947, wilayah yang mereka kuasai masih terbatas. Namun, sedikit demi sedikit wilayah Palestina dirampas hingga hari ini hampir tak tersisa. Tidakkah dunia menyadari bahwa Zionis menginginkan seluruh tanah Palestina untuk dikuasai, bukan hanya sebagian?

Gencatan senjata sejatinya hanyalah kepalsuan. Tidak ada niat sedikit pun dari Zionis untuk menghentikan agresi. Gencatan senjata hanyalah siasat untuk beristirahat sejenak sambil menghimpun kekuatan, baik dana maupun militer. Dilansir dari Sindonews.com pada 9 Juni 2025, Zionis menghabiskan biaya lebih dari empat triliun rupiah per hari untuk melancarkan agresinya. Angka yang fantastis demi sebuah kezaliman.

Umat Islam seharusnya melek terhadap realitas ini dan tidak merasa puas dengan gencatan senjata semu. Saudara-saudara kita di Gaza masih berjuang nyaris sendirian. Media yang memiliki peran besar tidak boleh lengah dalam menyoroti penderitaan rakyat Gaza serta kejahatan Zionis yang tak pernah berhenti. Kebencian Zionis Yahudi terhadap kaum muslimin di Gaza telah berlangsung sejak lama, sebagaimana firman Allah Swt:

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sampai kamu mengikuti agama mereka…”
(TQS Al-Baqarah: 120)

Allah Swt juga memperingatkan kaum muslim agar tidak memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Islam. Dalam Surah Ali Imran ayat 28, Allah berfirman yang artinya, “Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang beriman…”

Oleh karena itu, umat Islam tidak selayaknya percaya pada kesepakatan gencatan senjata Zionis, dan tidak seharusnya mudah menerima solusi dua negara yang digagas Amerika Serikat dan sekutunya. Zionis harus segera hengkang dari tanah Palestina.

Untuk membebaskan Palestina, umat Islam perlu menengok kembali sejarah. Fakta sejarah menunjukkan bahwa hanya Khilafah yang mampu melindungi Palestina dari penjajahan. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Palestina dibebaskan dari pendudukan Romawi yang telah berlangsung ratusan tahun. Selanjutnya, Khalifah Salahuddin al-Ayyubi berhasil menaklukkan Pasukan Salib yang menguasai Baitul Maqdis hampir 90 tahun dan menindas seluruh penduduk, baik muslim, Yahudi, maupun Nasrani.

Hingga akhir masa Khilafah, Palestina tidak pernah berada di bawah penjajahan. Sultan Abdul Hamid II, khalifah terakhir, menolak dengan tegas proposal Theodor Herzl untuk mendirikan negara Zionis. Baru setelah Khilafah runtuh, Zionis berhasil mendirikan negara di atas tanah Palestina.

Menilik sejarah panjang tersebut, jelas bahwa hanya Khilafah yang mampu melindungi Palestina dengan landasan iman dan semangat jihad. Kesatuan umat adalah kunci kemenangan melawan penjajahan. Sebaliknya, keterpecahan umat Islam menjadikan mereka lemah. Fakta hari ini menunjukkan bahwa tidak satu pun negeri muslim berani mengirimkan pasukan militernya untuk membantu Palestina. Semua takut terhadap tekanan kekuatan adidaya.

Bantuan yang diberikan pun sebatas bantuan kemanusiaan seperti makanan, pakaian, obat-obatan, dan tenaga medis. Itupun sebagian besar berasal dari rakyat, baik muslim maupun nonmuslim. Sementara para pemimpin negeri muslim hanya lantang mengecam dari balik podium dan mikrofon.

Rakyat Palestina membutuhkan keberanian saudara seakidahnya untuk bersatu di bawah satu kepemimpinan dan mengirimkan pasukan untuk berjihad mengakhiri kekejaman Zionis untuk selamanya, bukan sekadar gencatan senjata sementara. [My/UF]

Baca juga:

0 Comments: