Bahaya Kekerasan Digital bagi Pembentukan Karakter Anak
Oleh: Istiana Ayu S. R.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Maraknya kasus kekerasan yang melibatkan anak dan generasi muda belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh dunia digital, khususnya game online yang sarat unsur kekerasan.
Namun, memandang persoalan ini semata sebagai kesalahan individu atau lemahnya kontrol orang tua merupakan cara pandang yang sempit. Fenomena ini sejatinya merupakan buah dari sistem kapitalisme yang menjadikan industri hiburan sebagai ladang keuntungan tanpa mempertimbangkan dampak moral dan sosial, terutama bagi generasi muda.
Kasus tragis anak berusia 12 tahun di Medan yang membunuh ibunya sendiri menjadi cerminan nyata dari dampak tersebut. Berdasarkan keterangan kepolisian, peristiwa ini dipicu oleh kemarahan anak setelah game online yang sering dimainkannya dihapus oleh sang ibu. Anak tersebut diketahui kerap terpapar game dan tontonan bernuansa kekerasan yang perlahan membentuk karakter agresif dan menumpulkan empatinya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam game tidak berhenti sebagai hiburan semata, melainkan dapat menjelma menjadi inspirasi tindakan nyata ketika dikonsumsi secara terus-menerus tanpa nilai moral dan pendampingan yang memadai (Kompas.com, 29/12/2025).
Fenomena serupa juga tampak dalam kasus teror bom terhadap sepuluh sekolah di Depok yang dilakukan oleh seorang mahasiswa. Meski motif utamanya adalah kekecewaan pribadi, kasus ini menegaskan bahwa sistem yang membiarkan tekanan hidup, kompetisi tanpa empati, serta minimnya pembinaan mental dan spiritual turut menyuburkan tindakan destruktif.
Dalam sistem kapitalisme, manusia kerap diposisikan hanya sebagai alat produksi dan angka statistik, bukan sebagai individu yang harus dijaga kesehatan jiwa dan akhlaknya. Ketika tekanan hidup bertemu dengan ruang digital yang bebas nilai, kekerasan kerap menjadi jalan pelarian yang dianggap wajar (CNN Indonesia, 26/12/2025).
Kapitalisme sebagai sistem hidup menjadikan industri game dan hiburan digital tunduk sepenuhnya pada logika keuntungan. Game dengan unsur kekerasan tinggi justru lebih laku karena memicu adrenalin dan candu, sehingga menguntungkan secara ekonomi. Akibatnya, nilai moral, keselamatan psikologis anak, dan dampak sosial dikorbankan demi profit.
Dalam kondisi ini, negara sering kali hanya berperan sebagai regulator pasar, bukan pelindung akhlak masyarakat. Pengawasan terhadap konten digital pun cenderung longgar dan bersifat reaktif.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan game online bernuansa kekerasan dapat meningkatkan agresivitas, menurunkan empati, serta memengaruhi cara anak menyelesaikan konflik. Meski tidak semua pemain game menjadi pelaku kejahatan, sistem kapitalisme telah menciptakan lingkungan yang memungkinkan konten merusak ini beredar luas tanpa filter nilai. Sementara itu, keluarga dan sekolah dibebani tanggung jawab besar tanpa dukungan sistemik yang memadai.
Dalam perspektif Islam, akar persoalan ini terletak pada hilangnya orientasi hidup yang berlandaskan iman dan akhlak. Islam menempatkan penjagaan jiwa dan akal sebagai tujuan utama syariat. Setiap aktivitas, termasuk hiburan, harus diarahkan pada kebaikan manusia, bukan semata keuntungan materi.
Rasulullah ï·º diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukan membiarkan manusia tumbuh dalam budaya kekerasan yang dinormalisasi oleh media dan industri hiburan.
Islam juga menolak pemisahan antara moral dan ekonomi sebagaimana dalam kapitalisme. Dalam Islam, negara berkewajiban menjaga akidah, akhlak, dan keamanan mental masyarakat, termasuk mengontrol konten yang berpotensi merusak. Orang tua tetap memegang peran penting sebagai pendidik pertama, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri di tengah gempuran industri digital global yang agresif dan bebas nilai.
Solusi Islam terhadap persoalan ini bersifat menyeluruh dan sistemik. Pertama, pendidikan akidah dan iman harus menjadi fondasi utama dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kedua, negara wajib hadir secara aktif untuk mengatur dan menyaring konten digital, bukan tunduk pada kepentingan industri. Ketiga, masyarakat perlu diarahkan pada budaya hiburan yang sehat, mendidik, dan bernilai. Keempat, sistem kehidupan harus dikembalikan pada paradigma Islam yang menempatkan manusia sebagai makhluk mulia, bukan komoditas pasar.
Dengan demikian, kekerasan yang terinspirasi dari game online bukan sekadar persoalan teknologi atau individu, melainkan akibat dari sistem kapitalisme yang mengabaikan nilai moral dan tanggung jawab sosial.
Islam menawarkan solusi yang tidak parsial, tetapi menyentuh akar persoalan dengan membangun sistem kehidupan yang menjaga akhlak, jiwa, dan masa depan generasi. Tanpa perubahan mendasar pada sistem yang melingkupi manusia, tragedi serupa akan terus berulang dalam wajah yang berbeda. [My/UF]
Baca juga:
0 Comments: