Headlines
Loading...

Oleh: Yanti Fariidah
(Founder Rumah Pintar ZR Magelang)

SSCQMedia.Com – Sebagai seorang pendidik yang setiap hari berinteraksi dengan keceriaan anak-anak di Rumah Pintar, hati saya selalu berdesir setiap kali menyimak berita dari Palestina. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan ketika membandingkan tawa murid-murid saya di Magelang dengan tatapan kosong anak-anak di Gaza yang dunianya hancur dalam semalam. Bagi kita, pendidikan adalah tentang masa depan; bagi mereka, bertahan hidup hingga esok pagi saja sudah merupakan sebuah mukjizat.

Tahun demi tahun berganti, namun potret yang tersaji tetap sama, tangis anak yang kehilangan orang tua dan debu reruntuhan yang mengepul di udara. Pertanyaan besar yang seharusnya menggugah nurani kita adalah, sampai kapan dunia hanya akan menjadi penonton setia penderitaan mereka?

Fakta yang Menampar Kemanusiaan

Memasuki awal 2026, realitas di lapangan justru mencapai titik nadir baru. Berdasarkan data Antara News (1 Januari 2026), jumlah korban jiwa akibat serangan brutal rezim Israel di Gaza telah menembus angka 71.269 orang. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan ribuan nyawa, impian, dan masa depan yang direnggut secara paksa.

Kekejaman tersebut kian sistematis. Israel secara sengaja mencekik akses bantuan kemanusiaan dengan melarang 37 organisasi internasional beroperasi (Antara News, 1 Januari 2026). Padahal, lembaga-lembaga ini menjadi tumpuan warga Gaza untuk memperoleh obat-obatan dan makanan. Sementara itu, di Tepi Barat, pencaplokan lahan untuk permukiman ilegal sepanjang tahun 2025 tercatat sebagai yang terburuk dalam sejarah (Antara News, 2 Januari 2026).

Mengapa Diplomasi Selalu Kandas?

Sudah saatnya kita bersikap jujur. Selama ini, harapan terlalu besar digantungkan pada meja diplomasi yang dikendalikan kekuatan global. Janji gencatan senjata kerap berubah menjadi ilusi, bahkan jebakan, untuk melemahkan posisi Palestina. Fakta menunjukkan bahwa pihak Israel berulang kali menghambat proses damai demi ambisi memperluas kekuasaan (Gaza Media, 31 Desember 2025).

Selama ideologi penjajahan masih bercokol, penindasan tidak akan pernah berhenti. Mengharapkan belas kasihan penjajah atau sekadar mengeluarkan pernyataan kecaman jelas tidak akan pernah cukup untuk memerdekakan Al-Aqsa.

Solusi Hakiki: Melampaui Sekadar Simpati

Persoalan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan persoalan akidah dan martabat umat. Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan jauh melampaui bantuan logistik semata. Beberapa langkah hakiki yang harus diwujudkan antara lain sebagai berikut.

Pertama, menyatukan langkah. Para penguasa negeri-negeri Muslim harus berhenti berpangku tangan. Diplomasi tanpa kekuatan hanya akan berakhir di tempat sampah sejarah. Allah Swt. memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada tali agama-Nya dan tidak bercerai-berai (QS. Ali Imran: 103). Kekuatan umat terletak pada persatuan global.

Kedua, Khilafah sebagai perisai nyata. Palestina membutuhkan pelindung yang berwibawa. Rasulullah saw. menegaskan bahwa seorang pemimpin (imam atau khalifah) adalah junnah, yakni perisai tempat rakyat berlindung (HR. Muslim). Tanpa kekuatan politik dan militer yang bersatu, penjajah akan terus merasa bebas menginjak-injak kehormatan umat Islam.

Ketiga, menjaga amanah suci. Umat Islam wajib terus mengedukasi generasi, termasuk anak-anak di setiap rumah pintar, bahwa Palestina adalah tanah yang diberkahi (QS. Al-Isra: 1). Ini bukan sekadar konflik perebutan wilayah, melainkan amanah akidah yang harus diperjuangkan.

Penderitaan Palestina tidak akan berakhir hanya dengan tagar di media sosial. Diperlukan keberanian kolektif untuk menyuarakan bahwa satu-satunya cara menghentikan penjajahan adalah dengan kembalinya kepemimpinan Islam yang satu. Hanya dengan itulah tanah para nabi benar-benar merdeka, dan anak-anak Palestina dapat kembali memiliki masa depan yang utuh. [MA/AA]

Baca juga:

0 Comments: