Headlines
Loading...
Nasihat untuk Anakku: Fatihah Nurul Fadhilah

Nasihat untuk Anakku: Fatihah Nurul Fadhilah

Oleh: Teti Rostika
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Assalamualaikum, Kakak, Ibu doakan Kakak selalu berada dalam perlindungan Allah, dipertemukan dengan kebahagiaan, dan dikumpulkan bersama sahabat yang salih dan salihah. Semoga Kakak dimudahkan dalam ketaatan serta dimudahkan dalam segala urusan dunia dan akhirat.

Pada malam ini, ibu ingin bercerita tentang ayat Al-Qur’an yang ibu baca sebelum tidur. Saat ibu memasuki juz 17, Surah Al-Anbiya ayat 1, terdapat pesan cinta yang Allah sampaikan sebagai petunjuk bagi kehidupan kita. Allah mengingatkan bahwa perhitungan amal manusia sudah semakin dekat, namun manusia justru lalai. Ayat tersebut berbunyi:

اِقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ مُّعۡرِضُوۡنَ ۚ

Telah dekat kepada manusia hari perhitungan amal mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian dan berpaling (dari peringatan Allah).”
(QS. Al-Anbiya: 1)

Tafsir ayat ini menjelaskan bahwa hari kiamat sesungguhnya sudah dekat. Namun, kondisi manusia justru lalai dan tidak memedulikan peringatan dari Allah. Tanda-tanda kebesaran Allah yang tampak di hadapan mereka sering kali diabaikan. Manusia pun tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi datangnya hari kiamat.

Kakak, surat cinta dari Allah berupa peringatan tentang dekatnya hari kiamat ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Kehidupan yang abadi dan kebahagiaan yang hakiki adalah kehidupan akhirat berupa surga-Nya. Oleh karena itu, target hidup kita di dunia bukanlah menjadi jutawan, bangsawan, atau mengejar jabatan serta kekuasaan. Target hidup kita adalah menabung amal kebaikan yang bernilai ibadah sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

Kakak, tentu sudah mengetahui kabar duka tentang banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatra dan sekitarnya. Berdasarkan data yang ibu baca, jumlah korban jiwa mencapai 1.071 orang. Korban yang masih dinyatakan hilang sebanyak 185 orang, sementara korban luka-luka mencapai ribuan jiwa. Ibu sangat sedih mendengarnya. Hati ibu miris menyaksikan tangisan para korban yang harus rela kehilangan orang tua, anak, kerabat, sahabat, rumah, serta harta benda mereka. Yang tersisa hanyalah pakaian yang melekat di badan.

Sejatinya, bencana ini dapat dikategorikan sebagai kiamat kecil yang Allah kirimkan sebagai ujian dan peringatan bagi manusia. Ini menjadi bahan muhasabah bagi kita semua. Ada apa dengan negeri kita, hingga Allah menurunkan bencana yang begitu mencekam dan sulit dihindari. Lebih menyedihkan lagi, penanganan dan bantuan terkesan lambat, sehingga banyak korban yang masih hidup harus menahan lapar, sakit tanpa obat-obatan, kekurangan tenaga medis, serta kesulitan air bersih. Mereka tidur di bawah tenda terpal seadanya, tanpa penerangan yang memadai, kecuali cahaya dari para relawan yang datang membantu.

Bencana ini bisa jadi merupakan akibat dari kerakusan ulah tangan manusia. Hutan dialihfungsikan, pohon ditebang dalam skala besar, hingga akhirnya memicu longsor dan banjir bandang. Saat banjir datang, gelondongan kayu tampak berserakan dan menghancurkan rumah warga. Kayu-kayu tersebut bukanlah pohon utuh dengan akar dan daun, melainkan kayu gelondongan yang siap diangkut tanpa menyisakan penyangga alam.

Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.”
(QS. Ar-Rum: 41)

Bencana di Sumatra ini merupakan ujian sekaligus balasan dari Allah, agar manusia yang melakukan kerusakan segera sadar akan akibat perbuatannya, bertobat, dan kembali pada kebenaran sesuai perintah Allah dalam mengelola sumber daya alam sebagai amanah dari-Nya.

Bencana ini juga menjadi peringatan berupa kiamat kecil, agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, semakin taat kepada aturan-Nya, serta menjauhkan diri dari dosa, kelalaian, dan maksiat.

Yuk, Muhasabah

Kakak, kita patut bersyukur karena masih dapat tidur dengan nyenyak, memiliki tempat tinggal, dapat makan dengan layak, serta menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebagai wujud rasa syukur, amanah hidup dan rezeki yang Allah titipkan harus kita jaga. Jagalah seluruh anggota badan agar senantiasa taat kepada Allah. Jagalah lisan agar tidak berdusta, jagalah pergaulan, dan jagalah kesehatan. Perbanyaklah amal salih sebagaimana Allah sampaikan dalam Surah Al-Anbiya ayat 94:

فَمَنۡ يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَرَهُۥ
وَمَنۡ يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.
(QS. Al-Anbiya: 94) [MA]

Baca juga:

0 Comments: