Opini
Mengokohkan Mental Generasi di Tengah Gempuran Sekularisme Digital
Oleh: Dira Fikri
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Brain Rot adalah kata yang akhir-akhir ini banyak sekali dibicarakan. Bahkan kata tersebut menjadi Word of the Year 2024 menurut Oxford. Brain Rot merujuk pada penurunan kemampuan berpikir kritis, daya ingat, dan fungsi eksekutif akibat paparan konten media sosial yang dangkal. Konten video pendek 15 detik dari Tiktok, Reels, Shorts yang berfokus pada sensasi bukan substansi menjadi pemicunya. Hal ini bisa menyebabkan menurunnya daya ingat, gagal fokus, turunnya kemampuan menganalisa, susah berpikir kritis dan kompleks, dan yang lebih parah bisa menjadi ketergantungan pada validasi sosial.
Ruang digital seperti pisau bermata dua. Selain memberikan akses informasi dan edukasi, di satu sisi penggunaan yang tidak terkontrol akan berdampak negatif. Tontonan dengan konten hiburan membuat otak terbiasa distimulus dengan cepat dan tanpa tantangan berpikir yang mendalam. Konten tersebut adalah hasil dari praktik kehidupan sekuler kapitalistik yang memuja materi sebagai sumber kebahagiaan. Sehingga muatan konten tersebut bersifat adiktif atau kecanduan.
Gangguan kognitif akibat brain rot ini bisa menyebabkan sulitnya generasi muda dalam mengambil keputusan karena tidak terbiasa menganalisis informasi. Hal ini juga akan berdampak pada mentalnya. Banyaknya kasus mental health pada generasi seperti stres, mudah cemas dan insecure berlebihan adalah hasil dari paparan informasi yang tidak sehat. Generasi cenderung bersikap eskapisme, yaitu enggan menyelesaikan masalah yang dihadapi kemudian lari mencari hiburan di dunia maya. Sehingga akan menarik dari kehidupan sosial karena tidak bisa menyelesaikan konflik.
Meletakkan Fondasi Islam
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR Bukhari dan Muslim)
Dari hadis berikut, kita sebagai generasi yang lahir sebelum anak-anak kita memiliki peranan penting dalam membentuknya. Kitalah yang meletakkan fondasi keimanan berdasarkan akidah Islam kepada mereka. Kepribadian Islam terbentuk dari gabungan antara pola pikir islami dan pola sikap islami. Orang tua harus menjadi guru utama bagi anak untuk memahami Islam dalam kehidupan.
Pemahaman terhadap Islam secara menyeluruh (kafah) akan menjadi benteng utama sebelum generasi menjelajah dunia digital. Mereka harus memahami apa yang halal dan haram dalam kehidupan. Hal ini akan membuat mereka mampu untuk menyaring konten mana saja yang boleh dikonsumsi atau tidak. Orang tua perlu untuk merekonstruksi tsaqofah Islam pada anak-anak. Berani untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk viralitas dunia maya. Agar desain algoritma berubah. Yang semula generasi sebagai objek di pasar digital, dengan pemahaman yang benar tentang tsaqofah Islam, mereka akan menjadi subjek yang akan mewarnai arus dunia digital.
Pembinaan Generasi
Islam tidak pernah menolak perkembangan teknologi. Karena teknologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan yang bersifat mubah (boleh) untuk diambil atau dikonsumsi dengan cara yang dibenarkan syariat. Pola pikir Islam akan mengubah cara penggunaan teknologi oleh generasi. Dengan bekal pemahaman Islam, generasi muda akan mengendalikan perangkat digitalnya untuk kepentingan Islam dan umatnya, bukan justru dikendalikan olehnya.
Oleh karena itu dibutuhkan upaya pembinaan yang kontinu pada generasi muda untuk membentuk karakter islami. Tidak hanya di lingkungan keluarga, namun juga di ranah masyarakat dan negara. Hal ini agar tidak menimbulkan bias pamahaman Islam dan penerapannya.
Mengambil pemikiran Islam sekaligus penerapannya dalam kehidupan hanya bisa dilakukan secara sempurna ketika negara menerapkan aturan dan prinsip-prinsip Islam. Dengan kekuasaan dan perangkat yang dimiliki negara yang menegakkan Islam, batasan dalam dunia digital akan sesuai dengan aturan Islam. Tanpa aturan islami yang diterapkan oleh negara dalam dunia digital, umat ini hanya akan menjadi objek pasar yang akan menguntungkan para kapital tanpa memperhatikan kerusakan moral dan mental, tak terkecuali generasi muda. Wallahualam. [Ni]
Baca juga:
0 Comments: