Oleh: Choirin Fitri
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Jika mau ditakar dengan neraca baik dan buruk, sepanjang 2025 negeri ini tidak baik-baik saja. Mengapa? Tak perlu memakai kaca mata kuda untuk melihatnya. Cukup mata telanjang kita yang jujur, pasti akan terlihat negeri ini sedang mengalami keburukan.
Kita akan meneropongnya dengan rumus IPOLEKSOSBUDHANKAM (Ideologi Politik Ekonomi Sosial Budaya Pertahanan dan Keamanan) plus hal lainnya. Siap?
Dari sisi ideologi, pandangan hidup, meski negeri ini mayoritas dihuni oleh penduduk yang berkolom KTP agama Islam, agama mulia ini tidak dijadikan pegangan kehidupan. Islam hanya dijadikan agama yang mengurusi individu dan Rabb-nya. Untuk pengaturan urusan individu dengan yang lainnya, negeri ini masih enggan menggunakan Islam. Padahal, Islam bukan hanya sebuah agama, tetapi ideologi yang darinya melahirkan peraturan dan mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Alhasil, negeri ini cenderung pada ideologi sekularisme kapitalisme. Sekularisme membuat negeri ini sibuk memisahkan agama dari kehidupan. Agama tidak boleh mencampuri urusan pemerintahan.
Kapitalisme yang dalam bahasa Arab disebut ro'sun maal atau bahasa mudahnya kepala harta. Arti mudahnya apa yang ada di pikirannya hanya cuan, cuan, dan cuan. Tak peduli halal haram, yang penting mendapat keuntungan.
Miris dan menyedihkan bukan negeri ini? Ayo kita melihatnya dari sisi politik!
Dengan ideologi sekularisme kapitalisme tentu dunia politik negeri ini tidak akan menjadikan sistem Islam sebagai pilihan dalam mengatur urusan rakyat. Rakyat hanya dijadikan alat politik oleh sistem demokrasi. Meski katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, nyatanya slogan ini hanya sekadar tulisan. Ketika rakyat sekarat, para pemilik modal malah jadi konglomerat.
Demokrasi melahirkan para punggawa negeri hanya meraih hati rakyat saat pemilu. Pasca mereka terpilih dengan berbagai drama jual beli suara, rakyat kembali pada posisinya semula, tak dipedulikan.
Para politikus sibuk beretorika dengan janji-janji semanis madu. Teriakan ketidakadilan, kelaparan, ketidakamanan, dan lainnya hanya ditanggapi angin lalu. Bahkan, terkesan cuci tangan dari berbagai kebijakan bobrok yang membuat rakyat sengsara.
Jika menengok Islam, para penguasa dalam sistem Islam disebut ro'in dan bertanggung jawab dunia akhirat atas apa yang dipimpinnya.
Rasulullah saw. bersabda, "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR Bukhari Muslim)
Para penguasa dalam sistem Islam memastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat tidak boleh keluar dari garis syariat. Sehingga, peraturan yang lahir akan ditujukan pada kesejahteraan rakyat bukan menzalimi mereka.
Tengok saja bagaimana karut marutnya negeri ini dari sisi ekonomi! Si kaya makin jaya, si miskin berebut raskin. Miris!
Ekonomi Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi (Q1 2025 tumbuh 4,87% terendah sejak 2021), melemahnya daya beli ditandai penurunan tabungan dan lonjakan PHK, inflasi yang membebani masyarakat, tingginya pengangguran usia muda, serta tekanan pada nilai tukar rupiah akibat faktor global seperti perang dagang, yang semuanya menyebabkan sebagian besar masyarakat merasa kondisi ekonomi memburuk meski pemerintah berupaya menanganinya. Apalagi di tengah ancaman berbagai bencana yang memporak-porandakan berbagai sudut negeri ini.
Tak hanya fasilitas pribadi dan umum yang rusak parah, tapi jalur ekonomi juga terputus bagi rakyat jelata. Para kapitalis tentu tak terkena imbas, tetap melenggang dengan pundi-pundi rupiah yang diambil dari mengeruk kekayaan alam milik rakyat.
Padahal, dalam Islam jelas kesejahteraan rakyat adalah hal yang dijamin negara. Rasulullah saw. telah memberikan batasan terkait hal ini dengan sabdanya, "Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air, dan api." (HR Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah)
Maka, tiga hal ini tidak boleh dikuasai individu, tetapi dikelola negara demi kemaslahatan rakyat. Sebaliknya, di bawah payung kapitalisme siapa pun yang punya modal bisa menguasai apa pun tanpa peduli dengan hak-hak rakyat kebanyakan.
Dipotret dari sisi sosial, negeri ini juga tidak baik-baik saja. Kehidupan sosial di bawah payung kapitalisme menimbulkan efek gap generasi atau pemisahan generasi muda dengan tua bagai langit dan bumi. Adanya media digital mengubah mereka menjadi makhluk antipati dan sibuk menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Kasus mental health juga terus mengalami lonjakan dari hari ke hari. Individualisme pun masih menjadi momok yang tak bisa dihindari.
Sungguh, hal ini tidak akan terjadi jika Islam dalam genggaman. Islam memerintahkan bagi generasi apa pun berpegang teguh pada syariat Allah sebagaimana yang Rasulullah saw. dan sahabat contohkan. Di bawah naungan Islam sistem sosial akan berada pada tataran aman dan jauh dari sikap-sikap tak patut.
Selain itu, ditilik dari sisi budaya negeri ini sudah tidak murni. Budaya Barat telah masuk ke tiap sendi kehidupan. Hasilnya generasi hari ini sangat dekat dengan liberalisasi pergaulan, free sex, elgebete, kumpul kebo, narkoba, miras, dan lainnya. Imbasnya generasi hari ini enggan mengenal Islam karena agama mulia ini dianggap mengekang.
Padahal, dalam Islam standar kehidupan adalah halal dan haram. Jika haram ditinggalkan, sebaliknya yang halal dilakukan. Hal ini tidak berlaku pada budaya sekularisme. Agama dianggap kuno, kolot, dan anti kemodernan. Ironis bukan?
Aspek pertahanan dan keamanan tidak perlu ditanya. Negeri ini jelas-jelas tidak merdeka. Meskipun secara tertulis lebih dari delapan puluh tahun merdeka, nyatanya itu hanya retorika kosong. Pulau-pulau terluar negeri ini banyak dicaplok demi cuan. Keamanan rakyat juga dipertanyakan.
Islam tentu tidak demikian. Dalam sistem Islam negara memiliki kemandirian untuk mengatur pertahanan dan keamanan negaranya sendiri. Asing tidak boleh turut campur tangan. Hal itu akan membahayakan masa depan negara. Oleh karena itu, untuk menjaga keamanan dalam negeri sistem Islam memiliki syurthoh, polisi yang menerapkan sistem sanksi dalam Islam. Sedangkan, untuk luar negeri sistem ini memiliki para tentara yang tidak hanya berada di garis perbatasan negara, tetapi mereka juga melakukan dakwah dan jihad untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru dunia.
Pertanyaannya, apakah cukup menakar Indonesia 2025 hanya dijadikan wacana? Tidak adakah keinginan untuk mengganti sistem sekularisme kapitalisme yang rusak dan merusak dengan ideologi Islam yang mulia?
Batu, 30 Desember 2025
[Ni/PR]
Baca juga:
0 Comments: