Membina Ibu dan Generasi Muda Pelopor Perubahan Islam
Oleh. Eny K
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Sekularisasi yang melanda pemuda, baik di dunia nyata maupun digital, telah menyebabkan generasi kehilangan jati dirinya sebagai muslim dan pelopor perubahan. Mereka makin jauh dari nilai-nilai Islam, lebih akrab dengan budaya hedonistik, individualistik, dan materialistik yang ditanamkan oleh sistem kapitalisme global (topswara.com, 02/01/2026).
Kondisi kaum ibu pun tak kalah memprihatinkan. Peran mereka sebagai ummun wa rabbatul bayt yaitu ibu sekaligus pengatur rumah tangga serta pendidik generasi mengalami degradasi yang serius. Banyak ibu terseret dalam arus kapitalisme, menjadi korban eksploitasi ekonomi, kehilangan fokus utama dalam mendidik anak, bahkan terjebak dalam standar hidup yang ditentukan oleh logika pasar. Padahal, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak, yang seharusnya membentuk kepribadian Islam sejak dini.
Analisis terhadap fenomena ini menunjukkan bahwa digitalisasi yang berkembang pesat berada di bawah hegemoni kapitalisme. Ia tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi sarana penyebaran ideologi batil yang menjauhkan umat dari Islam ideologis.
Negara sekuler memandang generasi muda dan kaum ibu sekadar sebagai objek komersial, bukan subjek penting dalam pembangunan peradaban. Mereka diarahkan untuk menjadi konsumen setia produk kapitalisme, sementara pembekalan Islam kafah justru diabaikan. Akar persoalan terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara, yang membatasi peran agama hanya pada ranah privat. Akibatnya, Islam tidak lagi menjadi landasan dalam pendidikan, kebijakan sosial, maupun arah pembangunan generasi.
Di tengah kerusakan sistem kapitalisme ini, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen. Jamaah dakwah berperan membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam yang kokoh, sehingga mereka siap memperjuangkan kebangkitan Islam. Jamaah ini tidak sekadar mengajarkan Islam sebagai ritual, tetapi menanamkan Islam sebagai ideologi yang menyeluruh, mencakup aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan.
Landasan kewajiban ini ditegaskan dalam QS. Ali Imran: 104 yang berbunyi:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Ayat ini menjadi dasar bagi jamaah Islam untuk memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemik.
Sebagaimana diteladankan Rasulullah ﷺ, jamaah dakwah ideologis membina umat melalui tahapan yang jelas. Tahap pertama adalah tatsqif (pembinaan intensif), di mana individu-individu dibekali dengan pemahaman Islam ideologis hingga terbentuk kepribadian Islam yang kuat.
Tahap kedua adalah interaksi dengan umat, menyampaikan dakwah secara luas agar masyarakat memahami dan menerima Islam sebagai solusi.
Tahap ketiga adalah istilamul hukmi (penyerahan kekuasaan), yaitu ketika masyarakat memberikan mandat kepada Islam untuk diterapkan sebagai sistem kehidupan. Dalam proses ini, ibu dan generasi muda menjadi fokus utama pembinaan, karena mereka adalah pilar keluarga sekaligus motor perubahan sosial. Ibu yang terbina dengan Islam ideologis akan melahirkan generasi yang berakhlak, berilmu, dan berjuang untuk Islam. Generasi muda yang terbina akan menjadi pelopor peradaban, berani menolak sekularisme, dan siap mengemban amanah dakwah.
Dengan demikian, urgensi jamaah dakwah Islam ideologis tidak bisa ditawar. Ia hadir sebagai benteng melawan arus sekularisme dan kapitalisme, sekaligus sebagai wadah pembinaan yang menyiapkan ibu dan generasi muda menjadi pelopor perubahan. Tanpa jamaah dakwah, umat akan terus terombang-ambing dalam sistem yang merusak, kehilangan arah, dan semakin jauh dari Islam kafah. Namun dengan jamaah dakwah yang konsisten membina, umat akan bangkit, ibu kembali pada peran mulianya, generasi muda menemukan jati dirinya, dan peradaban Islam akan tegak kembali sebagai rahmat bagi seluruh alam. [An/AA]
Baca juga:
0 Comments: