Headlines
Loading...
Membaca Realitas Gen Z Digital dengan Paradigma Islam

Membaca Realitas Gen Z Digital dengan Paradigma Islam

Oleh. Eny K
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Dalam realitas hari ini, kita menyaksikan bahwa era digital telah menjelma menjadi ruang hidup yang tak mungkin dihindari. Ia bukan sekadar medium komunikasi, melainkan sebuah ekosistem yang menyatu dengan keseharian generasi muda. Era ini menawarkan kemudahan luar biasa, akses informasi tanpa batas, serta peluang belajar dan berkreasi yang belum pernah ada sebelumnya.

Namun, di balik peluang besar itu, terdapat arus pengaruh buruk yang dapat menggerus identitas, ketahanan mental dan moral generasi muda. Generasi Z (Gen Z), yang lahir dan tumbuh di tengah derasnya arus digital, sering dicap sebagai generasi rapuh karena rentan terhadap tekanan sosial media, namun sesungguhnya mereka menyimpan potensi kritis yang besar.

Kemampuan mereka menginisiasi perubahan melalui media sosial terlihat dalam berbagai bentuk aktivisme digital yang semakin marak, mulai dari kampanye sosial, gerakan lingkungan, hingga isu-isu politik yang mampu menggugah perhatian publik (kompas.id, 24/01/2024). 

Meski demikian, opini yang berkembang menunjukkan bahwa ruang digital sejatinya tidak netral. Ia didominasi oleh nilai sekuler‑kapitalistik yang secara halus membentuk cara berpikir, preferensi, bahkan orientasi hidup Gen Z. Tekanan sosial media memperburuk kondisi mental mereka, memicu budaya validasi yang melelahkan, di mana ukuran keberhasilan dan kebahagiaan sering kali ditentukan oleh jumlah “likes” atau pengikut (detik.com, 10/02/2024).

Budaya ini melahirkan generasi yang mudah cemas, kehilangan kepercayaan diri, dan terjebak dalam siklus pencarian pengakuan eksternal. Di sisi lain, jumlah pengguna internet Indonesia yang terus meningkat hingga diproyeksikan mencapai 229,4 juta pada 2025 (cloudcomputing.id, 05/02/2024) semakin memperkuat posisi ruang digital sebagai arena utama pembentukan karakter generasi.

Dengan demikian, ruang digital bukan hanya sekadar sarana hiburan atau komunikasi, melainkan medan yang menentukan arah perkembangan mental, moral, dan ideologi anak muda. 

Aktivisme Gen Z di ruang digital memang menunjukkan energi besar: mereka bergerak cepat, responsif, dan pragmatis dalam merespons isu-isu sosial. Namun, gerakan ini tidak selalu berakar pada nilai ideologis yang kokoh.

Akibatnya, mereka mudah terombang‑ambing oleh tren sesaat, narasi progresif‑inklusif, dan wacana yang kerap mempertanyakan otentisitas agama. Aktivisme yang tidak berbasis ideologi Islam berisiko menjadi gerakan yang kehilangan arah, sekadar mengikuti arus global tanpa mampu membangun fondasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan. 

Dari perspektif Islam, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar mengimbau Gen Z untuk “bijak bermedia sosial”. Islam menekankan perlunya membangun paradigma berpikir yang berlandaskan akidah dan syariat, sehingga generasi muda mampu membaca realitas digital dengan kacamata ideologi yang benar.

Dengan paradigma ini, mereka tidak akan larut dalam hegemoni sekuler‑kapitalistik yang mendominasi ruang digital, melainkan mampu mengarahkan potensi aktivisme mereka menuju perubahan yang sistemis, menyeluruh, dan membawa kemaslahatan. Islam memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh ideologi yang melingkupinya, bukan oleh media semata. Oleh karena itu, membangun benteng keimanan dan akhlak menjadi kunci agar Gen Z tetap kokoh meski berada di tengah derasnya arus digital. 

Upaya ini menuntut sinergi antara tiga pilar utama: keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga harus menjadi fondasi pembentukan kepribadian, menanamkan nilai halal–haram sejak dini, serta membimbing anak agar memiliki kontrol diri yang kuat.

Masyarakat berperan sebagai lingkungan penguat nilai, menciptakan kultur yang mendukung tumbuhnya generasi yang berakhlak dan beridentitas Islam. Dengan penerapan syariat secara menyeluruh, ruang digital tidak lagi menjadi ancaman, melainkan sarana dakwah, kontribusi, dan transformasi yang sahih. 

Pada akhirnya, Gen Z tidak hanya dituntut untuk bertahan dari derasnya arus digital, tetapi juga diarahkan untuk menjadikan ruang digital sebagai medan perjuangan ideologis. Mereka harus mampu mengubah media sosial dari sekadar arena validasi menjadi sarana dakwah, dari sekadar hiburan menjadi ruang pembentukan peradaban.

Dengan paradigma Islam, generasi ini akan tumbuh sebagai generasi yang tangguh, berakhlak, dan berperan aktif dalam membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Inilah arah perubahan yang sejati: menjadikan potensi besar Gen Z sebagai kekuatan transformasi sistemik yang mampu melawan hegemoni sekuler‑kapitalistik dan membangun peradaban Islam yang mulia. [An/AA]

Baca juga:

0 Comments: