Headlines
Loading...
Gim Online dan Ancaman Kekerasan Generasi

Gim Online dan Ancaman Kekerasan Generasi

Oleh. Eny K
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Fenomena gim online di Indonesia kini makin menampakkan sisi gelapnya, bukan hanya sebagai hiburan digital tetapi juga sebagai medium yang mampu memengaruhi perilaku generasi muda hingga ke titik ekstrem. Fakta menunjukkan bahwa sejumlah kasus kekerasan berawal dari keterlibatan anak dan remaja dalam gim online, mulai dari bullying, tindakan bunuh diri, hingga teror bom di sekolah dan pembunuhan.

Kasus tragis di Medan, misalnya, memperlihatkan bagaimana seorang anak tega membunuh ibunya setelah terpengaruh oleh gim online (kompas.com, 29/12/2025), sementara di Depok seorang mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka dalam teror bom di sepuluh sekolah yang juga berawal dari inspirasi gim online (cnnindonesia.com, 26/12/2025).

Fakta-fakta ini menegaskan bahwa gim online dengan konten kekerasan yang bebas dan mudah diakses anak-anak memiliki dampak langsung terhadap emosi, kesehatan mental, dan perilaku generasi muda. Gim yang seharusnya menjadi sarana hiburan justru berubah menjadi instrumen yang menormalisasi kekerasan, menanamkan pola pikir agresif, dan mendorong tindakan berisiko. 

Analisis kritis terhadap fenomena ini menunjukkan bahwa platform digital sejatinya tidak pernah netral. Banyak nilai dan ajaran yang merusak dikemas dalam bentuk gim yang menarik, sehingga anak-anak dan remaja mudah terjebak dalam konten yang mengandung kekerasan, pornografi, atau ideologi berbahaya.

Kapitalisme global memanfaatkan ruang digital sebagai ladang bisnis yang menguntungkan, menjadikan gim online sebagai komoditas laris tanpa peduli pada kerusakan generasi dan kehidupan manusia. Logika pasar yang hanya mengejar profit membuat konten berbahaya terus diproduksi dan dipasarkan, sementara dampak sosial dan psikologisnya diabaikan.

Negara pun tampak belum mampu melindungi generasi dari bahaya ini, karena regulasi yang ada lebih bersifat teknis dan reaktif, bukan menyentuh akar persoalan ideologis yang membentuk perilaku generasi. Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam lingkungan digital yang penuh dengan normalisasi kekerasan, tanpa benteng moral yang kokoh untuk menolak pengaruh tersebut. 

Dalam perspektif Islam, perlindungan generasi dari kerusakan adalah kewajiban negara yang tidak bisa ditawar. Islam menekankan bahwa negara harus menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan, termasuk yang bersumber dari ruang digital. Hegemoni kapitalisme global di ruang digital harus dilawan dengan kedaulatan digital berbasis syariat, di mana konten, algoritma, dan ekosistem digital diarahkan untuk menjaga akhlak, melindungi masyarakat, dan mencegah normalisasi maksiat.

Islam menawarkan konstruksi solusi melalui tiga pilar utama: pertama, ketakwaan individu yang membentuk filter internal kokoh sehingga anak dan remaja mampu menolak pengaruh buruk meski berada di tengah derasnya arus digital; kedua, kontrol masyarakat yang menciptakan lingkungan sosial yang mendukung nilai Islam, memperkuat identitas generasi, dan mencegah perilaku menyimpang; ketiga, perlindungan negara yang memastikan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya berjalan sesuai syariat, sehingga ruang digital tidak lagi menjadi ancaman melainkan sarana pembinaan, dakwah, dan penguatan generasi.

Dengan penerapan sistem Islam secara menyeluruh, generasi tidak hanya terlindungi dari bahaya gim online, tetapi juga mampu tumbuh sebagai generasi yang tangguh, berakhlak, dan berperan aktif dalam membangun peradaban Islam yang mulia. [An/AA]

Baca juga:

0 Comments: