Headlines
Loading...
Kepemimpinan Global Membawa Rahmat

Kepemimpinan Global Membawa Rahmat

Oleh: Yanti Fariidah
(Founder Rumah Pintar ZR Magelang)

SSCQMedia.Com—Dunia hari ini berada di persimpangan jalan yang gelap. Hegemoni global yang berada di bawah kendali Amerika Serikat telah membawa dampak buruk bagi kehidupan umat manusia. Ideologi kapitalisme sekuler terbukti gagal menciptakan perdamaian. Sistem ini justru menyeret manusia ke jurang penderitaan yang bersifat sistemik. Tatanan dunia kehilangan kompas moral, sehingga tangisan dan nestapa di berbagai belahan bumi menjadi pemandangan harian yang memilukan.

Manusia seolah kehilangan perlindungan sejati. Bumi yang kita pijak merintih akibat eksploitasi tanpa batas, yang dipandu oleh keserakahan materi semata. Kondisi ini menegaskan bahwa dunia membutuhkan kepemimpinan yang membawa keberkahan hidup. Urgensi hadirnya kepemimpinan dunia yang adil dan bermoral menjadi kebutuhan utama umat manusia.

Fakta Arogansi Global dan Jeritan Bumi

Awal tahun 2026 kembali memperlihatkan kegagalan total sistem global saat ini. Kelestarian bumi terancam oleh berbagai realitas pahit. Pertama, dominasi Amerika Serikat telah menjajah banyak bangsa, termasuk umat Islam, baik secara politik maupun ekonomi. Penjajahan ini menjadikan umat berada dalam kondisi lemah dan menderita, sekaligus semakin terseret ke arus sekularisme yang menjauhkan mereka dari jati diri spiritualnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan agresi militer di Caracas, Venezuela. Peristiwa pada 3 Januari 2026 yang berujung pada penangkapan Presiden petahana memicu kecaman luas di tingkat global. Menurut laporan Sindonews pada 4 Januari 2026, tindakan ini tergolong kejahatan agresi yang melanggar Piagam PBB. Arogansi tersebut semakin nyata melalui pernyataan resmi Presiden Amerika Serikat. Berdasarkan laporan ANTARA News tanggal 9 Januari 2026, Amerika Serikat secara terbuka mengincar minyak Venezuela demi meraup keuntungan triliunan dolar untuk kepentingan domestik, tanpa memedulikan nasib rakyat sipil yang terancam kelaparan.

Selain itu, berbagai bencana ekologis juga terjadi akibat keserakahan kapitalisme global. Kepemimpinan dunia saat ini hanya berorientasi pada akumulasi modal. Laporan CNBC Indonesia tanggal 9 Januari 2026 mencatat terjadinya bencana besar di Aceh dan Sumatra pada akhir 2025. Fenomena tersebut merupakan dampak nyata dari eksploitasi hutan dan pertambangan. Korporasi di bawah sistem oligarki telah merampas ruang hidup masyarakat. Bumi tidak lagi dipandang sebagai amanah untuk generasi mendatang, melainkan sekadar komoditas demi angka di bursa saham.

Analisis Kerusakan Sistemik dan Hilangnya Fitrah

Kegagalan dunia berakar pada penerapan ideologi yang cacat dalam memandang hakikat kehidupan manusia. Tatanan hukum internasional kerap diterapkan secara tebang pilih. Ideologi kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam, baik pada aspek akidah, muamalah, maupun akhlak. Kerusakan juga menjalar ke bidang ekonomi, politik, sosial, dan pendidikan. Nilai-nilai kemanusiaan digadaikan demi mengejar pertumbuhan ekonomi semu.

Faktanya, kemakmuran tidak pernah benar-benar mengalir ke lapisan bawah masyarakat. Kekayaan hanya berputar di kalangan elit pemilik modal. Amerika Serikat menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan dominasinya, mulai dari aneksasi hingga tekanan diplomatik terhadap negara lain, demi menguasai sumber daya alam secara sepihak. Mereka mengabaikan hukum internasional dan kecaman dunia. Sekularisme telah menghilangkan standar moral dalam politik global, sementara kekuatan militer dan sanksi ekonomi dijadikan alat penindasan.

Ketimpangan ekonomi yang ekstrem menjadi konsekuensi logis dari sistem ini. Kapitalisme melegalkan penguasaan sumber daya umum oleh segelintir orang, sementara mayoritas penduduk dunia tercekik oleh kemiskinan yang bersifat struktural.

Solusi Islam sebagai Rahmat bagi Alam Semesta

Di tengah kegelapan ini, umat Islam perlu menyadari potensi dan kekuatannya. Umat memiliki alternatif sistem yang mampu menyembuhkan peradaban. Islam tidak datang sebagai ancaman bagi manusia, melainkan sebagai konsep kepemimpinan yang berlandaskan ketakwaan. Allah Swt. telah menegaskan tugas luhur ini dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (TQS Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan kemanusiaan dan penjaga alam semesta. Umat Islam harus kembali diingatkan akan keberadaan mabda Islam sebagai ideologi yang mampu menjadi modal kebangkitan nyata. Tegaknya kepemimpinan Islam diperlukan untuk melawan hegemoni yang destruktif. Islam adalah harapan untuk mengembalikan kasih sayang dan keadilan di muka bumi, melampaui kepentingan kelompok tertentu.

Secara konkret, Khilafah Islam akan bertindak sebagai pelindung bagi seluruh rakyat. Sistem ini memberikan rasa aman bagi siapa pun yang berada di bawah naungannya. Kekayaan alam dikelola sebagai milik umum dan hasilnya dikembalikan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw. tentang kepemilikan bersama atas air, api, dan padang rumput. Dalam sistem Islam, tidak ada eksploitasi manusia. Setiap jiwa dihargai dan setiap jengkal tanah dijaga.

Menuju Tegaknya Islam Kafah sebagai Solusi

Realitas pahit di awal tahun 2026 merupakan peringatan bagi seluruh umat manusia. Luka yang diderita bumi adalah jeritan agar tatanan zalim ini segera diakhiri. Kepemimpinan yang menjadikan materi sebagai sesembahan harus diganti dengan tatanan Islam kafah. Inilah saatnya manusia kembali kepada syariat yang menghidupkan fitrah.

Islam bukan sekadar pilihan ritual individual. Islam kafah adalah mercusuar yang memandu dunia keluar dari badai keserakahan. Fajar keadilan hanya akan terbit jika rantai kapitalisme diputus dan aturan Allah diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Mengupayakan tegaknya kembali Islam kafah merupakan wujud cinta sejati terhadap kemanusiaan. Inilah janji Allah untuk mengembalikan kemuliaan bagi mereka yang tertindas. Mari bersatu dan menanggalkan ego demi tegaknya hukum Sang Pencipta. Hanya dengan kembali ke jalan-Nya, kedamaian hakiki akan meliputi seluruh alam semesta.

Wallahualam bissawab. [ry/Des]

Baca juga:

0 Comments: