Headlines
Loading...
Kedok "Cinta" di Balik Bahaya Child Grooming

Kedok "Cinta" di Balik Bahaya Child Grooming

Oleh: Najma MR
(Penggiat Literasi)

SSCQMedia.Com—Pernahkah kamu merasa ada orang dewasa, bisa kakak kelas jauh, kenalan di media sosial, atau bahkan sosok yang kamu anggap mentor, tiba-tiba terasa sangat nyambung denganmu? Perhatiannya berlebihan, sering memberi hadiah, atau selalu hadir mendengarkan curhatanmu saat orang lain tidak peduli. Rasanya seperti menemukan support system impian. Namun, tunggu dulu. Kamu perlu waspada, karena bisa jadi itu bukan perhatian tulus, melainkan bentuk child grooming.

Child grooming adalah taktik licik yang digunakan predator untuk menjebak remaja melalui pendekatan yang sangat halus, hingga korban tidak sadar sedang berada dalam bahaya besar.

Modus Halus yang Membuat Terbuai

Grooming tidak terjadi secara kasar atau tiba-tiba. Pelaku biasanya menggunakan teknik manipulasi emosi yang rapi dan bertahap. Mereka membangun kedekatan secara perlahan, tetapi intens.

Berdasarkan laporan Detik.com tanggal 12 November 2025 tentang tren kejahatan siber, predator masa kini semakin lihai memanfaatkan media sosial untuk memasuki dunia remaja. Korban dibuat merasa diperhatikan sepenuhnya. Bisa berupa hadiah top up gim, traktiran makan, atau pujian berlebihan yang terus diulang hingga menimbulkan rasa nyaman dan ketergantungan.

Masalahnya, semua proses ini dilakukan dengan sengaja. Tujuannya satu, membangun kepercayaan penuh. Saat korban mulai merasa bahwa pelaku adalah satu-satunya orang yang memahami dirinya, di situlah benih cinta semu mulai tumbuh. Mengutip rilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Desember 2025, mayoritas kasus kekerasan terhadap anak diawali dengan proses grooming yang berlangsung berbulan-bulan sebelum eksploitasi terjadi. Korban tidak merasa dipaksa karena pelaku telah menanamkan doktrin cinta dewasa palsu, seolah hubungan tersebut istimewa dan tidak akan dipahami oleh lingkungan sekitar.

Mengapa Remaja Menjadi Sasaran Empuk?

Jika ditelaah lebih dalam, child grooming merupakan bentuk manipulasi psikologis yang sangat terstruktur. Ada beberapa alasan mengapa pola ini efektif merusak mental remaja.

Pertama, adanya eksploitasi kebutuhan afeksi. Predator mengisi kekosongan emosional yang mungkin tidak didapatkan remaja di rumah. Mereka tidak mencari pasangan yang setara, tetapi objek yang mudah dikendalikan.

Kedua, pelaku melakukan isolasi sosial secara perlahan. Mereka membangun narasi bahwa hanya “kita” yang saling memahami, sehingga korban menjauh dari orang tua dan lingkungan terdekat.

Ketiga, terjadi normalisasi pelecehan. Hal-hal yang seharusnya tabu perlahan dianggap wajar atas nama bukti cinta, sampai akhirnya korban merasa bertanggung jawab menjaga hubungan yang sebenarnya merusak dirinya sendiri.

Dari Janji Manis Menuju Trauma Tragis

Ketika korban sudah masuk ke dalam jebakan, hubungan biasanya berlanjut ke tahap pacaran. Pada fase ini, manipulasi pelaku semakin intens. Janji menikah di usia muda sering digunakan agar korban merasa hubungan tersebut memiliki masa depan yang pasti. Padahal, menurut data Republika tanggal 5 Januari 2026, pernikahan dini kerap menjadi pintu masuk untuk melegalkan kekerasan dan kontrol penuh pelaku terhadap korban.

Saat kontrol sudah didapatkan, eksploitasi pun terjadi, baik secara emosional, fisik, maupun seksual. Korban bisa diminta mengirim foto tidak pantas atau diajak melakukan perbuatan yang melanggar norma. Catatan Tahunan Komnas Perempuan Maret 2025 menunjukkan peningkatan signifikan kasus pemerasan seksual pada remaja akibat grooming. Dampaknya sangat serius, mulai dari gangguan kecemasan, trauma berkepanjangan, hingga rusaknya masa depan.

Perisai Diri Remaja Muslim

Islam hadir sebagai pelindung kemuliaan manusia dengan aturan yang bersifat preventif. Salah satu langkah paling krusial adalah larangan pacaran. Larangan ini bukan untuk membatasi pergaulan, melainkan menutup rapat pintu grooming dan manipulasi emosional.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 32,

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Kata “mendekati” menunjukkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk waspada terhadap segala bentuk interaksi yang berpotensi menjerumuskan pada bahaya.

Selain itu, Islam juga mengajarkan pengendalian gharizah nau’, naluri ketertarikan pada lawan jenis. Naluri ini harus dikendalikan, bukan dituruti tanpa arah. Rasulullah saw. memberikan solusi bagi pemuda yang belum mampu menikah dengan memperbanyak puasa, karena puasa adalah perisai yang kuat. Dengan mendekatkan diri pada aktivitas positif dan ibadah, remaja dilatih untuk mengendalikan diri agar tidak mudah terbuai oleh perhatian semu para predator.

Hidup Bervisi Surga

Sebagai remaja, kita harus memiliki standar hidup yang tinggi. Jangan rela hidup sekadar mengikuti arus atau terbuai janji manis yang menyesatkan. Terapkan pola hidup bervisi surga. Artinya, setiap pertemanan, perasaan, dan langkah hidup harus diarahkan untuk meraih rida Allah Swt.

Hidup bervisi surga membuat seseorang berpikir matang sebelum terjerumus ke dalam kemaksiatan. Ia sadar bahwa dirinya adalah aset berharga bagi peradaban, bukan objek pemuas nafsu predator. Dengan visi ini, remaja akan fokus memperbaiki diri, mengejar prestasi, dan menjaga kehormatan hingga tiba waktunya menjalani hubungan yang suci dan halal.

Jangan menukar kemuliaan diri dengan cinta palsu yang penuh manipulasi. Sayangi dirimu, karena surga terlalu indah untuk ditukar dengan trauma dunia.

Wallahualam bissawab. [ry/Des]

Baca juga:

0 Comments: