Kaleidoskop Kekerasan 2025: Kegagalan Sistem Kapitalis Menjaga Nyawa
Oleh: Istiana Ayu S. R.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com - Menjelang akhir tahun, kita selalu dihadapkan pada kaleidoskop kekerasan dan pembunuhan yang seakan tidak pernah absen setiap hari. Laporan tentang perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, perselisihan yang berujung pembunuhan, hingga konflik bersenjata silih berganti mengisi ruang pemberitaan.
Tragedi demi tragedi tersebut perlahan terasa biasa saja. Saking seringnya terulang, kekerasan seolah menjadi bagian wajar dari kehidupan modern.
Padahal, di balik setiap angka statistik terdapat manusia dengan luka batin, keluarga yang hancur, serta trauma mendalam yang berkepanjangan.
Data Badan Pusat Statistik dalam Statistik Kriminal 2024–2025 menunjukkan bahwa tindak pidana masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Pembunuhan tercatat sebagai salah satu kejahatan berat yang terus mengancam rasa aman masyarakat (bps.go.id, 12/12/2025).
Angka-angka tersebut mungkin tampak dingin di atas kertas, tetapi di dunia nyata kekerasan itu benar-benar terjadi di sekitar kita, bahkan di lingkungan yang tidak pernah kita sangka.
Mirisnya, sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak tumbuh, belajar, dan merasa aman, justru kini kerap menjadi lokasi terjadinya kekerasan yang menyisakan kisah pilu.
Catatan Federasi Serikat Guru Indonesia menunjukkan bahwa ratusan anak menjadi korban kekerasan sepanjang 2025, dengan beberapa kasus berujung pada bunuh diri atau aksi balas dendam (tempo.co, 2025; kompas.id, 2025).
Tekanan akademik, budaya persaingan, minimnya dukungan emosional, tontonan yang merusak moral, serta guru yang disibukkan dengan urusan administratif membuat tidak sedikit anak merasa sendirian menghadapi beban hidup.
Pendidikan yang seharusnya mencetak manusia yang memanusiakan manusia justru berubah menjadi ruang yang menekan dan mengabaikan aspek empati.
Di sisi lain, rumah dan keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang sekaligus ruang paling aman juga tidak luput dari kekerasan.
Di Jakarta saja, hampir dua ribu kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tercatat sepanjang 2025 (megapolitan.kompas.com, 03/12/2025).
Angka ini bukan sekadar data, melainkan gambaran rusaknya tatanan kehidupan hari ini. Ketenangan kian hilang, rasa aman menjauh, dan masyarakat hidup dalam bayang-bayang ketakutan.
Jika ditelaah lebih dalam, kekerasan dan pembunuhan yang terus berulang tidak bisa dilepaskan dari dominasi sistem kapitalis sekuler.
Cara pandang kapitalisme membentuk pemahaman bahwa nilai manusia diukur dari materi. Sementara sekulerisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga standar benar dan salah tidak lagi berpijak pada nilai agama, melainkan pada kepentingan materi serta logika untung rugi. Wajar jika kehidupan hari ini berubah menjadi arena persaingan tanpa henti.
Tekanan ekonomi, kesenjangan sosial, serta rasa ketidakadilan yang terus menumpuk menjadi beban psikologis layaknya bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Data tentang motif pembunuhan di Indonesia menunjukkan bahwa banyak kasus dipicu oleh konflik emosional dan rusaknya relasi sosial (databoks.katadata.co.id, 2025).
Ketika sebagian kecil masyarakat hidup dalam kelimpahan, sementara sebagian besar lainnya bergulat dengan tekanan hidup yang berat, kekerasan kerap muncul sebagai pelampiasan. Pada saat yang sama, budaya populer mulai menormalisasi kekerasan, sementara penegakan hukum belum memberikan efek jera.
Inilah konsekuensi ketika agama dipisahkan dari kehidupan. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 32 ditegaskan bahwa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Prinsip ini menempatkan nyawa manusia pada posisi yang sangat mulia.
Berbeda dengan sistem kapitalis liberal, Islam tidak memisahkan agama dari kehidupan. Akidah dan akhlak menjadi fondasi dalam pendidikan dan pengaturan kehidupan, baik pada level individu, masyarakat, maupun negara.
Anak-anak dididik melalui keteladanan, bukan kekerasan atas nama disiplin. Sekolah diarahkan menjadi ruang pembentukan adab, empati, dan kepekaan sosial, bukan sekadar tempat mengejar nilai dan prestasi. Pendidikan berfungsi sebagai proses transfer tsaqafah, bukan hanya transfer pengetahuan.
Negara pun memegang peran yang sangat krusial. Dalam Islam, menjaga jiwa dan nyawa manusia merupakan kewajiban utama. Pemenuhan kebutuhan pokok, penegakan keadilan hukum, serta perlindungan terhadap kelompok rentan bukanlah pilihan, melainkan amanah. Ketika keadilan benar-benar dirasakan dan kehidupan dijalankan berdasarkan nilai yang benar, tekanan sosial dapat dikurangi dan potensi kekerasan dicegah sejak dini.
Pada akhirnya, kekerasan yang terus berulang bukan semata persoalan kriminal atau kegagalan individu, melainkan cermin dari cara pandang terhadap kehidupan bersama. Bencana kemanusiaan sepanjang 2025 seharusnya menjadi peringatan bahwa manusia tidak diciptakan untuk saling melukai, melainkan untuk saling melindungi.
Ketika sistem kapitalis liberal gagal menjaga nyawa, sudah saatnya kembali kepada sistem Islam yang menempatkan nyawa manusia pada posisi yang mulia. Wallahualam bissawab. [US]
Baca juga:
0 Comments: