Headlines
Loading...

Oleh: Sri Mulyani
(Kontributor SSCQMedia.Com)

Judul Buku: Indahnya Romantika Ibu Ideologis
(Katalog kisah nyata aspiratif para ibu dalam mengasuh dan mendidik buah hati)
Penulis: Ratna Mufida, dkk.
Penerbit: Al Azhar Fresh Zone Publishing
Tahun Terbit: Juli 2012
Jumlah Halaman: 192 halaman
Peresensi: Sri Mulyani

“... anakmu ini adalah bagian dari tubuhmu yang keluar dari rahimmu, seorang anak kecil yang lemah dan akalnya belum sempurna. Kesalahannya bukan karena kesengajaan. Ia membutuhkan sikap santun, kelembutan, kasih sayang, dan maaf darimu. Ia bukan tawanan perang, bukan pula seorang budak, apalagi seorang tahanan yang jahat, bukan musuh yang lihai berbuat makar, dan bukan pula penjahat yang senantiasa mencari kesempatan untuk membahayakanmu.”
(hlm. 179)

Buku Indahnya Romantika Ibu Ideologis merupakan karya reflektif yang mengangkat peran ibu dalam perspektif Islam secara mendalam dan bermakna. Buku ini menegaskan bahwa ibu bukan sekadar figur biologis yang mengandung, melahirkan, dan merawat anak, melainkan sosok strategis dalam pembentukan iman, nilai, dan arah hidup generasi. Pengasuhan diposisikan sebagai amanah besar yang sarat tanggung jawab ideologis dan spiritual.

Sebagai agama yang sempurna, Islam telah mengatur kedudukan ibu dengan kemuliaan yang tinggi dan tidak tergantikan. Buku ini menggambarkan ibu sebagai hamba Allah yang senantiasa taat kepada Rabb-nya, istri yang berbakti kepada suami karena keridaan Allah bergantung pada hal tersebut, serta ibu yang melahirkan dan mendidik generasi pejuang Islam dan calon pemimpin umat. Dalam peran ini, ibu juga diposisikan sebagai pemimpin dan pendidik sosial yang mengarahkan keluarganya menuju ketaatan kepada Allah Swt.

Ditulis oleh Ratna Mufida bersama para penulis lainnya, buku ini disusun dalam bentuk antologi kisah nyata yang aspiratif. Setiap tulisan merekam pengalaman hidup para ibu dengan latar belakang yang beragam, tetapi disatukan oleh kesadaran nilai yang sama. Kejujuran dalam bertutur menjadi kekuatan utama buku ini karena para penulis tidak menampilkan sosok ibu yang ideal tanpa cela, melainkan ibu yang terus berproses, diuji, lelah, dan bangkit kembali.

Konsep “ibu ideologis” menjadi benang merah keseluruhan isi buku. Ibu ideologis dimaknai sebagai ibu yang menyadari bahwa pengasuhan bukan aktivitas netral. Setiap pilihan dalam mendidik anak, cara berbicara, membentuk kebiasaan, memberi teladan, hingga menentukan arah pendidikan akan membentuk cara pandang anak terhadap kehidupan. Ibu tidak hanya bertugas mencerdaskan anak secara intelektual, tetapi juga membentuk akidah, adab, dan kesadaran ideologis sejak dini.

Buku ini menampilkan romantika pengasuhan yang beragam dan menyentuh. Terdapat kisah seorang ibu yang dengan tekad kuat memilih menjadi guru bagi anak-anaknya sendiri meskipun jumlah mereka tidak sedikit. Ada pula kisah seorang istri sekaligus ibu yang diuji keteguhan imannya ketika harus menerima cobaan berat saat suaminya ditangkap aparat. Selain itu, buku ini menghadirkan cerita pergulatan batin seorang ibu ketika hendak memasukkan anaknya ke pesantren, lengkap dengan rasa haru, cemas, dan doa yang mengiringinya.

Tidak ketinggalan, buku ini memuat curahan hati para ibu yang saling menguatkan satu sama lain. Dari kisah-kisah tersebut, pembaca dapat merasakan bahwa kekuatan seorang ibu sering kali tumbuh dari kebersamaan dan inspirasi sesama ibu. Buku ini menjadi ruang berbagi, ruang empati, sekaligus ruang belajar bersama tentang arti keteguhan dalam menjalani peran keibuan.

Secara reflektif, buku ini mengajak pembaca melakukan muhasabah. Pembaca diajak bertanya kepada diri sendiri apakah peran ibu selama ini telah dijalani dengan kesadaran nilai dan visi jangka panjang, atau sekadar rutinitas tanpa arah. Buku ini menegaskan bahwa peran ibu tidak berhenti pada lingkup keluarga, tetapi juga memiliki kewajiban mendakwahkan Islam ke tengah masyarakat agar kehidupan sosial terwarnai nilai-nilai Islam dan syariat Allah dapat ditegakkan.

Dari sisi akademik, kelebihan buku ini terletak pada kekuatan data empiris berupa pengalaman hidup para ibu. Pendekatan naratif menjadikan buku ini kaya perspektif kualitatif dan relevan bagi kajian pendidikan keluarga serta pendidikan Islam. Konsistensi ideologis yang jelas memberikan arah pengasuhan yang tegas, sehingga pembaca tidak kehilangan benang merah dalam memahami pesan buku.

Namun demikian, secara akademik buku ini memiliki keterbatasan. Kisah-kisah yang disajikan belum banyak dikaitkan dengan teori pendidikan, psikologi perkembangan anak, atau kajian sosial secara formal. Selain itu, karena ditulis oleh banyak penulis, kedalaman refleksi dan fokus pembahasan antar tulisan tidak selalu seimbang. Hal ini menjadikan buku ini lebih kuat sebagai bacaan reflektif dan inspiratif dibandingkan sebagai rujukan akademik utama.

Meskipun memiliki keterbatasan tersebut, nilai utama buku ini tetap sangat kuat. Keteladanan nyata yang ditampilkan justru menjadi keunggulan utama dalam membangun kesadaran dan motivasi peran ibu. Buku ini berhasil menguatkan, menyadarkan, dan menumbuhkan kembali rasa bangga menjadi seorang ibu yang menjalani amanah dengan penuh cinta dan kesadaran ideologis.

Secara keseluruhan, Indahnya Romantika Ibu Ideologis layak dibaca oleh para ibu, calon ibu, pendidik, dan siapa pun yang peduli terhadap pendidikan keluarga dan masa depan umat. Buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan ruang refleksi tentang pengasuhan sebagai jalan ibadah, dakwah, dan perjuangan. Buku ini menegaskan bahwa ibu adalah jantung keluarga, dan dari jantung itulah masa depan generasi serta peradaban dibentuk.

[My/Wa]

Baca juga:

0 Comments: