Headlines
Loading...
Game Online Melahirkan Kerusakan Mental

Game Online Melahirkan Kerusakan Mental

Oleh: Resti Ummu Faeyza
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Kecanggihan teknologi saat ini turut melahirkan beragam permainan digital (gim) yang menyasar kalangan muda. Mulai dari gim ringan sebagai hiburan hingga gim dengan genre yang memacu adrenalin, bahkan mampu memengaruhi emosi, suasana hati, serta pola pikir para pemainnya.

Saat ini, tidak sedikit anak berusia tujuh tahun yang sudah mahir mengoperasikan gawai. Bahkan, sebagian orang tua dengan sengaja memfasilitasi penggunaan gawai tersebut. Kemudahan akses gim melalui perangkat digital membuat anak-anak semakin enggan bermain di luar rumah. Mereka lebih banyak berinteraksi di dunia maya dibandingkan dunia nyata. Terlebih lagi, konsep gim daring yang menghubungkan pemain dari berbagai wilayah membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan interaksi sosial secara langsung, seperti menyapa, bermain, dan berbincang dengan lingkungan sekitar. Ironisnya, tidak sedikit dari mereka justru merasa terganggu ketika kehidupan dunia mayanya terusik.

Masyarakat hari ini barangkali tidak pernah menyangka bahwa penggunaan gawai pada usia anak yang belum matang dapat memunculkan berbagai dampak buruk. Bahkan, di luar dugaan, permainan berbasis digital tertentu mampu memicu kerusakan mental dan tindak kekerasan. Sejumlah fakta di lapangan menunjukkan adanya gim yang berkaitan dengan munculnya aksi kekerasan, teror, bunuh diri, hingga tindak pidana pembunuhan.

Salah satu kasus yang menggemparkan terjadi di Kecamatan Sunggal, Medan. Seorang anak perempuan berusia 12 tahun tega membunuh ibu kandungnya dengan menikam korban berkali-kali menggunakan pisau hingga meninggal dunia. Setelah melalui penyelidikan mendalam, termasuk pemeriksaan digital forensik, Polrestabes Medan menetapkan anak tersebut sebagai tersangka tunggal. Kapolrestabes Medan menyatakan bahwa pelaku terobsesi dengan gim murder mystery pada sesi kills others yang menggunakan senjata pisau, serta menonton serial anime Detective Conan episode 271 yang menampilkan adegan pembunuhan dengan pisau. Obsesi tersebut mendorong pelaku menikam ibunya sebanyak 26 kali (okemedan.com, 29 Desember 2025).

Kasus tersebut merupakan potret mengerikan dari dampak konten digital yang bebas diakses tanpa perlindungan dan penyaringan. Fenomena ini menjadi ciri kuat tatanan kehidupan kapitalisme sekuler yang menjunjung kebebasan tanpa batas norma agama. Manusia dibiarkan melakukan apa saja demi kepuasan dan keuntungan, tanpa mempertimbangkan nilai moral dan etika.

Sesungguhnya, berkarya melalui kecanggihan teknologi bukanlah sesuatu yang terlarang, termasuk dalam menciptakan permainan berbasis digital. Namun, semestinya terdapat batasan yang tegas, seperti larangan konten kekerasan dan pornografi dalam gim. Apalagi, sejatinya permainan, baik daring maupun luring, bukanlah prioritas utama dalam kehidupan manusia.

Dalam sistem kapitalisme, manusia cenderung melakukan apa saja yang menyenangkan dan menguntungkan tanpa memandang baik dan buruk. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak gim saat ini mengandung unsur kekerasan dan pornografi. Selain karena genre tersebut diminati, para pengembang aplikasi pun tidak merasa takut atau bersalah telah menyuguhkan konten amoral kepada para pemain.

Di sisi lain, masyarakat saat ini juga tidak lagi dikawal oleh norma agama. Hukum halal dan haram semakin ditinggalkan sehingga rasa takut dan malu pun perlahan menghilang. Kondisi ini berjalan beriringan dan berujung pada lahirnya generasi dengan kualitas rendah, kerusakan mental, serta keberanian melakukan kekerasan dan tindak pidana lainnya. Masa depan generasi pun tampak semakin suram dan mengkhawatirkan.

Tatanan kehidupan kapitalisme sekuler terbukti tidak mampu menentramkan hati manusia. Jauhnya aturan agama dari kehidupan bermasyarakat berdampak besar terhadap berbagai persoalan, termasuk pengaruh buruk gim daring. Bahkan, di tingkat negara, solusi yang menyeluruh dan tegas sulit ditemukan. Negara tampak abai dan lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dibandingkan perlindungan generasi.

Berbeda halnya dengan sistem pemerintahan yang bersandar pada syariat Islam. Dengan kesadaran akan hubungan manusia dengan Allah Swt., kehidupan dibatasi oleh hukum halal dan haram, dosa dan pahala. Manusia dituntun untuk terus berkarya tanpa melanggar norma agama.

Islam mewajibkan negara melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan. Dominasi ruang digital saat ini hanya dapat diatasi melalui institusi negara yang berdaulat, mengatur, dan menjamin masa depan generasi muda. Kerusakan generasi dapat dicegah melalui penerapan tiga pilar utama, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan perlindungan negara. Semua itu hanya dapat terwujud jika sistem politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya diatur berdasarkan syariat Islam secara menyeluruh melalui institusi negara.

Wallahualam.

[My/Wa]


Baca juga:

0 Comments: