Ibuk: Refleksi Keteladanan Ibu dalam Nilai Islam
Oleh: Maya Rohmah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
Judul Buku: Ibuk
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 293 halaman
Peresensi: Maya Rohmah
SSCQMedia.Com — Ibuk, sebagaimana judulnya, merupakan novel yang mengangkat kisah kehidupan seorang ibu bernama Tinah, yang akrab disapa Ibuk. Kehidupannya dipenuhi perjuangan dan cinta kasih tanpa batas bagi keluarga kecilnya. Tinah berasal dari latar belakang sederhana dan tidak menamatkan pendidikan dasar. Meski demikian, ia memiliki tekad kuat untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kelima anaknya: Isa, Nani, Bayek, Rini, dan Mira.
Pengabdian Ibuk kepada anak-anaknya tergambar jelas dalam kalimat,
“Ibuk tidak pernah meminta apa pun untuk dirinya sendiri. Yang ia pikirkan hanya bagaimana anak-anaknya bisa hidup lebih baik darinya.”
(Ibuk, hlm. 56)
Fokus utama cerita bermula dari pertemuan Tinah dengan Sim, yang kemudian menjadi suaminya. Pembaca diajak menyelami perjuangan mereka sebagai pasangan sederhana dengan sumber penghasilan dari pekerjaan sebagai sopir angkot. Di balik keterbatasan tersebut, tersimpan impian besar Ibuk agar anak-anaknya tidak menjalani kehidupan yang sama seperti dirinya.
Alur cerita membawa pembaca dari kampung halaman di Kota Batu, Jawa Timur, hingga perjalanan Bayek, anak laki-laki satu-satunya, yang berhasil meraih pendidikan tinggi dan kesempatan bekerja di luar negeri. Keberhasilan ini tidak lepas dari keyakinan Ibuk terhadap pentingnya pendidikan, sebagaimana ucapannya,
“Sekolah itu penting, Le. Ibuk memang tidak sekolah tinggi, tapi Ibuk tahu hidup bisa berubah kalau kamu punya ilmu.”
(Ibuk, hlm. 147)
Sosok Ibuk terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak ibu. Ia menjalani peran dengan penuh kesabaran, tanpa banyak keluhan, dan selalu mengutamakan kepentingan keluarga. Dalam pandangan Islam, peran semacam ini merupakan amanah besar. Ibuk tidak hanya hadir sebagai pengurus rumah tangga, tetapi juga sebagai penjaga nilai, pendidik, sekaligus sumber kekuatan bagi keluarganya.
Kesabaran dan Keikhlasan yang Bernilai Ibadah
Ibuk digambarkan sebagai sosok yang sabar menghadapi berbagai ujian hidup. Keterbatasan ekonomi, lelah mengurus rumah dan anak-anak, serta kecemasan akan masa depan dijalani dengan lapang dada. Sikap ini tercermin dalam prinsip hidup yang ia tanamkan,
“Hidup boleh susah, tapi jangan menyerah. Selama masih mau berusaha dan berdoa, Allah tidak akan meninggalkan kita.”
(Ibuk, hlm. 221)
Setiap pengorbanan Ibuk, mulai dari menahan keinginan pribadi hingga bekerja lebih keras demi biaya pendidikan anak-anak, dapat dimaknai sebagai bentuk ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah.
Ibu sebagai Madrasah Pertama
Buku ini menunjukkan bagaimana Ibuk mendidik anak-anaknya melalui keteladanan. Ia menanamkan nilai tanggung jawab, kerja keras, dan keteguhan hidup sejak dini. Inilah gambaran ibu sebagai madrasah pertama, sebagaimana ajaran Islam yang menempatkan ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga.
Nasihat-nasihat Ibuk menjadi pijakan hidup anak-anaknya agar tidak mudah menyerah pada keadaan, sekaligus membentuk karakter yang kuat dan berakhlak.
Doa Ibu dan Keberkahan Hidup
Keberhasilan anak-anak Ibuk tidak hadir begitu saja. Di baliknya mengalir doa yang terus dipanjatkan, meskipun tidak selalu terucap panjang. Hal ini tergambar dalam kutipan,
“Dalam diamnya, Ibuk selalu berdoa. Doa yang tak terdengar, tetapi jalannya sampai ke langit.”
(Ibuk, hlm. 112)
Islam mengajarkan bahwa doa ibu merupakan doa yang mustajab. Buku ini mengingatkan bahwa doa yang lahir dari keikhlasan seorang ibu mampu membuka jalan kebaikan bagi masa depan anak-anaknya.
Cinta Tanpa Syarat
Cinta Ibuk kepada anak-anaknya digambarkan hadir tanpa syarat dan tanpa batas. Pengorbanan menjadi bagian dari kesehariannya, sebagaimana ungkapan,
“Bagi Ibuk, anak-anaknya adalah segalanya. Kalau harus lelah, biarlah Ibuk yang lelah.”
(Ibuk, hlm. 189)
Cinta seperti ini merupakan bentuk rahmat Allah yang dititipkan kepada seorang ibu, yang sering kali tidak disadari besarnya oleh anak-anaknya.
Ibuk memahami bahwa anak-anak adalah titipan Allah. Oleh karena itu, pendidikan menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Perjuangan Ibuk dalam memperjuangkan pendidikan anak-anaknya dapat dimaknai sebagai jihad seorang ibu dalam menjalankan amanah keluarga, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Penutup
Buku Ibuk merupakan bacaan yang menguatkan hati, terutama bagi para ibu. Kisah ini mengajarkan bahwa kesederhanaan tidak menghalangi seseorang untuk menjadi mulia di sisi Allah. Dengan kesabaran, keikhlasan, doa, dan tawakal, seorang ibu mampu menjadi sumber keberkahan bagi keluarganya.
Buku ini sangat layak dibaca oleh semua kalangan, baik sebagai bahan refleksi pribadi maupun sebagai pengingat tentang betapa mulianya peran seorang ibu dalam pandangan Islam.
[MA/En]
Baca juga:
0 Comments: