Headlines
Loading...
Game Online Marak, Malapetaka Mengintai

Game Online Marak, Malapetaka Mengintai

Oleh: Ummu Sholihah
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com — Setiap orang memiliki makna bahagia yang berbeda-beda. Ada yang memaknai bahagia sebagai terpenuhinya keinginan, ada pula yang mengaitkannya dengan hiburan, kesenangan, atau pelarian dari tekanan hidup. Cara setiap individu mencari bahagia pun beragam. Namun, kebahagiaan dapat berubah menjadi bencana ketika jalan yang ditempuh justru menjerumuskan pada jurang kehancuran.

Alih-alih menghadirkan ketenangan, cara tersebut justru melahirkan penderitaan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Fenomena ini tampak nyata dalam maraknya penggunaan game online. Banyak orang, termasuk anak-anak, menjadikan game online sebagai sarana hiburan sekaligus pelarian dari masalah.

Sayangnya, tidak sedikit kisah pilu yang membuktikan bahwa niat mencari bahagia melalui game online justru berujung pada tindak kejahatan yang mengerikan. Game yang awalnya dianggap sekadar permainan, perlahan membentuk pola pikir, emosi, dan karakter para pemainnya.

Sebagaimana peristiwa tragis yang terjadi di Medan, seorang anak berusia 12 tahun tega menikam ibu kandungnya sendiri dengan lebih dari 20 tusukan. Tindakan keji tersebut dipicu oleh rasa sakit hati karena akun game online yang sering dimainkannya dihapus oleh sang ibu, serta terinspirasi dari film yang ditontonnya (metrotvnews.com, 29 Desember 2025). Kasus ini mengguncang nurani masyarakat sekaligus membuka mata bahwa terdapat masalah serius dalam pola konsumsi hiburan digital, khususnya pada anak-anak.

Peristiwa tersebut bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Di berbagai tempat, kecanduan game online telah memicu perubahan perilaku yang signifikan. Kemudahan akses terhadap game online tanpa batas usia dan tanpa penyaringan konten yang memadai membuat bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak, terjerumus dalam kecanduan. Kondisi ini perlahan merusak kesehatan mental dan kejernihan berpikir. Anak-anak menjadi mudah tersulut emosi, berkata kasar, sulit mengendalikan diri, bahkan kehilangan empati terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam situasi seperti ini, game online tidak lagi sekadar hiburan, melainkan telah menjadi candu yang menguasai akal dan emosi. Ketika keinginan bermain terhalang, kemarahan dan agresivitas muncul tanpa kendali. Hal ini menjadi bukti bahwa game online bukanlah solusi untuk meraih kebahagiaan sejati. Sebaliknya, keberadaannya yang menjamur di berbagai platform digital justru berpotensi menjadi senjata perusak generasi apabila tidak dikendalikan secara serius.

Persoalan ini semakin kompleks karena banyak game online memuat konten kekerasan, pembunuhan, hingga penyimpangan seksual yang disisipkan secara halus. Paparan konten semacam ini, terutama pada anak-anak yang masih berada dalam proses pembentukan karakter, menjauhkan mereka dari nilai budi pekerti dan kemanusiaan. Kekerasan perlahan dianggap wajar, bahkan menghibur. Akibatnya, sensitivitas terhadap penderitaan orang lain semakin menipis.

Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan yang mengedepankan keuntungan semata. Kapitalisme sekuler mendorong industri game untuk terus berkembang tanpa mempertimbangkan dampak moral dan sosial, karena orientasi utamanya adalah profit. Selama game menghasilkan keuntungan besar, keselamatan generasi kerap diabaikan. Aturan yang berlaku saat ini memandang teknologi hanya sebagai sarana hiburan dan ladang bisnis, bukan sebagai alat pembentukan manusia yang beradab.

Oleh karena itu, diperlukan peran negara yang tegas dan bertanggung jawab, dengan mengemban sistem dan aturan yang tidak tunduk pada perubahan akal manusia semata.

Pengendalian bahaya game online tidak cukup diserahkan kepada keluarga atau individu. Negara sebagai institusi tertinggi memiliki kewenangan untuk mengatur, membatasi, bahkan menutup akses terhadap platform yang terbukti berbahaya dan berdampak negatif. Hanya pada level negara kebijakan yang menyeluruh dan mengikat dapat diterapkan demi melindungi generasi. Selain regulasi yang tegas, negara juga berkewajiban memberikan edukasi kepada masyarakat tentang makna kebahagiaan yang hakiki.

Bahagia bukan sekadar mengejar kesenangan duniawi atau hiburan sesaat, melainkan ketika manusia memahami fungsi hidupnya di dunia. Menjadi manusia yang bermanfaat, menjaga amanah sebagai pengelola kehidupan, serta menjadi pembawa kebaikan kapan pun dan di mana pun berada. Tanpa perubahan cara pandang ini, pencarian kebahagiaan akan terus salah arah dan melahirkan tragedi demi tragedi. Wallahu a’lam.

[MA/En]

Baca juga:

0 Comments: