Headlines
Loading...

Judul: Ibu, Kita Kuat
Penulis: Ummi Bella & Mama Mimi
Penerbit Malaysia: Qurlad Publication
Penerbit Indonesia: AQWAM
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 174
Peresensi: Santi Wardhani

Ibu belajar kuat bukan karena hidup selalu ramah, tetapi karena ia tahu kepada siapa lelahnya kembali. Di balik mata yang sering menahan air, ada hati yang terus berdoa agar semua pengorbanan bernilai ibadah. Ia tetap melangkah meski tubuh penat, sebab ia yakin setiap sabar dicatat, setiap tangis didengar. Ibu tidak meminta dunia mengerti, cukup Allah yang tahu. Dan dalam sujudnya ia berbisik lirih, “Untuk-Mu penat ini hanya sementara, karena janji-Mu selalu lebih besar daripada letih yang kurasa hari ini.”
(Hal. 82)

Buku Ibu, Kita Kuat karya Ummi Bella dan Mama Mimi adalah buku penguatan hati yang ditujukan khusus bagi para ibu. Buku ini tidak menyajikan teori yang berat atau istilah yang rumit. Isinya berupa rangkaian kalimat sederhana yang lahir dari pengalaman, empati, dan pemahaman tentang dunia keibuan. Buku ini terasa seperti pelukan hangat bagi ibu yang sedang lelah, bingung, atau merasa sendirian.

Sejak halaman-halaman awal, pembaca diajak menyadari bahwa menjadi ibu bukanlah peran yang mudah. Banyak ibu tampak kuat di luar, tetapi menyimpan tangis di dalam. Buku ini dengan jujur mengakui bahwa rasa capek, sedih, kecewa, dan marah adalah hal yang manusiawi. Ibu tidak selalu harus tersenyum dan tidak harus kuat setiap saat. Pengakuan inilah yang membuat buku ini terasa dekat dan menenangkan.

Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah bahwa ibu sering kali lupa pada dirinya sendiri. Terlalu sibuk mengurus anak, suami, dan rumah, hingga kebutuhan hatinya terabaikan. Buku ini mengingatkan bahwa ibu juga manusia yang berhak lelah, berhak istirahat, dan berhak menangis. Dengan bahasa yang lembut, penulis menanamkan pemahaman bahwa merawat diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan bagian dari ikhtiar agar tetap kuat menjalani peran.

Buku ini juga membahas perasaan bersalah yang kerap menghantui ibu. Rasa bersalah karena merasa kurang sabar, kurang hadir, atau tidak cukup baik. Penulis menenangkan pembaca dengan menegaskan bahwa tidak ada ibu yang sempurna. Yang ada adalah ibu yang terus belajar dan berusaha. Kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses bertumbuh.

Dalam beberapa bagian, buku ini menyoroti luka batin yang dialami ibu. Luka karena kurang dihargai, tidak didengar, atau merasa sendirian meskipun berada di tengah banyak orang. Buku ini tidak mengajak ibu memendam luka, tetapi mendorong untuk menerima dan perlahan menyembuhkannya. Penulis mengajak pembaca jujur pada perasaannya sendiri, karena luka yang diakui akan lebih mudah disembuhkan.

Ibu, Kita Kuat juga menekankan pentingnya bersandar kepada Allah. Ketika manusia tidak mengerti dan keluh kesah tak tersampaikan, Allah selalu hadir untuk mendengar. Doa seorang ibu digambarkan sebagai kekuatan besar yang sering diremehkan, padahal sangat menentukan. Buku ini mengingatkan bahwa Allah melihat setiap air mata ibu, bahkan yang jatuh dalam kesunyian.

Selain itu, buku ini mengajarkan agar ibu tidak membandingkan diri dengan ibu lain. Setiap keluarga memiliki cerita, ujian, dan perjalanan yang berbeda. Perbandingan hanya akan melahirkan rasa tidak cukup dan iri. Penulis mengajak pembaca fokus pada perjalanan masing-masing, karena setiap ibu sedang berjuang dengan caranya sendiri.

Tema keikhlasan dan penerimaan juga menjadi benang merah dalam buku ini. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan dan tidak semua doa langsung terjawab. Namun, di balik setiap penundaan dan ujian, selalu ada hikmah yang Allah siapkan. Buku ini tidak menjanjikan hidup yang selalu mudah, tetapi menanamkan keyakinan bahwa ibu mampu bertahan dan bangkit kembali.

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada caranya berbicara langsung ke hati ibu, seolah sedang menenangkan sahabat yang tengah menangis. Kalimat-kalimatnya singkat, tetapi sarat makna. Buku ini tidak perlu dibaca terburu-buru. Justru lebih tepat dibaca perlahan, halaman demi halaman, menyesuaikan kondisi hati pembaca.

Pada bagian akhir, buku ini kembali menegaskan pesan utamanya bahwa ibu itu kuat, meskipun sering kali tidak merasa demikian. Kuat bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi mampu bangkit meski lelah. Kuat bukan berarti tidak pernah menangis, melainkan tetap melangkah meski hati terluka. Buku ini mengajak ibu menghargai dirinya sendiri atas setiap usaha kecil yang telah dilakukan.

Secara keseluruhan, Ibu, Kita Kuat adalah pengingat lembut bahwa menjadi ibu merupakan perjalanan panjang yang penuh ujian, tetapi juga penuh pahala. Buku ini tidak menghakimi dan tidak menggurui, melainkan menemani. Sangat cocok dibaca oleh ibu rumah tangga, ibu bekerja, maupun calon ibu yang ingin menyiapkan hati sebelum menjalani peran besar dalam hidupnya.

Buku ini mengajarkan bahwa kekuatan ibu tidak selalu tampak dari luar, tetapi tumbuh dari hati yang terus berusaha bersabar, berdoa, dan berharap kepada Allah. Pada akhirnya, buku ini meninggalkan satu pesan sederhana namun mendalam: ibu tidak sendirian, dan ibu lebih kuat dari yang ibu kira.

[My]


Baca juga:

0 Comments: