Headlines
Loading...
𝗜𝗯𝘂𝗸𝘂, 𝗘𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗦𝘂𝗿𝗴𝗮𝗸𝘂

𝗜𝗯𝘂𝗸𝘂, 𝗘𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗦𝘂𝗿𝗴𝗮𝗸𝘂

Judul: Ibuku Engkaulah Surgaku
Karya: Sulaiman ash-Shuqair
Penerbit: Darul Haq
Tahun Terbit: 2019
Jumlah Halaman: 144 halaman
Peresensi: Emniswati

Keridaan Allah Swt. terletak pada keridaan seorang ibu. Di balik doa-doanya yang sunyi dan pengorbanannya yang tak terhitung, tersimpan keberkahan hidup dan jalan menuju surga bagi seorang anak. Tanpa bakti, hormat, dan kasih sayang kepada ibu, ketenangan hidup tak akan pernah sempurna.
(hlm. 45)

Buku Ibuku Engkaulah Surgaku karya Sulaiman ash-Shuqair merupakan karya yang sederhana secara bentuk, tetapi sangat dalam dari segi makna. Buku ini bukan sekadar rangkaian kata atau nasihat biasa, melainkan ungkapan cinta, penghormatan, dan pengakuan tulus terhadap sosok ibu sebagai anugerah terbesar dalam kehidupan manusia.

Melalui bahasa yang lembut, penuh perenungan, dan sarat nilai-nilai keislaman, penulis menghadirkan potret ibu sebagai sumber kasih sayang, ketulusan, dan pengorbanan tanpa batas. Penulis seakan menegaskan bahwa keberadaan seorang ibu merupakan bukti nyata kasih sayang Allah Swt. yang diturunkan dalam wujud manusia.

Sejak halaman awal, pembaca diajak merenungi betapa besar jasa seorang ibu. Sulaiman ash-Shuqair tidak menempatkan ibu hanya sebagai bagian dari lingkup keluarga, melainkan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari rahim seorang ibu lahir generasi, dan dari didikan serta doa-doanya tumbuh iman, akhlak, dan karakter seorang anak. Penulis mengingatkan bahwa ibu adalah sosok yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mimpinya demi kebahagiaan anak-anaknya. Dalam diamnya, ibu berdoa. Dalam letihnya, ibu tetap tersenyum. Dalam sakitnya, ibu masih memikirkan anak-anaknya. Semua itu digambarkan bukan sebagai beban, melainkan sebagai kemuliaan yang hanya dimiliki oleh seorang perempuan yang menyandang status sebagai ibu.

Keindahan buku ini terletak pada kemampuannya menyentuh hati tanpa bahasa yang berlebihan. Diksi yang digunakan terasa jujur, sederhana, dan mengalir dari hati penulis. Setiap paragraf seolah menjadi cermin yang memantulkan kenangan pembaca tentang ibunya masing-masing, tentang tangan yang selalu siap memeluk, suara lembut yang menenangkan, serta doa-doa yang diam-diam dipanjatkan di sepertiga malam.

Banyak pembaca akan merasakan dorongan emosional yang kuat, bahkan tidak jarang menitikkan air mata karena tersadar betapa seringnya jasa ibu terlupakan di tengah kesibukan hidup. Ash-Shuqair mampu mengangkat detail-detail kecil tersebut menjadi refleksi besar yang menggugah kesadaran batin seorang anak.

Lebih jauh, Sulaiman ash-Shuqair mengaitkan peran ibu dengan ajaran Islam secara mendalam dan menyentuh. Hadis Rasulullah saw. tentang “ibu, ibu, ibu, kemudian ayah” tidak sekadar dihadirkan sebagai kutipan, tetapi sebagai pengingat bahwa Islam menempatkan ibu pada derajat yang sangat tinggi dalam hierarki kemanusiaan.

Penulis mengajak pembaca untuk tidak berhenti pada pemahaman teoretis tentang keutamaan ibu, melainkan mengamalkannya dalam kehidupan nyata melalui adab-adab konkret. Menghormati ibu tidak cukup dengan ucapan manis, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, perhatian, kesabaran, dan bakti yang konsisten, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti cara menatap wajahnya atau mendengarkan ceritanya yang berulang.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menyadarkan pembaca bahwa waktu bersama ibu sangat terbatas. Penulis dengan lembut mengingatkan bahwa penyesalan sering datang terlambat, saat ibu telah renta, terbaring sakit, atau bahkan telah berpulang ke hadirat Allah Swt.

Pada bagian ini, Ash-Shuqair memberi penekanan kuat pada urgensi berbakti. Buku ini menjadi seruan batin agar setiap anak memperbaiki hubungannya dengan ibu, menahan ego, mengurangi kata-kata kasar, serta mengganti kelalaian dengan kasih sayang selagi kesempatan masih terbuka.

Dari segi gaya bahasa, buku ini menggunakan diksi yang puitis namun tetap mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Setiap bab terasa seperti nasihat seorang sahabat yang menuntun pembaca menuju kesadaran spiritual dan emosional yang lebih dalam. Tidak ada kesan menggurui, melainkan ajakan lembut untuk kembali kepada fitrah sebagai anak yang berbakti.

Secara keseluruhan, buku ini merupakan karya yang mampu menggugah hati dan memperhalus jiwa. Buku ini tidak hanya mengajak pembaca mencintai ibu, tetapi juga mensyukuri keberadaannya sebagai jalan menuju surga yang dijanjikan Allah Swt.

Pelalawan, 31 Desember 2025

[An]

Baca juga:

0 Comments: