Oleh: Ummu Fahhala
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
SSCQMedia.Com – Peradaban besar tidak lahir dari kebetulan sejarah, melainkan dari proses panjang pembentukan generasi. Dalam proses tersebut, ibu memegang peran yang sangat fundamental. Islam tidak memandang ibu sekadar sebagai pelaksana fungsi biologis dan domestik, melainkan sebagai pilar utama yang menentukan arah umat.
Dari rahim dan tarbiyah seorang ibu, lahir generasi yang dapat menjadi pengikut arus atau justru pemimpin peradaban. Di sinilah letak urgensi peran ibu sebagai pencetak generasi ideologis, yakni generasi yang hidup dengan visi Islam dan siap memikul amanah besar umat.
Peran ideal ibu dalam Islam adalah melahirkan generasi pemimpin yang tidak takut kepada siapa pun dan apa pun, kecuali kepada Allah Swt. Ketundukan hanya kepada Allah melahirkan keberanian, keteguhan prinsip, serta kemerdekaan berpikir.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 15 ditegaskan bahwa hakikat keimanan tidak berhenti pada pengakuan lisan, melainkan terwujud dalam keyakinan yang kokoh kepada Allah dan Rasul-Nya, tanpa keraguan, serta kesediaan berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah Swt.
Generasi seperti ini bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga visioner secara ideologis. Orientasi hidup mereka tidak berhenti pada kesuksesan dunia, melainkan terarah pada kehidupan akhirat. Ibu memiliki peran sentral dalam menanamkan visi tersebut sejak dini melalui pembiasaan nilai tauhid, keberanian membela kebenaran, serta kecintaan terhadap Islam sebagai sistem kehidupan.
Menjadi ibu pencetak generasi ideologis berarti memadukan peran keibuan dengan kewajiban dakwah. Ibu tidak hanya berfungsi sebagai pendidik keluarga, tetapi juga sebagai subjek dakwah yang memiliki kesadaran terhadap realitas umat. Kesadaran politik dalam Islam, yakni kesadaran untuk mengurusi urusan umat, menjadi fondasi penting dalam menjalankan peran ini.
Rasulullah saw. menegaskan dalam hadis riwayat Imam Muslim bahwa ketika seorang mukmin melihat kemungkaran, ia wajib mencegahnya sesuai kemampuan, dengan tindakan nyata, dengan nasihat lisan, atau jika tidak mampu, dengan penolakan dalam hati, yang merupakan tingkatan iman paling lemah.
Hadis tersebut menegaskan bahwa kepedulian terhadap kondisi masyarakat merupakan konsekuensi iman, bukan pilihan tambahan. Dengan kesadaran politik yang tinggi, seorang ibu mampu memberi ruh pada perannya, menghiasinya dengan cita-cita besar memimpin umat melalui generasi yang ia didik. Ia memahami bahwa kerusakan sosial tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari sistem yang menyimpang dari Islam.
Sejarah Islam memberikan banyak teladan tentang keberhasilan peran ibu dalam membentuk generasi unggul. Ibu Imam Syafi’i mendidik putranya dalam keterbatasan ekonomi, tetapi dengan keteguhan iman dan kecintaan pada ilmu, hingga lahir seorang mujtahid besar. Ibu Shalahuddin al-Ayyubi membesarkan anaknya dengan nilai jihad, tanggung jawab terhadap umat, dan keberanian, hingga ia menjadi pembebas Baitul Maqdis. Semua ini menunjukkan bahwa ibu merupakan aktor utama di balik bangkitnya tokoh-tokoh peradaban.
Namun, peran strategis ini menghadapi tantangan berat dalam sistem sekuler kapitalistik saat ini. Serangan pemikiran melalui konsep kesetaraan gender liberal, HAM versi Barat, dan moderasi beragama telah mengaburkan peran hakiki ibu. Islam direduksi menjadi urusan privat, sementara peran ideologis ibu kerap dianggap berlebihan atau bahkan ekstrem.
Allah Swt. memberikan peringatan tegas dalam QS. Al-Anfal ayat 73 bahwa orang-orang kafir saling melindungi dan menguatkan satu sama lain. Jika kaum Muslimin mengabaikan perintah Allah, maka akan muncul kekacauan di muka bumi serta kerusakan yang meluas.
Serangan dunia digital semakin memperparah kondisi ini. Anak-anak terpapar nilai sekuler sejak usia dini, sementara sistem ekonomi kapitalisme memaksa perempuan memikul beban ganda. Negara lepas tangan dari tanggung jawab menyejahterakan keluarga, sehingga peran ibu semakin tergerus oleh tuntutan ekonomi.
Di tengah situasi tersebut, peran riil ibu harus dimulai dengan penetapan visi pendidikan yang jelas, yakni menjadikan anak sebagai hamba Allah, khalifah di muka bumi, dan bagian dari khairu ummah.
Allah Swt. menegaskan kehendak-Nya untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, sosok yang memikul amanah kepemimpinan serta tanggung jawab moral atas kehidupan (QS. Al-Baqarah: 30).
Oleh karena itu, peran ibu menuntut keteladanan yang nyata. Pendidikan paling efektif bukan sekadar nasihat, melainkan contoh hidup dalam keseharian. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, sementara arah keyakinan dan kepribadiannya sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan nilai yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, upaya ini tidak boleh berhenti pada level keluarga semata. Ibu pencetak generasi ideologis harus terlibat dalam perjuangan mengubah sistem kapitalisme sekuler yang rusak dan merusak menuju sistem Islam yang adil dan menyejahterakan. Hanya dengan sistem Islamlah peran ibu dimuliakan dan generasi ideologis dapat tumbuh secara utuh.
Menjadi ibu pencetak generasi ideologis memang merupakan amanah besar. Namun, di sanalah letak kemuliaannya. Dari ibu-ibu yang sadar ideologi, masa depan umat ditentukan dan peradaban Islam kembali ditegakkan.
[My/Wa]
Baca juga:
0 Comments: