Headlines
Loading...
Hikmah Isra Mikraj yang Terabaikan di Era Sekuler-Demokrasi

Hikmah Isra Mikraj yang Terabaikan di Era Sekuler-Demokrasi

Oleh: Siti Aisyah
(Aktivis Dakwah)

SSCQMedia.Com—Peringatan hikmah Isra Mikraj 2026 menjadi momen penting bagi umat Islam untuk merenungkan kembali makna mendalam dari peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad saw. Peristiwa spiritual yang luar biasa ini diperingati pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriah.

Momentum ini mengandung nilai-nilai spiritual yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan di era modern. Memahami hikmah Isra Mikraj 2026 tidak hanya sebatas mengingat peristiwa sejarah, tetapi juga menggali pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Liputan.com, 10/01/2026).

Isra Mikraj: Peristiwa Agung dalam Realitas Syariat yang Terabaikan

Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan fisik dan ruhani Nabi, melainkan peristiwa yang mengandung pesan besar tentang hubungan manusia dengan Allah serta konsekuensi ketaatan dalam kehidupan nyata.

Namun, ironi kerap muncul setiap kali peristiwa ini diperingati, diagungkan, dikenang, dan dirayakan, sementara pesan syariat yang lahir darinya justru sering terabaikan. Salat yang disyariatkan langsung oleh Allah melalui peristiwa Isra Mikraj seharusnya menjadi titik tolak perubahan individu dan masyarakat. Sayangnya, syariat kerap berhenti sebagai simbol ritual, bukan sebagai pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Sekuler-Demokrasi: Titik Tolak Kesengsaraan

Salah satu penyebab utama terabaikannya syariat Islam adalah dominasi sistem sekuler-demokrasi. Sistem ini memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik dan membatasi Islam hanya pada ranah ibadah personal. Akibatnya, hukum Allah tidak lagi menjadi rujukan utama dalam mengatur ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial.

Sekuler-demokrasi menempatkan kedaulatan di tangan manusia, bukan pada syariat Allah. Nilai benar dan salah ditentukan oleh suara mayoritas, bukan oleh wahyu. Inilah titik tolak berbagai kesengsaraan yang menimpa umat manusia hari ini, mulai dari ketimpangan ekonomi, kerusakan moral, krisis keadilan, hingga konflik kemanusiaan yang terus berulang. Ketika hukum Allah disingkirkan, manusia kehilangan arah dan keadilan sejati.

Memandulkan Syariat Islam

Dalam kondisi seperti ini, syariat Islam seolah menjadi mandul. Bukan karena syariat lemah atau tidak relevan, melainkan karena tidak diterapkan secara menyeluruh. Syariat hadir dalam teks dan wacana, tetapi tidak melahirkan dampak nyata dalam kehidupan.

Syariat yang seharusnya menjadi solusi justru tereduksi menjadi identitas dan formalitas semata. Umat Islam diajak taat secara individual, tetapi dilarang menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan. Akibatnya, umat terus berada dalam krisis meski memiliki ajaran yang sempurna. Inilah kontradiksi besar yang seharusnya disadari dalam momentum Isra Mikraj.

Solusi dalam Islam

Hikmah Isra Mikraj seharusnya menjadi titik balik kesadaran umat. Peristiwa ini menegaskan bahwa keimanan tidak dapat dipisahkan dari ketaatan terhadap syariat. Salat bukan sekadar ibadah ritual, melainkan sarana pembentuk karakter dan peradaban. Demikian pula syariat Islam, ia bukan hanya mengatur ibadah, tetapi juga menjadi sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Solusi atas berbagai persoalan umat bukanlah dengan menyesuaikan Islam pada sistem sekuler, melainkan dengan kembali menjadikan Islam sebagai rujukan utama kehidupan. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh merupakan jalan untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kemuliaan umat manusia.

Peringatan Isra Mikraj 2026 hendaknya tidak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum muhasabah kolektif. Sudah sejauh mana umat menjadikan syariat Islam sebagai pedoman hidup.

Selama syariat masih terabaikan, selama itu pula umat akan terus berada dalam kesengsaraan. Isra Mikraj mengajarkan satu pesan tegas bahwa keimanan sejati menuntut ketaatan total terhadap hukum Allah. [US/UF]

Baca juga:

0 Comments: