Headlines
Loading...
Hegemoni Digital: Penjajahan Kapitalisme atas Generasi Muda

Hegemoni Digital: Penjajahan Kapitalisme atas Generasi Muda


Oleh: Khamsiyatil Fajriyah
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com - Kehidupan generasi muda hari ini tidak bisa dilepaskan dari dunia digital. Media sosial, game online, dan berbagai platform digital telah menjadi ruang utama aktivitas mereka. Namun, di balik kemudahan dan hiburan yang ditawarkan, dunia digital sejatinya bukan ruang yang netral. Ia merupakan instrumen dominasi kapitalisme global yang menjajah generasi muda dengan cara baru.

Teknologi digital lahir dan berkembang dalam sistem kapitalisme. Platform digital raksasa dikendalikan oleh korporasi yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Anak muda tidak dipandang sebagai manusia yang harus dibina, melainkan sebagai pasar dan komoditas. Data, perhatian, serta waktu mereka diperdagangkan demi akumulasi kapital.

Melalui algoritma, kapitalisme digital menanamkan nilai-nilai sekularisme, liberalisme, dan hedonisme secara masif. Konten hiburan dangkal, budaya pamer, kebebasan tanpa batas, serta konsumerisme terus diproduksi dan dipromosikan. Tanpa disadari, pola pikir dan gaya hidup generasi muda diarahkan menjauh dari Islam sebagai panduan hidup.

Inilah bentuk penjajahan paling berbahaya. Tanpa senjata dan tanpa penjajah fisik, kapitalisme berhasil menguasai cara berpikir generasi. Akibatnya, lahir generasi yang rapuh secara mental, mengalami krisis identitas, kehilangan tujuan hidup, serta semakin jauh dari ketaatan kepada Allah Swt.

Berbagai solusi parsial kerap ditawarkan, seperti literasi digital atau imbauan agar bijak bermedia sosial. Namun, solusi ini tidak menyentuh akar persoalan. Masalah utamanya bukan terletak pada individu semata, melainkan pada sistem kapitalisme yang mengatur teknologi dan media. Selama dunia digital tunduk pada logika keuntungan, kerusakan generasi akan terus berlanjut.

Islam memandang generasi muda sebagai aset strategis umat dan peradaban. Oleh karena itu, perlindungan terhadap mereka tidak bisa diserahkan kepada mekanisme pasar. Dalam sistem Khilafah, negara berfungsi sebagai ra‘in atau pengurus yang bertanggung jawab menjaga akidah, akhlak, dan pemikiran umat, termasuk dalam pengelolaan teknologi dan media.

Khilafah menempatkan teknologi sebagai sarana kemaslahatan, bukan alat penjajahan. Media, pendidikan, dan ruang publik digital diatur agar selaras dengan nilai-nilai Islam. Lingkungan sosial dibangun secara terpadu melalui peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara dalam satu visi untuk membentuk kepribadian Islam yang kuat. Dengan fondasi akidah yang kokoh, generasi muda tidak mudah terombang-ambing oleh arus digital yang merusak.

Di sinilah peran strategis anak muda menjadi sangat penting. Sejarah Islam dan sejarah peradaban membuktikan bahwa perubahan besar selalu digerakkan oleh generasi muda yang sadar dan berprinsip. Aktivisme pemuda hari ini harus diarahkan pada perjuangan pemikiran, yaitu membongkar kebatilan kapitalisme digital dan mengokohkan keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya sistem yang mampu menyelamatkan manusia.

Anak muda tidak boleh terus menjadi korban hegemoni digital. Mereka harus bangkit sebagai pelopor perubahan, menyadari peran strategisnya, serta mengambil bagian dalam perjuangan menegakkan sistem Islam secara kafah. Sebab, masa depan umat dan peradaban berada di tangan generasi yang hari ini sedang dijajah secara halus oleh kapitalisme digital. Wallahualam bissawab. [US]

Baca juga:

0 Comments: